Cubitan Guru Untuk Masa Depan Kalian

Sumber Gambar : pixabay.com

Tadi pagi secara tidak sengaja, saya berjumpa dengan sekelompok anak-anak muda yang awalnya saya tidak kenal, di depan sebuah kios. Mereka tersenyum dengan wajah yang ceria dan saya membalasnya dengan senyuman dan salam “selamat pagi” yang sebenarnya saya merasa kwatir saat itu.

Rasa kwatir, karena hati saya terus bertanya-tanya ‘ini siapa yah? kok senyam-senyum kepada saya?’ Namun dalam keadaan seperti itu saya terus berjalan masuk ke dalam kios dan membeli beberapa keperluan.

Pada saat saya di kasir, seorang diantara mereka berkata “bu, nanti saya yang bayar” serius, saya tambah merasa aneh. “tidak usah” ujar saya. “tidak apa-apa bu kebetulan uang sisa belanjaan saya masih ada” sahut anak muda tersebut, tetapi saya tetap kekeh ingin membayar belanjaan saya sendiri dan akhirnya saya berhasil meyakinkan anak muda tersebut.

Setelah saya selesai bertransaksi, saya bergegas keluar dari kios dan hendak menaiki motor yang saya tumpangi, namun seorang dari antara mereka mendekati saya dan berkata “mam, mam su sombong, sampe?” serius saya shock. Lalu saya fokus memperhatikan mata anak muda tersebut yang pada akhirnya saya turun dari motor dan mendekatinya.

“Astaga, ternyata kamu? Maaf, mam lupa nama, tapi mam ingat kamu” anak muda itu menjawab “trus mam tra kenal dorang ini?” saya perhatikan dengan baik dan ternyata mereka adalah lulusan dari sekolah dimana saya bertugas saat ini. “Ampun eee, ini kalian sekarang?, maaf mam sudah tidak begitu mengenal kalian, penampilan kalian sudah berbeda” “ah tra apa-apa, mam. Itu biasa” sahut salah seorang dari mereka.

“Lalu bagaimana kalian bisa ada disini” saya bertanya, “kitong bosan di rumah terus mam, mau pergi ke pantai, tapi tenang kitong akan jaga jarak dengan orang disana”. “ trus mam masih di tempat mengajar dulu?” Dia lanjut bertanya “iya” “kalian macam su hilang ditelan bumi kah, tidak pernah ada kabar” saya lanjut bertanya. “Maaf mam, kitong baru lulus kuliah tahun lalu dan sekarang su kerja di salah satu perusahaan di PNG” “Asli, kalian mantap, harus tetap semangat yah!”. “pasti mam” sahut beberapa dari antara mereka.

“Mam, terima kasih dulu su sering cubit kitong kalau malas belajar, berkata tidak baik ke teman dan berkelahi, mam pu cubitan itu yang bikin kitong begini” lanjut anak tersebut. “iya, sama-sama, itu sudah tugas kami Guru-Guru, mam juga berterima kasih, karena walaupun dulu kalian suka bikin gerakan tambahan, kalian masih bisa kontrol diri untuk mendengarkan teguran mam dan teguran Guru-guru lain di sekolah”.

Setelah hampir sekitar 20 menit kami bercakap-cakap dibawah pohon yang sedikit rindang,  kami meninggalkan tempat tersebut dengan rasa sedikit sedih, sedih karena kami tidak bisa saling bersalaman, tidak bisa leluasa berbicara. Semua itu kami lakukan untuk pencegahan Covid-19.

Saya merasa bangga kepada mereka, karena sejujurnya dulu, pada saat masih sekolah,  ada dua diantara mereka memiliki sifat nakal bahkan jarang ikut belajar di kelas, kegiatannya hanya bermain bola di lapangan, namun sekarang dia berhasil mengapai salah satu cita-citanya.

Ada sedikit pelajaran yang bisa diambil dari pertemuan tersebut, yaitu :

  1. Tak Ada yang Tau Masa Depan Seseorang. Siswa yang selalu taat saat ini, belum tentu sukses di masa mendatang dan sebaliknya. Semuanya berasal dari diri sendiri, Bagaimana seseorang mau memantaskan dirinya agar layak di mata keluarga dan masyarakat. Maka dari itu hendaknya selalu fokus akan cita-cita di masa depan, agar apapun yang dilakukan saat ini, tujuan masa depan tetap diutamakan.
  2. Ada Masa kalian Akan Terlihat Cantik atau Tampan. Anak-anak sekolahan yang memiliki sifat minder, karena tidak bisa memiliki baju, tas, sepatu yang bagus atau bahkan membeli bedak juga susah, karena tidak punya uang. Tahan, setelah lulus sekolah atau kuliah, bekerjalah maka kalaian akan melihat perubahan pada diri kalian. Trust me.
  3. Amarah Guru Mayoritas Untuk Kebaikan Kalian.  Siswa (i) yang kerap protes Guru karena sering marah, sebaiknya introfeksi diri. “ada asap, ada api” begitulah pribahasanya. Tidak mungkin Guru akan memarahi, mencubit, menegur kalian, jika tidak ada alasannya.

Demikianlah cerita saya hari ini, semoga bermanfaat untuk kita semua.