Guru, Siswa dan Orangtua Siswa

Kartini Tidak Pernah Bilang Skincare Itu Opsional

A black woman applies skincare cream indoors, wearing a white robe beside a green plant.

Selamat hari Kartini hai kita semua wanita hebat Indonesia. Mungkin beberapa atau bahkan banyak di antara para Dels tidak merayakan atau tidak mengikuti upacara untuk memperingati hari Kartini yang ke-147. Tak masalah, namun taukah anda bahwa ada analogi lain memperingati hari Kartini, ini sedikit lucu, namun saya yakin anda akan suka, ini tentang  membenturkan nilai perjuangan sejarah dengan realitas gaya hidup modern, Yap, tentang skincare, wajah emansipasi di Balik Serum.

  • Konde dan Masker Wajah. Ini membuka dengan perbandingan antara persiapan Kartini zaman dulu (berkonde dan berkebaya) dengan ritual wanita masa kini  sama dengan runtutan 10 langkah skincare, mulai menggunakan serum, moisturizer dan lain-lain. Merawat diri bukanlah bentuk kedangkalan (vanity), melainkan bentuk apresiasi terhadap diri sendiri, sebuah kemewahan yang dulu diperjuangkan agar bisa dinikmati wanita masa kini.  Maksudnya menjadi wanita cerdas dan berdaya tidak harus berarti mengabaikan penampilan. Ini sangat penting, karena hal pertama yang diperhatikan adalah penampilan.
  • Habis Kusam, Terbitlah Glowing. Ini Adalah filosofi Cahaya, Jika Kartini berbicara tentang “Cahaya” setelah kegelapan, maka wanita kita, Wanita modern menerjemahkannya sebagai inner glow dan outer glow. Yah, inilah alasannya mengapa saat ini skincare laku pesat, karena banyak wanita sadar akan pentingnya merawat diri daripada hal yang tidak membuat diri bahagia.
  • Self-Love sebagai Perlawanan. Mungkin anda sering mendengarkan ini diberbagai media sosial untuk selalu mencintai diri sendiri, tidak hanya dengan merawat diri seperti penampilan, namun juga tentang merawat mental untuk selalu sadar. Cara sederhana dengan meluangkan waktu 15 menit untuk skincare-an atau melakukan hal yang sangat disukai di tengah kesibukan, ini adalah salah satu cara kita menghargai tubuh yang sudah bekerja keras.
  • Pejuang Retinol vs. Pejuang Feodalisme. Mungkin ada yang bertanya Retinol apa?, well, ini adalah salah satu bahan kandungan skincare, tapi maksudnya ini adalah ketangguhan mental menghadapi dunia kerja yang keras butuh mental sekuat baja dan skin barrier yang sehat agar selalu menyala. Dulu Kartini melawan pingitan, sekarang kita melawan radikal bebas dan standar kecantikan yang tidak realistis.
  • Diplomasi di Balik Meja Rias. Kepercayaan diri adalah senjata tentang bagaimana merasa nyaman dengan kulit sendiri meningkatkan performa wanita dalam memimpin dan berkarya. Ini juga berhubungan tentang kemandirian finansial dalam hal membeli skincare dengan uang sendiri adalah bentuk emansipasi yang nyata. Kartini pasti akan bangga melihat wanita moderen punya dompet yang stabil.
  • Skincare sebagai “Me Time” Masa Kini. Ritual meditasi modern kini diganti dengan yang serba cepat, saat memakai moisturizer adalah momen satu-satunya kita benar-benar “menyentuh” dan peduli pada diri sendiri. Ini bisa berhubungan dengan solidaritas wanita tentang bagaimana obrolan tentang rekomendasi produk bisa menjadi jembatan persaudaraan antar wanita (Sisterhood). Yap, ini sering terjadi dengan menanyakan “kamu pake bedak apa?, “serum merk apa yang kamu pakai?” dan lain-lain.

Kartini memperjuangkan hak kita untuk memilih. Jika kita memilih untuk menjadi pebisnis, guru yang rajin pakai sunscreen, itu adalah hak prerogatif Wanita Merdeka, jadi “Kartini Masa Kini” mesti berani bermimpi setinggi langit, tapi tetap memastikan wajah tetap lembap saat mencapainya, agar tidak terlalu kelihatan kusam, karena terlalu kelelahan berjuang.

Delyana Tonapa

I am Delyana