5 Alasan Mengapa Kebiasaan Menyontek Harus Dihentikan.

Sumber Gambar : pixabay.com

Dunia pendidikan seringkali mengalami kendala, salah satunya di bidang Pengajaran. Dalam bidang ini, tidak sedikit guru mengeluhkan kebiasaan siswa yang sering menyontek.

Ini adalah penyakit Pendidikan yang membutuhkan keseriusan dari berbagai pihak. Bagaimana tidak, siswa yang sudah terbiasa menyontek, dikhwatirkan memiliki karakter yang kurang baik.

Seperti yang kita ketahui, pengajaran memiliki tiga ranah yaitu Ranah Kognitif tentang pengetahuan, Ranah Affektif tentang karakter, moral dan sikap, dan Ranah Psikomotorik tentang keterampilan. Jika mengacu kepada kebiasaan siswa yang sering menyontek, maka tiga ranah tersebut tidak akan dimiliki oleh sisiwa (i).

Kebiasaan menyontek atau menciplak hasil pekerjaan teman atau orang lain adalah hal yang menyenagkan bagi mereka yang malas berfikir, namun hal yang memalukan bagi mereka yang berfikir maju.

Diperlukan usaha, tindakan yang bersumber dari dalam hati untuk merubah kebiasaan yang tidak tepat tersebut. ada banyak dampak negatif yang akan timbul jika siswa (i) tetap melakukan pembiaran.

Agar siswa tidak terbiasa menyontek, sebaiknya simak dampak yang muncul jika terus-menerus melakukannya :

  1. Tidak Bisa Berfikir Besar. Ada istilah Think Big, bagaimana bisa berfikir atau memberikan ide cemerlang jika tidak membiasakan otak untuk berfikir? Orang yang sukses karena mereka terbiasa mencipta atau berkarya, lalu apakah siswa ingin berkata ‘iya saya hanya bisanya segini’ bukannya itu kesan orang malas?
  2. Membentuk Karakter Buruk. Tidak jujur merupakan bagian dari karakter buruk. Deighton (1971) menyatakan cheating adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara-cara yang tidak fair (tidak jujur), jadi apakah kalian ingin menjadi orang yang tidak jujur selamanya?
  3. Diremehkan Orang Lain. Tidak semua orang itu baik, tidak jarang manusia saling mencibir dan meremehkan. Orang yang hebat dan baik pun masih diremehkan dengan cara dicari-cari kesalahannya, dihina dan sebagainya, apalagi jika membiasakan diri memelihara karakter buruk (tidak jujur) akan lebih parah lagi.
  4. Susah Mencari Pekerjaan Bergengsi. Ada beberapa tahap hidup manusia. Nugroho Setiawan pada artikelnya 20 November 2017, mengkelompokkan tahap hidup manusia, Tahap kedua adalah Forefront life-stage (usia 20-40 tahun). Pada tahap ini manusia sudah berusaha mencari mata pencaharian. Nah…bayangkan jika siswa terus menerus menyontek, maka akan membuat siswa kewalahan mendapatkan pekerjaan bergengsi atau bisa saja menjadi penonton bagi teman sejawat yang berhasil.
  5. Membuat Orang Merasa Tidak Nyaman. Salah satu ciri orang yang menyenagkan adalah orang yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya, sebaliknya orang yang tidak menyenagkan adalah orang yang sama sekali tidak diinginkan kehadirannya karena sering membuat tidak nyaman. Jika berpatokan dengan pernyataan ini, memang tidak adil karena pandangan orang berbeda -beda, orang yang baik pun tidak sedikit dijauhi bahkan sering dikecewakan, tetapi apapun itu, menyontek sangat buruk untuk diri sendiri, dimana jika dihadapkan dengan berbagai pertanyaan akan selalu memberikan jawaban tidak tau atau tidak mampu dengan kata lain, lebih banyak tidak taunya daripada taunya.

Dengan perkembangan teknologi, dimana kita sudah meninggalkan zaman 4.0 dan sekarang sudah 20 % masuk zaman 5.0, maka akan sangat memilukan jika kebiasaan menyontek tetap melekat pada diri siswa.

Merubah kebiasaan buruk menjadi baik memang susah, dibutuhkan self driving untuk mau berubah, walaupun Guru dan Orangtua sudah menasehati untuk mencipta sendiri, akan tetapi kembali lagi pada diri pribadi siswa.

Hal kecil yang bisa dilakukan untuk merubah diri dari dalam adalah dengan membiasakan diri membaca dan berlatih. Tetap Semangat.