Guru, Siswa dan Orangtua Siswa

Pelajaran Hidup dan Kerja Keras dari Lapangan Piala Dunia Bukan Sekedar Gol

A group of young adults engaged in a competitive game of flag football on a sunny day.

Mengalami kekalahan dalam pertandingan sepak bola memang menyakitkan, tapi tahu tidak apa yang lebih horor? Yaps, melihat kertas ujian dihiasi tinta merah dengan tulisan “Ulangi/Remedial”. Menariknya, para bintang sepak bola dunia di panggung Piala Dunia ternyata juga sering mengalami momen “remedial” mereka sendiri mulai dari tendangan penalti yang meleset jauh ke angkasa, sampai taktik yang berantakan di menit-menit akhir.

Namun ada perdebatan, mereka tidak langsung mogok makan atau menangis di pojokkan. Dari lapangan hijau yang megah itu, kita bisa belajar bahwa hidup ini memang Lebih dari Sekadar Gol, Pelajaran Hidup dan Kerja Keras dari Lapangan Piala Dunia akan menunjukkan kepada kita bagaimana caranya bangkit setelah berkali-kali “ditekel” oleh keadaan, seperti ;

1. Kerja Sama Tim 

Di Lapangan: Bayangkan ada seorang striker yang egois ingin cetak gol sendirian. Dia menggiring bola dari gawang sendiri, melewati 5 bek lawan (center back, wing back/full back), tapi pas tinggal berhadapan sama kiper (goalkeeper/goalie), dia malah tendang angin dan bolanya melesung ke tribun penonton. Teman-temannya yang sudah lari-lari minta umpan cuma bisa kebingunggan sambil elus dada. 

Pelajaran Hidupnya: Di dunia nyata, ini mirip dengan tugas kelompok. Jangan jadi “striker egois” yang ingin mengerjakan semuanya sendiri supaya kelihatan paling pintar, atau sebaliknya jadi pemain cadangan mati yang cuma numpang nama di lembar jawaban tapi pas presentasi pura-pura sakit. Piala Dunia mengajarkan kalau kita mau angkat trofi (nilai A), semua posisi harus kompak. Yang pintar Bahasa Inggris jadi gelandang pengatur strategi, yang jago desain jadi sayap lincah bikin proyek dalam bentuk PPT estetis, dan yang jago berbicara jadi striker buat presentasi di depan guru galak!

2. Resiliensi / Bangkit dari “Tekanan” Kehidupan

Di Lapangan: Asyik giring bola, tiba-tiba dari belakang ada bek lawan datang dengan sliding tackle sekeras hantaman takdir kehidupan. Kamu guling-guling di rumput sampai lima kali, kesakitan, dan berharap wasit memberikan kartu merah. Tapi apa yang dilakukan pemain profesional setelah itu? Mereka berdiri lagi, merapikan kaos kaki, dan lari lagi mengejar bola.

Pelajaran Hidupnya: Hidup ini penuh dengan sliding tackle tak terduga. Kadang wujudnya berupa nilai fisika yang anjlok, diputusin gebetan pas lagi sayang-sayangnya, atau ketahuan menyontek. Piala Dunia memberitau kita untuk tidak kelamaan guling-guling meratapi nasib. Menangis di lapangan tak akan membuat wasit memberikan kamu gol gratis. Perbaiki mentalmu, rapikan “kaos kakimu”, dan kembali ke permainan!

3. Kerja Keras di Balik Layar (Latihan Bertahun-Tahun Demi Main 90 Menit)

Di Lapangan: Kita cuma melihat Messi, Mbappe’, Ronaldo pamer piala, selebrasi ikonik, dan senyum ganteng di media sosial. Tapi kita lupa kalau mereka harus bangun subuh setiap hari, lari keliling lapangan sampai kaki rasanya mungkin mau copot, dan makan makanan sehat yang mungkin rasanya hambar demi performa 90 menit di lapangan.

Pelajaran Hidupnya: Banyak dari kita yang ingin mendapat peringkat satu tapi belajarnya cuma 5 menit sebelum tidur, itu pun sambil scroll akun media sosial. Piala Dunia itu bukti nyata kalau proses tak pernah bohong. Kalau ingin bersinar pas hari H (pas ujian atau kompetisi), ya harus rela “berdarah-darah” pas latihan. Tak ada sejarahnya pemain juara dunia yang latihannya cuma rebahan sambil dengerin lagu galau. Big No!

4. Menghargai Proses 

Di Lapangan: Setelah 90 menit saling sikut, saling melotot, dan kejar-kejaran sampai keringat bercucuran, begitu peluit panjang berbunyi, apa yang pemain lakukan? Mereka berpelukan, tukaran jersey (meskipun jerseynya sudah bau keringat), dan salaman. Tak ada yang setelah kalah langsung bikin status hujat wasit di second account media sosial mereka.

Pelajaran Hidupnya: Kalah itu biasa, yang tak biasa itu kalau kalah terus langsung marah dan menuduh saingan curang. Di sekolah, kalau temanmu dapat nilai lebih tinggi atau menang lomba, salami mereka. Akui kehebatan lawan sambil bisik dalam hati, “Awas ya, semester depan saya juga akan menang!” Itu baru namanya mental sang juara!

Kesimpulannya: Piala Dunia itu bukan cuma menonton 22 orang cowok memakai celana pendek rebutan bola demi gengsi. Itu adalah miniatur kehidupan! Jadi, nonton bola bukan sekedar menonton, Ini sedang belajar filsafat kerja keras tingkat tinggi!.

 Baca Juga :

Beberapa Materi MPLS

Delyana Tonapa

I am Delyana