Corona Memberikan Nilai Plus Guru di Mata Orangtua Siswa.

sumber: Pixabay.com

Dunia sedang digemparkan dengan hadirnya Covid-19 yang telah merenggut nyawa manusia di seluruh penjuru dunia.

Virus ini cukup berbahaya, karena mampu merubah keadaan secara drastis.

Keadaan dimana Guru harus selalu berada di sekolah bersama siswa (i), mengajar di kelas pada waktu-waktu tertentu, kini beralih menjadi teach from home.

Peran Guru yang mendidik, mengarahkan, memfasilator siswa kini sebagian besar diambil alih oleh Orangtua.

Pekerjaan Orangtua kini menjadi double. Bagaimana tidak, sebelum Pandemi, para Orangtua tidak sepenuhnya mengajar atau membimbing berbagai mata pelajaran kepada anak mereka, kini hampir 100% Orangtua mau tidak mau harus melakukannya.

Tidak semua Orangtua memiliki bekal mendidik dan mengajar dengan baik, pernyataan ini tak bisa dibantah, buktinya tidak sedikit anak yang merasa tidak nyaman diajar oleh Orangtua dengan alasan ‘galak’, mengapa? tidak jarang Orangtua memarahi, mencubit bahkan memukul pada saat mengajar atau membimbing anak pada saat mengerjakan tugas di  rumah.

Pada situasi seperti ini, diyakini bahwa Orangtua sadar akan tindakan Guru yang terkadang sedikit berlebihan dalam menangani kenakalan anak di sekolah.

Belum hilang diingatan kita pada tahun 2016, dunia pendidikan di tanah air heboh Guru dipenjarakan karena mencubit siswa dengan alasan yang wajar, Guru dipenjarakan karena mencukur rambut siswa, Guru SD diadili karena memukul siswa menggunakan mistar, dan masih banyak lagi yang semuanya itu dilakukan pada saat mendidik dan mengajar di sekolah.

Dari tindakan tersebut telah membuat ruang gerak Guru menjadi spotlight publik, ada yang setuju, namun tidak sedikit masyarakat mengutuk aksi tindakan para Orangtua saat itu.

Dengan diberlakukannya study from home membuat para Orangtua merasakan beban para Guru pada saat mendidik atau membimbing siswa di sekolah.

Tidaklah mudah, apalagi jumlah siswa lebih dari 20 siswa per kelas. Hal ini membuat paradigma tentang guru, sedikit demi sedikit mulai bergeser menjadi lebih baik.

Kedepannya, sebaiknya Orangtua selalu membuka komunikasi yang baik dengan Guru-guru atau minimal dengan Walikelas untuk membahas perkembangan anak. Jika ada kejanggalan terhadap anak.

Juga, sebaiknya dilakukan pengamatan, analisis lalu action sebelum bertindak. Ada banyak media yang bisa digunakan untuk membangun komunikasi dengan Guru. Kerjasama antara Guru dan Orangtua sangat perlu agar tindakan yang tidak diinginkan tidak terulang lagi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *