Belajar Susah Payah, Tapi Ujungnya Kerja Serabutan, Masihkah Ijazah Kita Berharga?
![]()
Tau tidak?, hehehe
Anda pasti tau.
Kertas yang paling mahal dalam hidup, dicetak dengan kertas tebal berhologram, dibeli pake air keringat serta air mata, dan Uang Komite atau Uang Kuliah Tunggal (UKT) selama bertahun-tahun, itu apa?. Yap, itu adalah Izasah. Ini adalah sesuatu yang berharga untuk menunjang karir dan kehidupan.
Namun, beberapa bulan kemudian, kenyataan menampar.
Ijazah yang telah diperjuangkan hanya tersimpan rapi di dalam map izasah, sementara anda berada di jalanan sebagai pengangguran, driver ojek online, menjadi staf administrasi dengan gaji di bawah UMR, atau terjebak dalam industri gig economy menjadi pekerja lepas serabutan demi menyambung hidup. Fenomena ini bukan lagi kasual, ini telah menjadi potret massal generasi muda saat ini.
Pertanyaan tidak nyaman mulai muncul ke permukaan. Jika ujung-ujungnya kita bekerja serabutan, untuk apa kita belajar susah payah? Masihkah ijazah kita berharga, atau ia telah berubah fungsi menjadi sekadar tanda terima pembayaran sekolah/ kuliah yang mahal?.
Dunia pendidikan tinggi kita sering kali bertingkah seperti menara tinggi. Orang sibuk memperdebatkan teori-teori usang dan pemenuhan dokumen akreditasi administratif, sementara dunia industri bergerak secepat kilat, karena penuh persaingan. Ada jurang pemisah yang sangat lebar, sebuah mismatch atau ketidakcocokan antara apa yang diajarkan di ruang kelas dengan apa yang dibutuhkan oleh meja kerja saat ini.
Sekolaha tau kampus sering kali hanya menghasilkan lulusan yang tahu “teori”, tetapi gagap saat diminta menyelesaikan masalah nyata atau menghubungkannya secara kontekstual. Akibatnya, kurikulum selalu terlambat mengejar ketertinggalan. Saat industri sudah berbicara tentang otomatisasi canggih, analisis data skala besar, dan adaptasi AI, ruang-ruang kelas kita masih sibuk mendikte catatan dan menghafal definisi demi nilai A.
Artinya, dunia kerja tidak peduli dengan nilai, jika anda tidak tahu cara mengeksekusi, mempraktekkan menganalisa sebuah proyek. Industri mempekerjakan orang yang bisa membeli solusi dan keterampilan, bukan deretan angka atau nilai di atas kertas bermaterai.
Dahulu, memiliki izasah adalah tiket emas menuju kelas menengah. Menjadi sarjana berarti jaminan mendapatkan pekerjaan mapan dengan meja kerja yang nyaman. Hari ini? Ini telah mengalami inflasi atau menurunnya daya tarik dunia kerja terhadap izasah, namun terhadap kemampuan atau keterampilan.
Mengapa ini terjadi?, karena semua orang bisa dan dituntut untuk sekolah, memiliki gelar, kini hanya dianggap sebagai “standar minimum” yang baru. Nilainya di mata departemen HRD (Human Resources Department) tidak lagi seistimewa dulu.
Pendidikan yang semestinya menjadi alat mobilitas sosial untuk memutus rantai kemiskinan, perlahan berubah menjadi bisnis komodifikasi. Siswa maupun mahasiswa diperlakukan seperti konsumen yang membeli produk berizasah atau bergelar, tanpa ada jaminan bahwa produk tersebut memiliki nilai jual di pasar yang sesungguhnya.
Jadi, Ijazah tidak lagi berharga jika ia hanya berdiri sendiri. Selembar kertas itu tidak memiliki kekuatan gaib untuk membuka pintu gerbang kesuksesan di tengah badai ekonomi modern. Sudah saatnya siswa/mahasiswa, orang tua, dan terutama para pembuat kebijakan di bidang pendidikan sadar secara kolektif. Kita tidak bisa terus-menerus meninabobokan generasi muda dengan ilusi bahwa “kuliah tinggi pasti sukses,” sementara kita membiarkan mereka masuk ke pasar kerja tanpa senjata terampil yang relevan.
Jika ijazah hari ini hanya mengantarkan pelakunya menjadi pekerja serabutan yang rentan, maka yang salah bukan pemuda yang malas belajar. Yang salah adalah sistem pendidikan yang gagal melihat ke mana arah masa depan bergerak.
Tak sedikit lulusan SMA/SMK atau sarjana (S1) yang mengalami underemployment (bekerja di bawah kualifikasi pendidikan mereka) atau terjebak dalam industri gig economy (ojek online, kurir, pekerja lepas kasar) demi menyambung hidup, di tengah biaya pendidikan yang tidak murah termasuk biaya penunjangnya.
Baca Juga :