Pro Dan Kontra Bersekolah Di Tengah Pandemi.

Kembali menjalankan tugas sebagai tenaga pendidik setelah lama tidak melaksanakannya adalah kegiatan yang selalu ditunggu-tunggu, namun berbeda dengan keadaan sekarang, sejak adanya Covid-19, hal ini menjadi perdebatan sengit di dunia Pendidikan dan masyarakat.

Pandemi ini sangat mempengaruhi berbagai aspek, khususnya dunia pendidikan. Kontradiksi bahkan perang opini antara tenaga pendidik dan antara masyarakat terus bergulir sehingga titik terang belum didapatkan.

Mentri Pendidikan Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. terus berkoordinasi dengan pakar-pakar dan Gugus Tugas Covid-19 dan hingga kini belum mengambil keputusan apapun. Hal ini disampaikan di komisi X DPR, di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2020.

Ada beberapa pendapat yang terus diperdebatkan antara tenaga pengajar dan antara masyarakat, yaitu :

Sekolah bisa diaktifkan kembali jika sudah diperbolehkan oleh Mentri Pendidikan atau bahkan oleh President, walau vaksin belum ditemukan, dengan pertimbangan sebagai berikut:

Per kelas hanya boleh diisi 6 hingga 7 siswa saja, tetapi durasi waktu dipersingkat sekitar dua atau tiga jam per hari, dan dilakukan dua atau tiga kali dalam seminggu dan selebihnya belajar online di rumah, tetapi tetap dalam pengontrolan Guru.

Opini ini diambil agar pengajaran selama Pandemi bisa dilakukan secara merata, tidak ada lagi alasan dari berbagai pihak bahwa tidak memiliki fasilitas Smartphone, paket data atau komputer untuk study from home karena tetap ada kegiatan tatap muka dengan Guru mata pelajaran, juga Guru tetap merasa puas bisa menjelaskan secara langsung materi yang diajarkan sebelum siswa pulang membawa tugas yang dikerjakan di rumah dan konsultasi atau mengumpulnya secara online.

Jika mengawatirkan siswa akan tertular, lalu muncullah beberapa pertanyaan ; bagaimana dengan anggota keluarga di rumah yang juga tetap beraktivitas?, Apakah adil bagi mereka yang selalu berada di rumah dalam jangka waktu yang tidak menentu?,  bagaimana dengan kejiwaan siswa yang terus menerus berada di rumah tanpa bersosialisi dengan orang luar?, Mengapa tidak menerapkan aturan pemerintah untuk selalu jaga jarak dan mengunakan pelindung jika terpaksa beraktivitas di luar?.

Harus ada aksi besar dari Dinas Pendidikan setempat, para pimpinan sekolah untuk menambah guru piket, para tenaga pendidik, dan orang tua untuk mengoptimalkan pencegahan virus.

Pendapat kedua adalah tetap belajar dan mengajar dari rumah hingga Covid-19 benar-benar tidak ada lagi bumi ini, atau hingga vaksin sudah dipatenkan. Jika berbicara tentang vaksin, esensialnya membutuhkan waktu lama untuk bisa dipatenkan.

Sejak Desember 2019, seluruh ilmuan dunia bekerja keras untuk menemukan vaksin virus Covid-19, namun belum ada satu negara pun memberikan hasil yang sangat memuaskan.

Pendapat ini diambil karena begitu besar kekhawatiran akan tertular atau menularkan, dan tidak ingin jika klaster sekolah menjadi penyebaran Virus.

Apapun pandangan yang ada, jika hal ini dihadapkan kepada tenaga pendidik, sebaiknya mengikuti aturan saja termasuk mematuhi aturan untuk menjaga jarak dan menggunakan pelindung, terkecuali sedang berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan sperti mengalami sakit yang serius.

Belum hilang dari ingatan kita tentang pemecatan para tenaga medis di Sumatera Selatan, karena tidak bertanggung jawab menjalankan tugas, apakah tenaga pendidik yang disebut ‘engkau patriot pahlawan bangsa pembangun insan cendikia’ akan hilang karena tidak taat aturan di masa Pandemi?

Saatnya Guru bersama-sama melawan Virus Covid-19 dengan tetap berkarya, mengikut aturan pemerintah untuk selalu menjaga jarak, menggunakan masker, selalu membawa cairan antiseptik dan sebagainya.