Sekolah

Langkah Tegap Maju Jalan, Pulang-Pulang Juara Harapan.

Bulan Agustus telah tiba. Atmosfer kompetisi grak jalan telah membakar semangat warga Kota Jayapura melalui perlombaan ini. Di setiap sudut instansi, terdengar teriakan lantang, “Kiri! Kanan! Kiri! Kanan!” yang bersahutan dengan bunyi peluit kanan, kanan, kiri, kiri. Ya, ini adalah musim sakral lomba gerak jalan instansi dan lain-lain.

Persiapan tim kami tidak main-main. Dua minggu penuh kami berlatih keras dari sore hingga magrib. Tim sekolah kami baik tim guru putra dan putri, juga tim siswa-siswi mengorbankan waktu tidur siang demi menyamakan ayunan tangan dan langkah kaki.

Pimpinan kami bahkan membeli seragam kaus olahraga warna kuning untuk putri dan biru untuk putra yang bisa menyala saat matahari terik. Konon, warna ini bisa silaukan pandangan juri agar memberi nilai penuh.

Perlombaan hari Jum’at, 07 Agustus 2026. Tim kami SMK NEGERI 3 TEKNOLOGI DAN REKAYASA JAYAPURA berdiri di garis start dengan dada membusung. Langkah kami tegap gagah, persis seperti pasukan elite Romawi yang siap menaklukkan medan perang hanya saja kami tanpa pedang.

Pandangan lurus ke depan tanpa senyuman manis, atau senyum terkunci, dan dagu diangkat tinggi-tinggi. Saat bendera start dikibarkan, kami melesat maju dengan hentakan kaki yang sanggup menggetarkan aspal jalan kantor Walikota.

Satu kilometer pertama berjalan sangat mulus tanpa gangguan. Formasi tim kami masih simetris dan rapi. Namun, memasuki kilometer ketiga, ujian keimanan dimulai goyang. turunan dan tanjakan beserta aroma masakan membuat konsentrasi tim mulai sedikit goyah.

Langkah yang tadinya tegap, perlahan berubah menjadi langkah tegang. Ayunan tangan yang semula kompak setinggi dada, kini mulai turun drastis menjadi sekadar usaha mempertahankan hidup. Barisan depan jalan cepat, barisan tengah mulai joget tipis-tipis, sedangkan barisan belakang sudah pasrah (bagian ini hanya tambahan, agar sedikit lucu).

Saat memasuki halaman kantor Gubernur  Provinsi utama, kami mencoba mengerahkan sisa-sisa tenaga. Komanda regu berteriak, “Beri hormaaaaat, grak!” Kami menoleh ke arah juri dengan sisa tenaga yang ada. Sayangnya, karena saking lelahnya, muka kami bukan terlihat penuh hormat, melainkan tampak seperti orang yang sedang menahan kehabisan bersin.

Setelah itu,  kami bubar dan beristirahat di halaman beserta seluruh peserta sambil menikmati gorengan dan minuman hangat dan minuman dingin sambil berfoto ria.

Malam harinya adalah momen melihat nilai yang telah dirangkum oleh para juri secara online. Ini adalah hal yang paling dinanti.

Harapan hampir pupus. Kami sudah bersiap gulung tikar dan pulang membawa betis yang pegal linu. Namun tiba-tiba, seorang rekan guru membagikan hasil di WA grup sekolah kalau tim Guru Putri meraih harapan 1. Seketika grup menjadi ramai dengan ucapan dan jempol selamat dari para dewan guru.

Seluruh anggota tim bersorak gembira seolah-olah baru saja memenangkan piala dunia, walau sudah berada di rumah masing-masing.

Pesan moral dari lomba ini sangat jelas: tidak perlu jadi yang nomor satu untuk bisa bahagia. Lagipula, juara harapan itu sangat mulia. Artinya, panitia masih menaruh harapan besar agar tahun depan betis kami tidak ambyar lagi di tengah jalan.

Baca Juga :

Terima kasih atas ilmu yang kau berikan

Delyana Tonapa

I am Delyana