Kategori
Guru, Siswa dan Orangtua Siswa

Pro Dan Kontra Bersekolah Di Tengah Pandemi.

Kembali menjalankan tugas sebagai tenaga pendidik setelah lama tidak melaksanakannya adalah kegiatan yang selalu ditunggu-tunggu, namun berbeda dengan keadaan sekarang, sejak adanya Covid-19, hal ini menjadi perdebatan sengit di dunia Pendidikan dan masyarakat.

Pandemi ini sangat mempengaruhi berbagai aspek, khususnya dunia pendidikan. Kontradiksi bahkan perang opini antara tenaga pendidik dan antara masyarakat terus bergulir sehingga titik terang belum didapatkan.

Mentri Pendidikan Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. terus berkoordinasi dengan pakar-pakar dan Gugus Tugas Covid-19 dan hingga kini belum mengambil keputusan apapun. Hal ini disampaikan di komisi X DPR, di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2020.

Ada beberapa pendapat yang terus diperdebatkan antara tenaga pengajar dan antara masyarakat, yaitu :

Sekolah bisa diaktifkan kembali jika sudah diperbolehkan oleh Mentri Pendidikan atau bahkan oleh President, walau vaksin belum ditemukan, dengan pertimbangan sebagai berikut:

Per kelas hanya boleh diisi 6 hingga 7 siswa saja, tetapi durasi waktu dipersingkat sekitar dua atau tiga jam per hari, dan dilakukan dua atau tiga kali dalam seminggu dan selebihnya belajar online di rumah, tetapi tetap dalam pengontrolan Guru.

Opini ini diambil agar pengajaran selama Pandemi bisa dilakukan secara merata, tidak ada lagi alasan dari berbagai pihak bahwa tidak memiliki fasilitas Handphone, paket data atau komputer untuk study from home karena tetap ada kegiatan tatap muka dengan Guru mata pelajaran, juga Guru tetap merasa puas bisa menjelaskan secara langsung materi yang diajarkan sebelum siswa pulang membawa tugas yang dikerjakan di rumah dan konsultasi atau mengumpulnya secara online.

Jika mengawatirkan siswa akan tertular, lalu muncullah beberapa pertanyaan ; bagaimana dengan anggota keluarga di rumah yang juga tetap beraktivitas? Apakah adil bagi mereka yang selalu berada di rumah dalam jangka waktu yang tidak menentu? bagaimana dengan kejiwaan siswa yang terus menerus berada di rumah tanpa bersosialisi dengan orang luar? Mengapa tidak menerapkan aturan pemerintah untuk selalu jaga jarak dan mengunakan pelindung jika terpaksa beraktivitas di luar?

Harus ada aksi besar dari Dinas Pendidikan setempat, para pimpinan sekolah untuk menambah guru piket, para tenaga pendidik, dan orang tua untuk mengoptimalkan pencegahan virus.

Pendapat kedua adalah tetap belajar dan mengajar dari rumah hingga Covid-19 benar-benar tidak ada lagi bumi ini, atau hingga vaksin sudah dipatenkan. Jika berbicara tentang vaksin, esensialnya membutuhkan waktu lama untuk bisa dipatenkan, sejak bulan Desember 2019, seluruh ilmuan dunia bekerja keras untuk menemukan vaksin virus ini, namun belum ada satu negara memberikan hasil yang sangat memuaskan.

Pendapat ini diambil karena begitu besar kekhawatiran akan tertular atau menularkan, dan tidak ingin jika klaster sekolah menjadi penyebaran Virus.

Apapun pandangan yang ada, jika hal ini dihadapkan kepada tenaga pendidik, sebaiknya mengikuti aturan saja termasuk mematuhi aturan untuk menjaga jarak dan menggunakan pelindung, terkecuali sedang berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan sperti mengalami sakit yang serius.

Belum hilang dari ingatan kita tentang pemecatan para tenaga medis di Sumatera Selatan karena tidak bertanggung jawab menjalankan tugas, apakah tenaga pendidik yang disebut ‘engkau patriot pahlawan bangsa pembangun insan cendikia’ akan hilang karena tidak taat aturan di masa Pandemi?

Saatnya kita bersama-sama melawan Virus Covid-19 dengan tetap berkarya, mengikut aturan pemerintah untuk selalu menjaga jarak, menggunakan masker, selalu membawa cairan antiseptik dan sebagainya.

Kategori
Guru, Siswa dan Orangtua Siswa

Guru Takkan Bisa Tergantikan Oleh Masyarakat 5.0

Sumber: i.dailymail.co.uk

Society 5.0 adalah masa dimana manusia lebih memanfaatkan robot atau mesin untuk meringankan pekerjaan dalam berbagai sektor. Robot dapat diatur agar meyerupai kerja manusia bahkan robot bisa diatur agar memiliki perasaan seperti marah, sedih, bahagia dan lain-lain.

Sebenarnya cara kerja manusia sudah lebih dahulu dipermudah sejak ditemukannya komputer dan alat komunikasi lainya (Society 4.0) informasi begitu mudah didapatkan melaui Internet sehingga segala kebutuhan bisa begitu mudah didapatkan khususnya dibidang Pendidikan, para tenaga pendidik pun bisa menemukan berbagai sumber bahan ajar dari Handphone, TV, Radio dan internet.

Tak bisa dipungkiri, masa pandemi ini, Pendidikan tetap berjalan karena teknologi yang pada hakekatnya tidak hanya untuk pendidikan saja, tetapi juga untuk berbagai bidang. teknologi semakin mendorong guru untuk lebih kreatif dalam melaksanakan tugasnya, tentu dengan kecanggihan ini seperti Handphone, Laptop dan Computer semua bisa teratasi.

Dengan masuknya peradaban baru, dimana siswa (i) atau yang sering disebut anak milenial sebagai anak no gadget no life, suka dengan sesuatu yang serba instant, mendorong guru-guru untuk selalu mengup date ilmu agar tetap survive dalam mengajar.

Dengan kecangihan dunia saat ini, siswa (i) bisa saja belajar secara otodidak dengan bantuan Internet, tetapi bagaimanapun juga, mereka tetap butuh arahan secara langsung agar bisa lebih mendalami, walau waktu pengajarannya singkat dan robot (robot teacher) bisa saja akan menjadi pilihan alternatif mereka, sehingga robot dapat mengeser kerja guru. Penggunaan teknologi bergengsi ini sudah digunakan oleh Jepang dan Korea.

Menurut Prof Richardus Eko Indrajit selaku tokoh teknologi informasi, menyampaikan materi pada sebuah kegiatan webinar yang diselenggarakan oleh PB PGRI yang bekerja sama dengan Rumah Perubahan dan Mahir Academy pada tanggal 2 Mei 2020 – 20 Mei 2020 bahwa, Guru tak bisa tergantikan dengan apapun karena guru adalah TELADAN, hal demikian juga didukung oleh para pemateri hebat lainnya saat itu.

Dengan mengetahui ini, tidak serta merta membuat guru berbesar kepala, mengapa? generasi Alpha/A yang sekarang berumur sekitar 10 tahun kebawah, adalah kaum terdidik karena mereka sangat dekat dengan teknologi . Hal ini harus menjadi dorongan guru untuk berbenah diri agar tidak tertinggal jauh dari mereka.

Dengan perkembangan ini, kiranya tidak membuat guru juga merasa down atau bahkan menyerah. Segala perubahan haruslah dihadapi dengan beradaptasi, mungkin dengan cara awal yaitu memaksakan diri yang akhirnya terpaksa, lalu bisa, dan pada akhirnya akan terbiasa. Tetap semangat guru-guru hebat.

Kategori
Siswa

Siswa Harus Mengenal Masyarakat 5.0

Pernakah kalian dikatakan kuno atau udik?. Mengapa kalian dikatakan demikian, apa yang kalian fikirkan setelah mendengarkan kata itu. Yah…. semua orang pasti pernah dikatakan atau mengatakan kuno atau udik, minimal orang berfikir kalian demikian karena mungkin kalian tidak mengetahui sesuatu yang baru, sesuatu yang berhubungan dengan teknologi.

Peradaban terus berkembang, hingga sekarang kita tidak sadar kita sudah berada 20% masuk peradaban atau masyarakat 5.0. Jepang adalah negara pertama yang publikasikan peradaban ini. Hal ini dikemukakan oleh Mayumi Fukuyama pada artikelnya yang berjudul Economic Foundation. Hal ini wajar karena teknologi Jepang memang sudah lebih duluan berkembang dibandingkan dengan negara besar lainnya seperti Eropa dan Amerika yang masih diposisi masyarakat 4.0

Mungkin kalian bertanya, lalu 1.0 hingga 3.0 tidak ada? apa yang dimaksud 1.0 -5.0? Baiklah….berikut penjelasan sederhananya:

  1. Masyarakat 1.0 (Hunting and Gathering). Masa ini untuk bertahan hidup, manusia harus berburu atau meramu dan berpindah-pindah tempat, manusia hanya mampu membuat alat sedehana seperti tombak untuk berburu dan hanya menggunakan api yang bersumber dari gesekan batu untuk memasak sekaligus menggunakan api untuk mengusir predator.
  2. Masyarakat 2.0 (Agricultural) adalah masyarakat yang sudah membangun peradaban yang kompleks karena sudah menetap dan bisa membuat tempat tinggal. Untuk bertahan hidup manusia sudah bisa membuat pengairan untuk bercocok tanam, atau dengan kata lain, untuk bertahan hidup, manusia tidak hanya bisa berburu, tetapi juga sudah bisa menanam, berkebun bahkan beternak hewan.
  3. Masyarakat 3.0 (Industrial). Masa dimana manusia sudah bisa melakukan penemuan. Pada peradaban ini industri dirikan, misalnya industri pakaian, parfume dan lain-lain. Kapitalisme menjadi akar kemajuan zaman saat itu, kemajuan teknologi, kemajuan ekonomi sekaligus menjadi faktor besar kesenjangan masyarakat dan kerusakan lingkungan.
  4. Masyarakat 4.0 (Information). Masa era dimana manusia melakukan penemuan komputer dan alat komunikasi dan masa bergesernya ekonomi tradisional menjadi ekonomi digital, Teknologi cyber atau teknologi otomatis yang tidak membutuhkan tenaga manusia untuk mengaplikasikannya.
  5. Masyarakat 5.0 (New Society/Super Smart Society). Masa dimana robot-robot sudah lebih dominan menggantikan pekerjaan manusia. Pabrik-pabrik akan menguasai ekonomi karena digunakan oleh industri-industri dengan tujuan untuk mempermudah cara kerja manusia. Contohnya adalah drone untuk mengantikan kurir, Telemedicine untuk membantu atau bahkan mengeser para dokter, Smart Agriculture mesin traktor yang bekerja sendiri tanpa supir, dan beberapa lagi teknologi canggih lain yang sudah dipublikasikan oleh Jepang.

Dengan melihat penjelasan diatas, apakah kalian sudah siap untuk bisa survive di masa mendatang? Stop mengatakan ‘di zaman sekarang saja masih ada yang hidup di hutan bahkan untuk makan mereka masih berburu’. Jelas ini statement yang keliru, karena hanya beberapa orang saja yang demikian jika dibandingkan dengan jutaan orang yang nyata-nyata sudah menggunakan alat komunikasi, yang merupakan bagian dari teknologi.

Dunia pendidikan menuntut siswa kreative dan inovative, tujuannya adalah agar siswa bisa bersaing di dunia kerja secara kompetitif dan bisa menciptakan sesuatu atau sebuah karya. Milikilah identitas yang kuat dan semangat belajar yang tidak pernah padam sampai kapanpun, beradaptasilah dengan keadaan bukan bersembunyi atau mengeluh.

Kategori
Siswa

5 Alasan Mengapa Kebiasaan Menyontek Harus Dihentikan.

Sumber gambar:koranbogor.com

Dunia pendidikan seringkali mengalami kendala, salah satunya di bidang Pengajaran. Dalam bidang ini, tidak sedikit guru mengeluhkan kebiasaan siswa yang sering menyontek. Ini adalah penyakit Pendidikan yang membutuhkan keseriusan dari berbagai pihak. Bagaimana tidak, siswa yang sudah terbiasa menyontek, dikhwatirkan memiliki karakter yang kurang baik.

Seperti yang kita ketahui, pengajaran memiliki tiga ranah yaitu Ranah Kognitif tentang pengetahuan, Ranah Affektif tentang karakter, moral dan sikap, dan Ranah Psikomotorik tentang keterampilan. Jika mengacu kepada kebiasaan siswa yang sering menyontek, maka tiga ranah tersebut tidak dimiliki oleh sisiwa.

Kebiasaan menyontek atau menciplak hasil pekerjaan teman atau orang lain adalah hal yang menyenagkan bagi mereka yang malas berfikir, namun hal yang memalukan bagi mereka yang berfikir maju.

Agar siswa tidak terbiasa menyontek, sebaiknya simak dampak yang muncul jika terus-menerus melakukannya :

  1. Tidak Bisa Berfikir Besar. Ada istilah Think Big, bagaimana bisa berfikir atau memberikan ide cemerlang jika tidak membiasakan otak untuk berfikir? Orang yang sukses karena mereka terbiasa mencipta atau berkarya, lalu apakah siswa ingin berkata ‘iya saya hanya bisanya segini’ bukannya itu kesan orang malas?
  2. Membentuk Karakter Buruk. Tidak jujur merupakan bagian dari karakter buruk. Deighton (1971) menyatakan cheating adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara-cara yang tidak fair (tidak jujur), jadi apakah kalian ingin menjadi orang yang tidak jujur selamanya?
  3. Diremehkan Orang Lain. Tidak semua orang itu baik, tidak jarang manusia saling mencibir dan meremehkan. Orang yang hebat dan baik pun masih diremehkan dengan cara dicari-cari kesalahannya, dihina dan sebagainya, apalagi jika membiasakan diri memelihara karakter buruk (tidak jujur) akan lebih parah lagi.
  4. Susah Mencari Pekerjaan Bergengsi. Ada beberapa tahap hidup manusia. Nugroho Setiawan pada artikelnya 20 November 2017, mengkelompokkan tahap hidup manusia, Tahap kedua adalah Forefront life-stage (usia 20-40 tahun). Pada tahap ini manusia sudah berusaha mencari mata pencaharian. Nah…bayangkan jika siswa terus menerus menyontek, maka akan membuat siswa kewalahan mendapatkan pekerjaan bergengsi atau bisa saja menjadi penonton bagi teman sejawat yang berhasil.
  5. Membuat Orang Merasa Tidak Nyaman. Salah satu ciri orang yang menyenagkan adalah orang yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya, sebaliknya orang yang tidak menyenagkan adalah orang yang sama sekali tidak diinginkan kehadirannya karena sering membuat tidak nyaman. Jika berpatokan dengan pernyataan ini, memang tidak adil karena pandangan orang berbeda -beda, orang yang baik pun tidak sedikit dijauhi bahkan sering dikecewakan, tetapi apapun itu, menyontek sangat buruk untuk diri sendiri, dimana jika dihadapkan dengan berbagai pertanyaan akan selalu memberikan jawaban tidak tau atau tidak mampu dengan kata lain, lebih banyak tidak taunya daripada taunya.

Dengan perkembangan teknologi, dimana kita sudah meninggalkan zaman 4.0 dan sekarang sudah 20 % masuk zaman 5.0, maka akan sangat memilukan jika kebiasaan menyontek tetap melekat pada diri siswa. Merubah kebiasaan buruk menjadi baik memang susah, dibutuhkan self driving untuk mau berubah, walaupun Guru dan Orangtua sudah menasehati untuk mencipta sendiri, akan tetapi kembali lagi pada diri pribadi siswa. Hal kecil yang bisa dilakukan untuk merubah diri dari dalam adalah dengan membiasakan diri membaca dan berlatih. Tetap Semangat.

Referensi :

Deighton, L. C. (1971). The encyclopedia of education.United States of America: Croweel-Collier Educational Corporation.

Kategori
Guru, Siswa dan Orangtua Siswa

Corona Memberikan Nilai Plus Guru di Mata Orangtua Siswa.

sumber: Pixabay.com

Belakangan ini, dunia digemparkan dengan hadirnya Covid-19 yang telah merenggut nyawa manusia di seluruh penjuru dunia. Virus ini cukup berbahaya sehingga telah merubah keadaan secara drastis.

Keadaan dimana Guru harus selalu berada di sekolah bersama siswa (i), mengajar di kelas pada waktu-waktu tertentu, kini beralih menjadi teach from home. Peran Guru yang mendidik, mengarahkan, memfasilator siswa kini sebagian besar diambil alih oleh Orangtua.

Pekerjaan Orangtua kini menjadi double. Bagaimana tidak, sebelum Pandemi, para Orangtua tidak sepenuhnya mengajar atau membimbing berbagai mata pelajaran kepada anak mereka, kini hampir 100% Orangtua mau tidak mau harus melakukannya.

Tidak semua Orangtua memiliki bekal mendidik dan mengajar dengan baik, pernyataan ini tak bisa dibantah, buktinya tidak sedikit anak yang merasa tidak nyaman diajar oleh Orangtua dengan alasan ‘galak’, mengapa? tidak jarang Orangtua memarahi, mencubit bahkan memukul pada saat mengajar atau membimbing anak mengerjakan tugas rumah.

Pada situasi seperti ini, diyakini bahwa Orangtua sadar akan tindakan Guru yang terkadang sedikit berlebihan dalam menangani kenakalan anak di sekolah.

Belum hilang diingatan kita pada tahun 2016, dunia pendidikan di tanah air heboh Guru dipenjarakan karena mencubit siswa dengan alasan yang wajar, Guru dipenjarakan karena mencukur rambut siswa, Guru SD diadili karena memukul siswa menggunakan mistar, dan masih banyak lagi yang semuanya itu dilakukan pada saat mendidik dan mengajar di sekolah.

Dari tindakan tersebut telah membuat ruang gerak Guru menjadi spotlight publik, ada yang setuju, namun tidak sedikit masyarakat mengutuk aksi tindakan para Orangtua saat itu.

Dengan diberlakukannya study from home membuat para Orangtua merasakan beban para Guru pada saat mendidik atau membimbing siswa di sekolah tidaklah mudah, apalagi jumlah siswa lebih dari 20 siswa per kelas. Hal ini membuat paradigma tentang guru, sedikit demi sedikit mulai bergeser menjadi lebih baik.

Kedepannya, sebaiknya Orangtua selalu membuka komunikasi yang baik dengan Guru-guru atau minimal dengan Walikelas untuk membahas perkembangan anak. Jika ada kejanggalan terhadap anak, sebaiknya dilakukan pengamatan, analisis lalu action sebelum bertindak. Ada banyak media yang bisa digunakan untuk membangun komunikasi dengan Guru. Kerjasama antara Guru dan Orangtua sangat perlu agar tindakan yang tidak diinginkan tidak terulang lagi.

https://m-brilio-net.cdn.ampproject.org/v/s/m.brilio.net/amp/duh/4-kasus-sepele-guru-vs-murid-yang-berakhir-miris-bikin-geram-deh-160526v.html?amp_js_v=a3&amp_gsa=1&usqp=mq331AQFKAGwASA%3D#aoh=15904098588511&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Fwww.brilio.net%2Fduh%2F4-kasus-sepele-guru-vs-murid-yang-berakhir-miris-bikin-geram-deh-160526v.html
Kategori
Siswa

Ingin Tetap Eksis Setelah Masa Transisi? Jauhi Kebiasaan Buruk ini yah!

Always stay positive merupakan keinginan dasar semua siswa. Tampil menarik, lincah, aktif, cerdas dan bersemangat adalah sifat dari orang yang selalu baik dan disiplin. Semua hal ini bisa terwujud jika ada kemauan untuk selalu membiasakan diri melakukan hal yang baik, namun jika membiasakan diri melakukan hal yang tidak baik akan menjadi tidak baik.

Berada di rumah dalam waktu yang lama tidak hanya dapat merubah hal tidak baik menjadi baik, tetapi sebaliknya dapat merubah hal baik menjadi tidak baik. Contoh yang bisa dilihat adalah sebelum pandemi, kalian mungkin bangun lebih awal setiap pagi, rajin berolahraga sebelum atau sepulang dari sekolah, rajin belajar dan sebagainya, namun semuanya ambyar hanya karena Corona. Menyalahkan keadaan? tentu percuma. Sebaiknya kalian tetap bersemangat, tetap menjadi diri sendiri walau hanya berada di rumah untuk menunjukan eksistensi diri kalian sebagai siswa.

Berikut kebiasaan buruk yang sangat perlu kalian jauhi :

  1. Bangun Tidur diatas Jam 6 Pagi. Akibat terlalu lama belajar dari rumah membuat kalian mungkin sering tidur hingga larut malam dengan pemikiran, besok masih libur sehingga kalian acuh dengan kebiasaan tidur hingga larut malam dan bangun telat setiap pagi. Apapun aktivitas kalian di malam hari, Sebaiknya usahakan bangun lebih awal seperti kalian masih aktif sekolah. Mengapa demikian? agar kalian masih memiliki rasa disiplin waktu, sehingga suatu saat kalian tidak kaku jika kegiatan sekolah kembali normal.
  2. Menghabiskan Waktu Hanya Bermain Game, Utak Atik Hanphone dan Menonton Film Berseri. Belajar dari rumah hingga waktu yang tidak pasti memang sangat membosankan. Hal ini membuat kalian mengalihkan kegiatan rutin dengan hal-hal yang mungkin dahulu kalian tidak sukai/tidak lakukan. Nah…ini parah. Jangan lakukan sesuatu yang kalian fikir akan membuat diri menjadi ketergantungan atau ketagihan, mereset kebiasaan baik sulit dilakukan jika kalian lakukan kebiasaan buruk terus menerus, hal ini bisa menjadi problema yang serius bagi kalian.
  3. Makan dan Tidur Secara Berulang-Ulang. Makan, tidur, repeat di masa Pandemi ini memang asyik, tetapi perlu diingat agar kalian tidak menciptakan masalah serius bagi tubuh kalian, agar tubuh kalian tetap mengalami keseimbangan maka lakukanlah aktivitas minimal di dalam rumah.
  4. Duduk Bercengkrama Dengan Teman-Teman Tanpa social Distancing. Berada di rumah bersama orang itu-itu saja setiap saat memang menjenuhkan, mengalihkan rasa jenuh sangat perlu dilakukan dengan cara bersosialisasi dengan teman-teman, tetapi ingatlah agar tetap mematuhi anjuran pemerintah untuk selalu social distancing.
  5. Malas Mandi/Malas Membersihkan Badan. Berada di rumah saja harus tetap prima agar tubuh tetap fit. Menjaga tubuh agar tetap fresh sangatlah penting, jangan hanya karena Corona kalian menjadi dekil, kudisan atau bahkan panuan karena malas mandi atau malas urus diri.
  6. Malas Berolahraga. Olahraga sangat penting untuk kesehatan. Tidak perlu setiap hari, cukup beberapa kali saja seminggu. Menurut klikdokter.com berolahraga sebaiknya dua/tiga kali setiap minggu. Bagi kalian yang tidak suka berolahraga sebaiknya pililah olahraga ringan seperti Jogging, Yoga dan sejenisnya agar tubuh tetap fleksibel.
  7. Bergosip. Membiasakan diri mendengar atau menceritakan berita buruk tentang orang lain dapat berakibat buruk bagi jiwa dan hati kalian. Jika terus menerus bergosip maka akan membuat tubuh dan jiwa tidak normal, dan tentunya kalian sendiri yang akan rugi. Sebaiknya berusahalah untuk selalu berfikir dan berkata baik agar pendengar mendapatkan berkat dari perkataan kalian.
  8. Terus Menerus Berfikir Tentang Kapan Pandemi Berakhir. Berfikir adalah hal yang selalu dilakukan oleh manusia, tetapi jika berfikir sesuatu yang belum pasti akan menimbulkan rasa cemas, kwatir yang berlebihan, sehingga dapat menurunkan imun tubuh kalian yang kemungkinan memberikan efek tidak baik untuk jangka panjang. Sebaiknya isilah hari-hari kalian dengan hal yang menyenagkan hati agar fikiran kalian tidak terfokus terhadap Pandemi ini.
  9. Keluyuran Dengan Teman-Teman Yang Tidak Baik. Berkumpul dengan teman-teman setelah seharian berkumpul dengan keluarga di rumah memang menyenagkan, bahkan seolah-olah teman adalah vitamin hidup tetapi perlu kalian sadari bahwa kalian juga harus mengambil bagian untuk menghentikan penyebaran Covid-19. Sebaiknya lakukan video call melalui Whatsapp, Duo atau aplikasi canggih lain seperti google meet, Webex, Zoom atau bahkan Youtube live streaming. Hal ini pasti sangat menyenangkan tanpa harus bersosialisasi langsung.
  10. Malas Membaca. Membaca adalah cara paling mudah untuk mengenal dunia. Ada seorang Motivator berkata bahwa dengan membaca, Dia telah sampai keluar negeri dan mampu memikirkan hal-hal besar untuk pengembangan usahanya. Refreshlah otak kalian untuk sering membaca agar kalian tetap smart walau hanya di rumah saja, tetapi tentunya tidak berlebihan, karna hal itu bisa memberikan masalah serius untuk kesehatan otak dan mata. Albert Einstein mengatakan bahwa orang yang terlalu banyak membaca dan terlalu sedikit memakai otak akan jatuh kepada kebiasaan malas berpikir. tentu kalian tidak mau menjadi pemalas, bukan?
  11. Tidak Mengerjakan Tugas Dari Bapak/Ibu Guru. Nah…ini masalah besar jika terjadi pada diri kalian sebagai siswa. Berlajar dari rumah bukan berarti bisa berleha-leha. Materi dan tugas dari guru sebaiknya tetap dikerjakan. Kalian bisa bertanya langsung kepada guru bidang studi atau wali kelas jika kalian mengalami kesulitan tentang tugas tersebut. Jangan hanya karena Corona pengetahuan kalian menjadi dangkal, tetapi sebaliknya jadikan Corona sebagai booster kalian untuk bisa mengali atau menemukan jati diri kalian selama berada di rumah.

Kalian pasti tidak mau jika setelah Pandemi berakhir kalian menjadi lambat loading, pemalas, dekil, terlihat lesu, tidak up to date, bukan???? Gampang, jauhi kebiasaan buruk di atas.

Referensi :

https://jagokata.com/arti-kata/kebiasaan.html

https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3622750/berapa-kali-sebaiknya-berolahraga-dalam-seminggu

Kategori
Orangtua Siswa

Beratnya Beban Orangtua di Masa Pandemi.

Kehadiran Covid-19 cukup mengguncang para Orangtua. Bagaimana tidak, peran mereka sebagai teladan, pelatih, pendidik bahkan pengobat (terapis) telah meningkat intensitasnya karena anak 100% harus berada di rumah, dimana sebelum Pandemi, sekitar 5-8 jam anak berada di sekolah, 1-3 jam mengikuti kegiatan lain atau jika ditotal 60%-80% anak bersama keluarga, sehingga Orangtua bisa melakukan aktivitas lain saat itu tanpa harus mengkwatirkan keberadaan anak.

Polemik ini cukup menyita perhatian karena orangtua harus memastikan anak selalu berada di rumah. Membuat anak betah di rumah tidaklah mudah, kebiasaan mereka sebelum Pandemi yaitu lebih sering bersosialisasi secara langsung dengan orang lain, melakukan aktivitas rutin pada jam-jam tertentu, bahkan berkumpul di luar rumah bersama teman sebaya membuat para Orangtua kewalahan untuk memberikan pengertian kepada anak mereka.

Disini kemampuan para Orangtua diuji. Orang tua dituntut kreatif dan inovative untuk menyiapkan suasana yang selalu nyaman bagi anak mereka walau mungkin kondisi tidak memungkinkan. Tanggung jawab orangtua untuk mencukupi keperluan anak sangatlah penting, memutar otak untuk tetap menghasilkan uang walau hanya dalam beberapa jam setiap harinya merupakan sebuah keharusan.

Berikut beberapa cara agar anak betah di rumah tanpa merasa terbebani oleh Pandemi:

  1. Mengenal Karakter Anak. Keluarga adalah tempat paling utama membentuk karakter anak, hal ini juga didukung oleh Ni Wayan Suarmini dalam penelitiannya yang berjudul “Keluarga sebagai wahana pertama dan utama pendidikan karakter anak”. Beliau menjelaskan bahwa orangtua adalah model bagi tumbuh kembang anak dalam keluarga dan masyarakat dengan mengetahui karakter anak. Beberapa karakter anak adalah percaya diri, jujur, bertanggung jawab, sopan, sombong, suka menolong dan masih banyak lagi. Dengan mengetahui karakter anak, orangtua harus mampu menyesuaikan diri agar anak betah di rumah.
  2. Menyiapkan Menu Kesukaan Anak. Dimasa Pandemi, penghasilan Orangtua bisa saja menurun drastis. Hal ini terjadi karena pembatasan wilayah, pembatasan waktu beraktivitas bahkan kekwatiran orangtua akan tertular virus Covid-19 yang membuat ruang gerak menjadi sempit. Namun apapun itu, orangtua sebaiknya lebih sering menyiapkan menu kesukaan anak serta menambahkan variasi baru walau menu sederhana, namun aman bagi anak untuk dikonsumsi. Sebagai contoh, anak senang makan sayur bening yang mungkin sebelumnya bahannya hanya sayur bayam, bawang merah dan jamur bubuk, agar anak merasakan suasana berbeda alangkah baiknya ditambahkan dengan daun kemangi atau daun bawang. Hal sederhana tetapi mampu menarik hati anak.
  3. Dua/Tiga Kali Seminggu, Ajak Anak Untuk Bermain. Bermain adalah salah satu aktivitas yang menyenagkan bagi semua kalangan. Bermain tidak hanya menghilangkan stress, rasa jenuh,menyatukan perbedaan, tetapi juga dapat melatih tingkat kecerdasan anak dalam beberapa hal. Bermain bisa dilakukan secara online maupun offline. Bagi para Orangtua, bermain online mungkin rumit dan mahal oleh karena itu, alangkah baiknya memilih permainan yang ekonimis atau tradisional seperti Congklak, Petak Umpet untuk anak 1-3 tahun, kartu, tebak-tabakan atau bahkan permainan Engklek dan masih banyak lagi.
  4. Mengajar Anak Untuk Melakukan Sesuatu Yang Belum Pernah Dicoba. Ada masa dimana anak memiliki rasa ingin tau yang besar . Tidak ada salahnya anak diajarkan untuk melakukan hal baru, seperti membuat kue/puding, masak bersama makanan kesukaan mereka, menanam, berkebun, atau apapun yang dirasa penting untuk diketahui tanpa memaksakan kehendak kepada anak.
  5. Menonton Siaran TV kesukaan Anak. Berkumpul bersama keluarga setelah seharian melakukan aktivitas bisa menyenangkan juga bisa membosankan/menakutkan bagi anak. Tergantung Orangtua telah memberikan kesan apa kepada anak. Orangtua yang mau duduk menonton siaran TV atau menonton film kesukaan anak diselingi dengan candaan, akan membuat suasana hidup, sehingga anak akan merasa senang dan betah berada di rumah.
  6. Komunikasi. Menurut Gordon I. Zimmerman menjelaskan bahwa komunikasi berguna untuk menyelesaikan setiap tugas penting bagi kebutuhan kita, juga untuk memberi sandang pangan kepada diri sendiri dan memuaskan kepenasaran kita terhadap lingkungan serta untuk menikmati hidup. Segala sesuatu sebaiknya dikomunikasikan dengan anak, terlebih lagi dalam keadaan lockdown seperti sekarang, bisa saja membuat anak menjadi jenuh, bosan bahkan stress berada di rumah terus menerus. Hal demikian jika terjadi dapat menimbulkan rasa bersalah bagi Orangtua, jadi ada baiknya selalu memantau mood anak dengan menanyakan keadaan, perasaan yang mereka alami sepanjang hari sebelum tidur malam.

Sebenarnya banyak hal lain lagi yang bisa dilakukan para Orangtua agar anak selalu berada di rumah tanpa ada beban yang begitu berarti. Perubahan pola fikir untuk menghadapi perubahan ini sangat perlu. Orangtua harus menyadari jika perubahan akan selalu ada, baik dari anak, lingkungan, situasi bahkan zaman. sekarang saja kita sudah 20% masuk zaman 5.0, apakah para Orangtua siap? ya. mau tidak mau harus siap. Perubahan selayaknya membuat siapapun tetap bertahan dengan cara beradaptasi terhadap perubahan, bukan terpuruk karena perubahan. Tetap semangat hai para Orangtua hebat. Tuhan menyertai kita.

Referensi :

https://www.researchgate.net/publication/316924712_KELUARGA_SEBAGAI_WAHANAN_PERTAMA_DAN_UTAMA_PENDIDIKAN_KARAKTER_ANAK

https://www.pelajaran.co.id/2016/17/fungsi-komunikasi-menurut-para-ahli-dan-penjelasan-terlengkap.html

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=&ved=2ahUKEwjawOG6ss7pAhWg7HMBHd92CwMQFjACegQICxAG&url=https%3A%2F%2Fwww.pelajaran.co.id%2F2016%2F17%2Ffungsi-komunikasi-menurut-para-ahli-dan-penjelasan-terlengkap.html&usg=AOvVaw0tM6mSrLFVMwLMkSNItHIz
Kategori
Guru, Siswa dan Orangtua Siswa

Jenuh Merayakan Lebaran karena Social Distancing? Ayo Lakukan Hal Berikut.

Situasi hari raya Idul Fitri Abepura-Kotaraja Dalam, 24 Mei 2020

Negara sedang dikagetkan dengan kehadiran virus yang telah merenggut ribuan nyawa manusia. Kerugian di berbagai sektor begitu terasa salah satunya di sektor pendidikan. Para Dosen, Guru, Mahasiswa dan Siswa (i) diwajibkan mengajar dan belajar dari rumah. Peraturan ini begitu terasa bagi semua kalangan, ditambah lagi kebijakan ini terus diperpanjang hingga waktu yang tidak ditentukan.

Teaching and learning from home sudah berlangsung selama hampir tiga bulan lamanya sehingga banyak kegiatan/ritual rutin yang sering dilakukan pada waktu-waktu tertentu, kini tinggal cerita yang mengisahkan pilu.

Hari ini, umat muslim sedang merayakan hari kemenangan. Merayakannya dengan orang-orang yang dikasihi pastilah sangat ditunggu setelah satu bulan lamanya berpuasa melawan hawa nafsu. Suasana haru dan bahagia bercampur aduk menjadi satu dikala duduk di meja makan bersama keluarga, teman atau bahkan dengan para tetangga.

Keadaan telah berubah total hampir seratus persen dengan munculnya Covid-19. Ritual yang sering dilakukan di hari kemenangan kini berbeda. Hal ini dikarenakan stay safe adalah hal yang paling dinomorsatukan oleh semua orang, sehingga suasana lebaran kali ini tidak begitu berkesan lagi seperti tahun-tahun sebelumnya.

Perlu disadari bahwa tidak selamanya perubahan menyebabkan duka mendalam bagi siapapun, justru perubahan bisa saja memberikan hal baru yang mengesankan tergantung bagaimana cara setiap orang menghadapinya. Harus ada kemauan untuk menentukan dan menyesuaikan keadaan, begitupun saat lebaran tiba.

Berikut tips agar tidak jenuh merayakan lebaran walau sedang social distancing:

  1. Tetap menjalankan Solat Ied walau hanya di rumah saja namun dilakukan dengan rasa syukur.
  2. Tetap menghidangkan beberapa menu kesukaan.
  3. Melakukan Video call untuk menyapa keluarga dan teman secara personal atau meet.
  4. Bersilaturahmi antar tetangga di rumah masing-masing
  5. Berkaraoke/bernyanyi di depan rumah masing-masing sambil bergurau.

Kategori
Guru, Siswa dan Orangtua Siswa

Corona Tidak Sepenuhnya Menghilangkan Nuansa Ketupat dan Opor Ayam.

Sumber : Salah Terselubung (https://salahterselubung.files.wordpress.com/2018/06/kupat.jpg)

Hari raya adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama di dunia, dimana waktu yang tepat digunakan untuk berkumpul bersama sanak saudara yang tinggal jauh maupun dekat, handai taulan dan rekan kerja.

Hari ini, umat Muslim begitu berbahagia karena di masa Pandemik ini, mereka berhasil melewati ujian untuk tetap berpuasa penuh dengan penuh semangat. Hal ini bisa ditunjukkan dengan begitu antusiasnya mereka menyiapkan segala keperluan untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga di rumah.

Suasana Abepura-Jayapura pada tanggal 22 Mei 2020. Masyarakat sibuk menyambut Idul Fitri.

Bagi umat Muslim, Idul Fitri tahun ini memang cukup berbeda karena mereka tidak bisa bersilaturahmi seperti hari lebaran tahun

tahun sebelumnya. Hal ini terjadi karena penyebaran virus Covid-19 yang membuat segala sesuatu berubah drastis, baik dari segi ekonomi, sosial, budaya dan agama. Namun tentu saja perubahan ini tidak serta-merta menghilangkan semangat Idul Fitri karena mereka tetap bisa merasakan suasana ketupat dan opor ayam bersama keluarga di rumah.

Semua orang menyadari jika keadaan tidak selamanya sama, Non Muslim juga akan merasakan hal yang berbeda dan tentunya menyisahkan rasa sedih karena tidak bisa berkunjung secara leluasa ke rumah kerabat dan teman kerja yang sedang merayakan hari kemenangan mereka, tetapi dengan mengingat bahwa tetap bersyukur, bahagia, menjaga kesehatan dan mengikuti saran pemerintah, keadaan ini akan mudah teratasi sehingga segala bentuk aktivitas bisa cepat kembali normal.

Kategori
Siswa

6 Alasan Mengapa Siswa Harus Tetap Giat Belajar Di Masa Pandemi.

Dunia sedang dikagetkan dengan  munculnya Virus Covid-19 yang membuat segala sesuatu berubah total, baik bagi para pekerja/guru, para orang tua dan para siswa (i). Virus ini tidak mengenal siapapun, sehingga merubah paradigma manusia untuk berfikir maju agar tetap hidup sambil menjaga diri agar tidak tertular dari virus tersebut.

Bagi para siswa yang sudah belajar dari rumah selama dua bulan lebih, tidak menutup kemungkinan bagi mereka untuk lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain, menonton TV, mendengarkan musik atau mengutak atik  telphone seluler dengan membuka berbagai akun di media sosial sehingga belajar dari rumah hanya sekitar 20% saja dari semua kegiatan yang mereka lakukan.

Hal ini tidaklah sehat karena dapat membuat siswa mereset ulang kebiasaan belajar sebelum Pandemik yang tidak menutup kemungkinan hal ini bisa membuat mereka tidak kompetitif.

Berikut ada enam alasan mengapa siswa harus tetap giat belajar di masa Pandemic.

  1. Menjadi pusing dan malas berfikir

Peneliti membuktikan jika otak yang jarang digunakan untuk berfikir akan membuat  manusia malas untuk bekerja, malas belajar, malas mengerjakan tugas bahkan bagi siswa jika dihadapkan dengan jenis soal  HOTS (High Order Thingking Skill) akan membuat mereka  merasa pusing karena sudah tidak terbiasa mengerjakan soal yang rumit bahkan soal LOTS (Lower Order Thingking Skill)pun dianggap rumit.

2. Menjadi Pemalas

Setiap kemauan berawal dari kebiasaan. Hal ini sering dikaitkan dengan karakter yang dimiliki oleh setiap manusia. Membiasakan diri untuk melawan sifat malas akan menjadi rajin bahkan sukses, tetapi kebiasaan yang membiasakan diri malas akan menjadi pemalas yang bisa saja mengarahkan siswa  menjadi gagal dalam segala hal.

3. Tidak fokus akan masa depan

Bersekolah merupakan hal mutlak yang harus dilakukan oleh semua anak didunia ini, baik itu mengikuti sekolah resmi (SD-SMA/SMK hingga Perguruan Tinggi) maupun sekolah tidak resmi (Lembaga Kursus dll). Memang tidak ada jaminan bahwa jika tidak tamat  sekolah siswa akan sukses dan sebaliknya, tetapi dengan bersekolah siswa akan dibekali berbagai macam ilmu dari berbagai mata pelajaran dan pelajaran hidup dari setiap guru mata pelajaran.

4. Otak menjadi lemot atau menjadi  pikun

Selama masa Pandemic  sebaiknya para siswa terus mengasa otak, baik itu bermain catur, teka-teki, mengerjakan soal matematika, membaca bahkan mengerjakan semua tugas dari guru-guru  agar otak terbiasa terus bekerja sehingga bisa setajam silet atau tidak mudah menjadi  pelupa.

5. Remedial

Siswa yang tidak perduli dengan tanggung jawab belajar dan tidak mengumpulkan tugas selama masa Pandemik akan dihadapkan dengan berbagai kesulitan yang diantaranya adalah remedial (Perbaikan). Bisa dibayangkan jika selama dua bulan lebih belajar dari rumah dan belum mengumpulkan tugas sama sekali, maka siswa tersebut  akan sangat kesulitan mendapatkan nilai karena setiap guru mata pelajaran telah memberikan sekurang-kurangnya dua tugas materi berbeda.

6. Tidak  naik kelas

Sekolah tidak menentukan masa depan siswa, tetapi dari bersekolah siswa bisa memiliki pemikiran bersaing secara kompetitif. Dengan membiasakan diri berhenti belajar selama Pandemik akan membuat siswa tidak naik kelas dan harus mengulang di tahun berikunya. Hal ini sangatlah sia-sia karena sebenarnya belajar tidak harus di sekolah, tetapi juga di rumah. Ada banyak media belajar untuk bisa tetap berkomunikasi dengan guru mata pelajaran seperti Google classroom, Zoom bahkan untuk mengumpulkan tugas bisa difoto di buku catatan dan dikirim melalui aplikasi Whatsapp, messanger dan lain-lain.