Siswa

Ketika Bola Futsal Bertemu dengan Present Tense

Sore tadi,  matahari di sekolah mulai kelihatan. Sebelumnya, samar tertutup kabut yang ternyata itu adalah asap.

Setelah mengajar, pulang cepat dan balik pagi ke sekolah untuk mengambil sesuatu yang tertinggal sekaligus abses sore. Saat mau pulang cepat, langkah kaki ini mendadak terhenti di dekat lapangan.

Pandangan Ibu langsung tertuju pada kalian, anak-anak gadis yang biasanya di kelas cuma bisa senyum, menguap kalau Ibu suruh baca teks bahasa Inggris. Hari ini, kalian terlihat sangat berbeda, garang sekali seperti singa kelaparan yang sedang melakukan high pressing di lapangan futsal sekolah yang warnanya sedikit mulai pudar.

Ibu berdiri di pinggir lapangan sambil memegang ponsel, jujur saja, agak melongo. Kaki-kaki kecil kalian yang kalau di kelas malas sekali melangkah ke depan papan tulis, sekarang malah lincah sekali melakukan dribbling meliuk-liuk melewati lawan.

Ibu melihat si ketua kelas melakukan operan assist lambung yang ciamik, disusul tendangan volley dari si sekretaris yang langsung menjebol gawang. Hebat betul! Ibu sampai reflek bertepuk tangan, walau sebenarnya Ibu tidak paham-paham amat apa bedanya posisi pivot sama anchor.

Melihat kalian berkeringat dan tertawa lepas, ada rasa bangga yang menyelinap di dada Ibu. Ternyata, siswi-siswi juga punya bakat terpendam yang luar biasa di luar ruang kelas yang membosankan (menurut kalian).

Kalian terlihat begitu cerdas membaca pergerakan lawan, bahkan Ibu sempat terkesima melihat si bendahara kelas dengan tega melakukan nutmeg mengolongi bola di antara dua kaki lawan sampai lawannya muter-muter mencari bola. Ibu sampai berpikir, “Wah, kalau di lapangan saja bisa berpikir taktis dan secepat ini, harusnya otak kalian ini punya kapasitas yang luar biasa!”

Namun, keseruan itu mendadak berganti jadi komedi ketika si striker andalan kita berniat mengambil bola yang keluar lapangan , eh, dia menginjak genangan air dan terjatuh, lalu mendarat dengan sukses di atas genangan air depan Mushola sekolah. Kejadian menyedihkan tapi banyak yang tertawa.

Ibu menegur yang tertawa, namun yah, mereka juga tidak tau apa yang mereka lakukan.

Di tengah keriuhan tawa itu, seketika petir kenyataan menyambar pikiran Ibu. Ibu langsung teringat lembar jawaban UTS bahasa Inggris kalian dua minggu lalu yang warnanya lebih banyak coretan merah daripada hitam.

Tiba-tiba saja bayangan nilai angka 40 dan 50 menari-nari di atas kepala Ibu, merusak pemandangan indah taktik power play yang baru saja kalian peragakan dengan apik di lapangan.

Sambil tersenyum kecut di pinggir lapangan, Ibu bergumam dalam hati, “Aduh anak-anakku sayang… kalian memang jago, cerdas, dan lincah sekali kalau urusan strategi flank kanan-kiri. Tapi… ingatan kalian tentang rumus tenses kok bisa secepat itu hilang seperti ditiup angin malam, ya?

Kalian bisa begitu fokus mengejar bola, tapi kenapa begitu melihat teks bacaan bahasa Inggris langsung pura-pura pingsan dan mendadak pamit izin ke toilet?”

Ibu akui, Ibu tidak tahu cara bermain futsal, bahkan mungkin kalau Ibu yang dipaksa jadi goalkeeper, Ibu malah akan lari bersembunyi di balik tiang gawang karena takut kena hantam bola.

Ibu tidak tahu bagaimana caranya melakukan clearing bola yang bersih. Tapi kalian juga harus ingat satu hal penting yang tidak boleh ditawar-tawar: sekencang-kencangnya tendangan shooting kalian, kalian belum bisa sejago Ibu kalau sudah urusan speaking dan grammar bahasa Inggris, toh?

Makanya, setelah peluit full-time berbunyi, Ibu langsung menghampiri kalian yang sedang asyik meneguk es teh plastikan di pinggir lapangan sambil sibuk menyodok sepatu yang nyangkut di genteng pakai bambu. Dengan senyum paling manis namun dengan tatapan mata yang tegas, Ibu menyapa, “Wah, hebat sekali mainnya ya! Tapi ingat, besok subuh Ibu tunggu tugas teks analitikal eksposisi di meja Ibu, ya. Jangan sampai operan bola kalian saja yang go international, tapi nilai bahasa Inggris-nya masih betah di zona degradasi!”

(Beberapa situasi di atas, penulis tambahkan situasinya untuk mempercantik alur ceritanya).

Ijazah adalah simbol kehormatan 

Delyana Tonapa

I am Delyana