Kekuatan Kata: Tolong, Maaf Dan Terima Kasih.

Sumber Gambar : iStockphoto

“siswa tidak tau etika”.

“Tidak tau bersyukur”.

“kasar amat yah”.

Mungkin anda pernah dikomentari orang dengan pernyataan seperti demikian, tetapi apakah anda pernah menyadari bahwa anda telah menyinggung hati orang lain?

Generasi  Y (Generasi milenial), Generasi Z dan Generasi Alpha adalah Generasi yang melek teknologi. Generasi yang sangat manja karena teknologi yang secara tidak sadar, teknologi telah mengeser sedikit demi sedikit tata krama dalam masyarakat.

Tidak jarang Guru, Orangtua merasa kecewa dengan sikap siswa atau anak zaman sekarang yang kurang menghargai orang di sekitarnya. Yah, betul. Anak zaman sekarang memiliki sikap agak berbeda dengan anak zaman dulu, dimana etika sangat diutamakan, Generasi sekarang terbawa oleh peradaban yang begitu cepat, akan tetapi perlu diingat bahwa ada hal-hal yang tidak bisa sepenuhnya dihilangkan karena perkembangan zaman.

Dunia membutuhkan manusia yang beradap, lalu bagaimanakah manusia bisa menyesuaikan diri jika tidak memiliki etika?

Orang-orang yang masih menjunjung tinggi etika dalam masyarakat adalah Generasi  X, Generasi Baby Boomer dan  Generasi Tradisionalis. Pada saat mereka masih kecil, mereka sudah diajarkan untuk menghormati orang lain khususnya orang yang lebih tua dari mereka, sebagai contoh: anak-anak tidak dibolehkan mendengar percakapan orang dewasa/orangtua, anak-anak diajarkan untuk selalu mengucapkan kata “tolong”  jika meminta bantuan kepada siapapun termasuk kepada seorang  pembantu sekalipun.

Di zaman sekarang berbeda total dengan zaman dulu,  para siswa (i) dan para Generasi sekarang malah merasa bangga bila berhasil memerintah orang di hadapan orang lain dengan alasan dia adalah Bos atau merasa  lebih baik dari orang yang diperintahnya, padahal menurut Generasi sebelumnya, hal seperti demikian  tidaklah pantas.

Contoh: Seorang wanita dengan sengaja menyuruh temannya mengangkat tasnya dan menaruhnya di dalam mobilnya sambil menunjuk tanpa mengucapkan kata tolong.

Well…..dalam keadaan mendesak orang akan menolong, tetapi apakah cara demikian membawa rasa damai di hatinya? dan bagaimana penilaian beberapa orang yang melihatnya? Apakah orang akan menilai dia  lebih baik, lebih hebat dari orang yang diperintah?

Hal serupa juga adalah betapa susahnya meminta maaf,  dimana manusia sering melakukan kesalahan, baik disengaja maupun tidak disengaja. Meminta maaf adalah hal yang tidak terlalu penting lagi, malah tidak menghiraukan orang lain merasa tersinggung atau terluka.

Sebagai contoh: seorang pria tidak sengaja menginjak kaki orang lain, lalu setelah pria tersebut sadar, dia hanya memindahkan kakinya dengan cuek tanpa meminta maaf, begitu juga kadang siswa tidak sengaja menyenggol Gurunya dan siswa hanya pindah begitu saja tanpa meminta maaf.

Lalu jika kita amati hal demikian, kira-kira dimana rasa respect antara sesama manusia?

Kata yang tak kalah pentingnya adalah terima kasih. Contoh: seorang ibu tidak sengaja menjatuhkan bukunya dan secara spontanitas seorang siswa langsung mengambilkan buku tersebut dan memberikannya kepada ibu tersebut, lalu ibu itu hanya mengambil buku, cuek lalu pergi.

Hello…………. Bukan berarti ibu tersebut berumur lebih tua lalu tidak menghargai atau tidak memberikan contoh yang baik kepada yang masih muda kan?.

Ok . Ada yang berpendapat bahwa tidak dibilangi terima kasih juga fine, mungkin anak tersebut tidak perduli dengan sikap ibu tersebut, tetapi apa akibatnya jika terlalu sering tidak berterima kasih, sering memberikan contoh yang buruk kepada anak muda, bagaiman dunia ini jika mayoritas dihuni oleh orang tidak bisa berterima kasih? Tidak bisa berterima kasih kepada manusia dan kepada bumi?

Menurut Robert A Emmons, seorang professor psikologi dari Universitas California mengatakan bahwa rasa berterima kasih bisa secara signifikan meningkatakan kebahagiaan. Berarti jika orang yang tidak terbiasa berterima kasih berarti orang tersebut adalah orang yang kurang bahagia?  Berarti bisa dipastikan jika orang yang kurang bahagia, kurang bersyukur akan identik dengan problema hidup.

Perlu disadari  kata tolong, maaf dan terima kasih adalah kata-kata yang sederhana, namun memiliki makna yang besar. Sering menggunakan tiga kata tersebut dalam bersosialisasi tidak membuat siapapun rendah, malah akan menjadikan diri more human.

Hal yang bisa dinilai adalah untuk membedakan siswa dan anak yang tidak bersekolah adalah bagaimana anak tersebut beretika dengan minimal menggunakan kata-kata sederhana demikian.

Amatilah, tidak sedikit orang yang tidak berpendidikan  terlihat smart karena beretika.

Biasakanlah menanamkan kebiasaan menggunakan tiga kata tersebut dan lihatlah bagaimana diri anda sebagai siswa, anak atau masyarakat jika terus menerapkannya.