Guru

Ketika Pemahaman Siswa Melengkapi Penjelasan Guru

Engaged students studying in a diverse classroom environment, showcasing educational commitment.

Bayangkan seorang guru Bahasa Inggris sedang menerangkan Simple Present Tense dengan penuh semangat membara, papan tulis penuh rumusan, dan tutup-tutup spidol melayang-layang perlahan ke segala arah.

Di saat guru tersebut merasa penjelasannya sudah setara tingkat profesor pemenang Nobel, seorang siswa di barisan belakang tiba-tiba mengacungkan tangan dan berkata, “Eee, maksud Ma’am, “Simple Present Tense, menjelaskan hal yang fakta?” “Kalau saya lapar?, itu memang terjadi sekarang”. Pada momen magis itulah, rumusan rumus rumit yang tadinya melayang-layang di udara langsung mendarat mulus di bumi lewat perumpamaan sederhana sang siswa. Candaan siswa terkadang benar, namun kurang pas.

Proses belajar mengajar di dalam kelas bukanlah jalur satu arah tempat guru menuangkan air ilmu ke dalam gelas kosong siswa. Sebaliknya, ruang kelas adalah lingkungan tempat diskusi, berbagi persepsi, dan sudut pandang yang saling berbenturan.

Ketika seorang guru mengelaborasi suatu materi, penjelasan tersebut diproses melalui kacamata pengalaman bersosialisasi, wawasan, serta tingkat pemahaman masing-masing siswa yang sangat beragam, yang terkadang memberikan sumber ilmu baru dari siswa, seperti menambahkan penjelasan tentang sesuatu yang pernah mereka baca dari sumber berbeda. 

Penjelasan seorang guru sering kali terstruktur secara akademis, terikat pada kurikulum, dan menggunakan terminologi resmi. Di sisi lain, siswa memiliki cara berpikir yang lebih intuitif, dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari, dan tidak terkungkung oleh batasan bahasa ilmiah seperti guru.

Ketika siswa berani menyampaikan pemahaman mereka sendiri, meskipun dengan gaya bahasa yang polos atau kiasan yang tidak biasa, mereka sebenarnya sedang menjembatani teori yang kaku dengan realitas hidup yang sering mereka lihat, dengar, lakukan, fikirkan dan rasakan.

Kelengkapan proses belajar justru terjadi saat gagasan guru dan respons siswa saling melengkapi. Penjelasan guru memberikan fondasi konseptual yang kuat, sementara pemahaman siswa memberikan gambaran sejauh mana materi tersebut benar-benar relevan dan menyatu,  tanpa adanya konfirmasi atau pelafalan ulang dari siswa, guru tidak akan pernah tahu apakah materi tersebut benar-benar dipahami atau sekadar dihafal untuk kebutuhan ujian semata.

Ruang kelas yang hidup adalah ruang kelas yang memberi tempat bagi suara siswa untuk hadir melengkapi, mengklarifikasi, bahkan mengkritik penjelasan materi. Ketika guru mampu mendengarkan cara siswa membahasakan ulang suatu konsep, guru tidak hanya mengukur tingkat pemahaman kelas, tetapi juga memperkaya metode penyampaian materinya sendiri di masa depan. Interaksi timbal balik ini mengubah kelas dari panggung tunggal menjadi tempat kolaborasi pemikiran.

Sebab, kita para guru, mengajar ternyata bukanlah tentang membuktikan seberapa cerdas kita di depan papan tulis atau proyektor, melainkan tentang seberapa banyak pemikiran siswa yang berhasil kita nyalakan.

Merasa diri paling tahu atau tersinggung ketika pemahaman siswa hadir menyempurnakan alur penjelasan kita adalah hal yang patut disyukuri. Guru yang hebat bukanlah guru yang suaranya paling mendominasi ruang kelas, melainkan guru yang mampu mendengarkan dan merayakan saat siswanya mulai bisa berpikir sendiri.

Baca Juga :

Alasan Anak Indonesia Kurang Membaca

Delyana Tonapa

I am Delyana