Mengapa Siswa Indonesia Kurang Membaca?
![]()
Siswa Indonesia sedang krisis literasi. Mungkin ini masih sering diperbincangkan tentang alasan mengapa masalah ini sulit diatasi. Beberapa asumsi menyatakan karena faktor kebiasaan sejak kecil, namun ada juga yang berpendapat bahwa hal tersebut terjadi karena contoh dari lingkungan.
Orang-orang di sekitar sangat mempengaruhi perkembangan dan kebiasaan. Siswa jarang melihat orang tua atau orang dewasa di sekitarnya gemar membaca atau menulis mempengaruhi rutinitas yang kurang minat literasi.
Masalahnya Bisa Jadi Bukan Minat, tapi Akses
Masalahnya tidak hanya sampai di situ, tetapi tentang akses bahwa hambatan terbesar siswa bukan karena malas membaca atau pengaruh lingkungan saja, melainkan sulitnya mendapatkan akses buku yang dibutuhkan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat bahkan di lingkungan sekolah.
Dengan perkembangan teknologi, pasokan buku di rumah tidak lagi sama seperti era digital semakin berkembang. Saat itu, buku merupakan salah satu pajangan di dalam lemari yang bisa digunakan untuk menunjukan status sosial dan kekayaan, menampilkan intelektualitas pendidikan atau sebagai pemantik percakapan dengan tamu.
Dalam masyarakat,bahan bacaan bisa dijumpai di tempat keagamaan, balai kemasyarakatan atau taman bacaan rakyat, atau di rumah para tuan tanah yang menjadi koleksi orang kaya, sehingga saat berkunjung, tamu akan disugguhkan dengan bahan bacaan yang bervariasi, mulai dari buku anak-anak hingga buku Sejarah.
Lingkungan sekolah juga penuh dengan buku, seperti di perpustakaan sekolah, sudut bacaan kelas, ruang guru, laboratorium sekolah, bahkan di koperasi sekolah dan hingga kini masih tersedia, namun koleksi buku bacaan tidak seperti dulu. Ini terjadi, karena peralihan ke format digital, penyesuaian dengan kurikulum baru, penyedian pojok bacaan yang fleksibel dan lain-lain.
Akses buku yang tidak sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa sering kali menjadi momok yang tak bisa dibendung. Buku yang terlalu banyak menumpuk diperpustakaan, karena tidak sesuai dengan kebutuhan mereka membuat ruangan terlihat tidak nyaman, karena keberadaan buku yang sudah tidak sesuai dengan capaian pembelajaran.
Buku-buku tersebut sebenarnya bisa dijadikan referensi, namun jika dalam jumlah banyak, tentu ini akan mengurangi minat siswa untuk membaca atau meminjam buku bacaan yang tidak berkualitas.
Buku Pelajaran Sekolah Hanya Boleh Dipinjam Tidak Jadi Hak Milik Siswa. Dana BOS
Barang inventaris tidak boleh dihibahkan atau diberikan secara cuma-cuma menjadi milik pribadi (perorangan), melainkan harus dirawat dan dipertanggungjawabkan oleh pihak sekolah. Buku pelajaran dirancang dengan sistem hak pinjam pakai. Setelah siswa naik kelas atau lulus, buku tersebut dikembalikan ke perpustakaan dalam kondisi baik agar bisa digunakan kembali di tahun ajaran berikutnya.
Persoalannya, perubahan Capaian Pembelajaran cendrung mengalami perubahan dan mempengaruhi Indikator dari Tujuan Pembelajaran, sehingga materi juga mengalami perubahan. Hal ini yang membuat buku pelajaran yang tersedia sedikit diabaikan dan guru memilih membuat bahan ajar.
Persoalan ini yang membuat buku pelajaran hanya numpuk di perpustakaan dan membuat ruangan terlihat penuh, bahkan buku-buku tersebut banyak di meja guru dan ruang kelas.
Perlu Ada Kebijakan Perubahan Aturan Buku Pelajaran
Perubahan kebijakan dari hanya hak pakai menjadi hak milik siswa diperlukan untuk meningkatkan efektivitas dan kontinuitas belajar di rumah dan mendorong budaya literasi di lingkungan keluarga, sehingga fungsi utama buku sebagai penyedia pelajaran yang terstruktur dan sarana evaluasi mandiri dapat terwujud.
Ada Akses, Minat Baca Bisa Meningkat
Siswa yang tidak suka membaca sebenarnya ingin membaca jika tidak terhalang oleh faktor ekonomi atau kebijakan penggunaan buku di sekolah. Keberadaan buku yang selalu terlihat di dekat siswa (di meja, tas, atau kamar) secara psikologis meningkatkan peluang buku tersebut untuk dibuka dan dibaca, namun, berbeda jika di sekolah, buku pelajaran hanya akan digunakan saat belajar, selebihnya tidak akan tersentuh, karena bersosialisasi dan beraktivitas saat di sekolah adalah hak siswa untuk bertumbuh.
Baca Juga :