Kategori
Ceritaku

Pendidikan Karakter? Guru Butuh Dukungan.

Sumber Gambar : pixabay.com

Degradasi moral anak bangsa selalu menarik untuk diperbincangkan oleh berbagai kalangan, bagaimana tidak, berita dari berbagai media massa dan berbagai akun media sosial memaparkan dengan gamblang  tindakan anak sekolah yang  membuat masyarakat sering sapu dada atau bahkan memukul dahi sendiri, jika mendengar atau bahkan melihat aksi mereka yang sering bertingkah seperti tidak menggambarkan sikap anak sekolah.

Jika diamati, kemajuan teknologi, membuat mayoritas Orangtua dan siswa (i) hanya fokus untuk melatih otak secara intelektual, dengan harapan mampu bekerja setelah lulus sekolah. Hal ini dilakukan dengan pemikiran bahwa Karakter bisa terbentuk dari dogma yang didapatkan dalam keluarga dan kegiatan keagamaan.

Hal ini tentunya sedikit keliru, mengapa? Karena perkembangan zaman telah membuat siswa (i) mudah melupakan atau mengabaikan ajaran-ajaran, sehingga penambahan pendidikan Karakter perlu diajarkan di sekolah.

Lalu muncul pertanyaan, apakah perbedaan pendidikan intelektual dan pendidikan karakter?

Yang mana yang paling diutamakan, pendidikan intelektual atau pendidikan karakter?

Pendidikan intelektual membahas tentang kecerdasan, kemampuan, keterampilan anak berfikir untuk menyelesaikan tugas, mengembangkan ide kreatif dan inovatif, sehingga anak mampu menghasilkan karya, minimal hasil kreatifitas dari pengembangan tugas sekolah.

Pendidikan karakter berhubungan erat dengan psikis individu atau kepribadian. Pendidikan karakter mengajarkan tentang  pandangan terhadap nilai-nilai kehidupan, contohnya kejujuran, keperdulian, tanggung jawab, percaya diri, kerja sama,  toleransi dan lain-lain.

Bapak Pendidikan Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa ruh pendidikan adalah Karakter. Lanjut, beliau menuturkan bahwa pendidikan harus mampu menuntun tumbuhnya karakter dalam hidup sang anak (siswa (i)), agar supaya mereka kelak menjadi manusia yang memiliki pribadi yang beradab dan susila.

Melihat dua penjelasan antara pendidikan intelektual dan pendidikan karakter dapat disimpulkan bahwa siswa (i) butuh kedua-duanya, siswa yang memiliki kecerdasan intelektual  namun, tidak diimbangi dengan karakter yang baik akan sia-sia. Bisa saja, kecerdasannya dapat digunakan salah, karena tidak memiliki karakter yang baik, dan sebaliknya.

Implementasi pendidikan karakter sering kandas oleh banyak faktor. Internet atau sumber informasi merupakan alat yang begitu mudah diakses.

Mencontohi aksi para pelaku seni dalam siaran program Televisi seperti sinetron tanpa bimbingan orangtua, Youtube dan yang tak kalah parahnya berasal dari orang-orang yang dianggap sebagai panutan dalam organisasi, agama atau lingkungan mereka membuat moral siswa (i) menjadi menurun.

Belum hilang dari ingatan kita, para panutan mengajak anak sekolah untuk mengikuti demo yang berakhir anarkis, serta ucapan-ucapan para panutan yang mudah merendahkan kepercayaan orang lain, para pimpinan dan bahkan merendahkan perempuan dengan mengeluarkan kata-kata kotor di depan khalayak ramai.

Hal ini sangat ironic. Pendidikan karakter digaungkan di sekolah-sekolah, Guru-guru berusaha membuatnya dalam perangkat mengajar, lalu mempraktekkan dan mengajarkannya, namun dengan mudahnya, para panutan menggaungkan hal-hal yang bertentangan dengan pendidikan karakter yang sesungguhnya.

Miris. Yah,  kata inilah yang patut menggambarkan betapa program pendidikan karakter ini akan sia-sia, jika tidak ada dukungan dari berbagai pihak.

Sepertinya, pendidikan karakter hanya program pemerintah saja untuk membelanjakan uang negara dalam bentuk  pelatihan yang berhubungan dengan hal ini, namun hasil akhirnya tidak ada dan tidak diperdulikan oleh siapapun.

Kekuatan para panutan lebih besar, sehingga tak ada yang berani menghentikan atau melakukan upaya keras terhadap mereka yang memberikan contoh buruk.

Semua orang tau bahwa siswa (i) adalah penerus bangsa, lalu apa jadinya negara ini, jika kebiasaan tak baik seperti ini terus-menerus mereka dengar dan lihat?.

Tak adakah tindakan keras melalui dunia pendidikan atas perilaku yang bertentangan dengan program pendidikan karakter?.  bukankah fenomena pendidikan karakter di negara ini dapat berkembang lebih baik, jika ketegasan, keadilan dapat ditegakkan?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kategori
Guru

Siapa Sih Master Pendidikan Yang Sebenarnya?

Pendidikan adalah prioritas kedua setelah kesehatan. Pendidikan adalah upaya untuk menghasilkan anak didik yang kreatif dan inovatif. Dengan memberikan bekal pendidikan yang baik, maka diharapkan sekolah menghasilkan lulusan yang memiliki daya saing yang mampu bersaing secara kompetitif.

Lulusan yang hebat, tidak hanya berasal dari Orangtua yang hebat, tetapi juga berasal dari sekolah yang memiliki  Guru yang profesional. Guru yang mampu melihat situasi perkembangan Pendidikan dan Guru yang selalu mengupayakan hal kreative dan inovatif dalam pengajaran.

Tak bisa dipungkiri bahwa Pandemi ini membuat Guru menjadi sorotan oleh publik. Kinerja Guru sedang dipertanyakan. Banyak orang hanya melihat disatu sisi saja tentang peran Guru selama siswa belajar dari rumah. Hal ini disebabkan karena peran Guu sebagian dilakukan oleh Orangtua di rumah.

Perlu disadari bahwa eksistensi Guru tetap sama seperti sebelum Pandemi. Guru tetap melaksanakan tugasnya yaitu mengajar dari rumah, bahkan bagi siswa (i) yang tidak memiliki fasilitas akan diupayakan untuk beberapa kali melakukan tatap muka di sekolah, namun dengan tetap melaksanakan protokol Covid-19.

Mengajar dari rumah, Guru tetap dihadapkan dengan berbagai kendala, kesulitan dan tantangan, namun dengan situasi dan kondisi berbeda. Dimana sebelum Pandemi, kendalanya berada di sekolah, namun sekarang tentang fasilitas siswa (i), kedisiplinan dalam mengikuti anjuran Guru, Ketidaktaatan dalam melaksanakan Standar Operational Procedur (SOP)  sebelum belajar online dan lain-lain.

Untuk mengatasi kendala yang muncul dalam setiap pengajaran, Guru memiliki cara mengatasinya. Lalu muncul pertanyaan, bagaimana bisa Guru dapat mengatasi masalah yang muncul dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Pertanyan ini adalah pertanyaan yang sekaligus bisa sedikit mengklarifikasi pertanyaan yang serupa yang sering dilontarkan oleh para Orangtua siswa (i). 

Sebelum menjadi Guru, calon Guru harus melalui banyak tahap, mulai dari kuliah mengambil jurusan Pendidikan dan sebelum lulus, harus mengikuti Program Pengalaman Lapangan (PPL), juga setelah lulus harus mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan juga pelatihan-pelatihan untuk mempelajari hal terbaru seputar Pendidikan yang akan menjadi bekal Guru untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab.

Dari pengalaman seperti demikianlah Guru mendapatkan banyak bekal untuk mengatasi masalah atau kendala yang muncul dalam melaksanakan tugas profesi menjadi tenaga pendidik.

Dengan kegiatan seperti demikian membuat para pengawas berpendapat bahwa master Pendidikan adalah Guru itu sendiri. Guru yang bisa melihat situasi, keadaan siswa di lapangan dan mampu menggunakan berbagai cara, strategi dan metode dalam menangani masalah atau kendala yang muncul.

Menurut maxmanroe.com, Guru adalah seorang tenaga pendidik profesional yang mendidik, mengajarkan suatu ilmu, membimbing, melatih, memberikan penilaian, serta melakukan evaluasi kepada peserta didik. Menurut Purwanto (1997:138) dalam gurupendidikan.co.id mengatakan bahwa Guru adalah Orang yang diserahi tanggung jawab sebagai pendidik di lingkungan sekolah adalah Guru.

Berdasarkan defenisi diatas dapat diartikan bahwa Guru adalah pendidik memiliki tangung jawab untuk membimbing, melatih, menilai siswa (i) di  Sekolah yang memiliki kemampuan yang profesional minimal dalam bidangnya.

Hal seperti juga yang memberi nilai bahwa Guru yang profesional adalah seorang master, karena memiliki kemampuan dari bekal ilmu yang telah diperoleh dari berbagai sumber temasuk sumber yang berasal dari siswa (i).

Pada saat mengajar, secara tidak langsung, Guru mendapatkan ilmu dari siswa dimana hal demikian menjadi sumber penelitian tindakan kelas (PTK) yang sekaligus dapat digunakan untuk naik golongan.

Sejatinya, semua Guru adalah master pendidikan. Guru yang selalu mengasah diri menjadi pribadi yang baik untuk siswa (i).