Mengajar Dan Belajar Online Terasa Berat Diongkos

Sumber Gambar : Pixabay.com

Hari ini, saya membaca sebuah artikel yang diterbitkan oleh merdeka.com bahwa Mendikbud Nadiem Karim dikritik oleh salah seorang artis sekaligus anggota DPRD DKI Jakarta, karena Bapak Nadiem sempat mengatakan bahwa pembelajaran jarak jauh dapat diterapkan secara permanen di masa Pandemi Covid-19.

Agustina Hermanto atau dikenal dengan nama Tina Toon mempertanyakan apakah kuota internet akan disokong? Pasalnya tidak semua pelajar berasal dari kalangan menengah keatas dan belum melek teknologi.

Melihat masalah tersebut, menggelitik hati saya untuk bertanya, apakah tidak ada jalan tengah untuk mengatasi hal ini? sementara hidup harus terus berjalan. Tidak mungkin karena Pandemi siswa tidak belajar hingga waktu yang tidak ditentukan.

Jika kita melihat keadaan perekonomian saat ini, memang negara mengalami defisit keuangan, hal ini mendorong Pemerintah untuk terus berupaya untuk mengambil kebijakan agar pendapatan tidak merosot tajam, dengan diambilnya satu cara yaitu penormalan baru.

Dengan cara ini, diharapkan orangtua siswa dan pemerintah dapat berfikir keras untuk melakukan berbagai upaya agar masa Pandemi ini tidak menghentikan aktivitas siswa (i) untuk tetap belajar walau dari rumah.

Langkah cepat yang telah dilakukan pemerintah bagi dunia Pendidikan adalah memberikan pelatihan online kepada Guru-guru untuk mengikuti Webinar yang telah diadakan pada tanggal 2 Mei 2020 oleh PGRI yang bekerja sama dengan rumah belajar dan mahir academy  guna memberikan semangat, pandangan-pandangan atau metode yang bisa digunakan Guru pada pembelajaran online di masa Pandemi Covid-19.

Sejak itu, banyak bermunculan pelatihan Guru secara online yang notabene telah  membantu Guru-guru dan  pemerintah untuk tidak  mengeluarkan banyak dana, sehingga Guru memiliki bekal dalam mengajar.

Namun hal yang menjadi polemik adalah Guru dan siswa siap mengajar dan belajar dari rumah, kandas dibiaya paket data. Jika Guru masih terbantukan dengan sedikit pendapatan sebagai Guru, namun bagaimana dengan siswa (i) seperti yang disoroti oleh banyak pihak.

Tentu orangtua siswa (i) ingin anak mereka tetap belajar, namun tentu dengan pendapatan yang seadanya, mereka masih butuh dana ekstra karena penggunaan paket data tidak murah, terkecuali bagi mereka yang mampu.

Pikiran rakyat.com menjelaskan bahwa Bappenas memprediksi jumlah penduduk miskin akan bertambah sebesar 2 juta orang, hal ini terkain dengan meningkatnya jumalah pengangguran yang terus meninggkat akibat Covid-19.

Jika kita mengamati keadaan siswa (i) yang tidak semua orang berada,  apakah keadaan ini akan menghalangi mereka untuk belajar? Hal ini memunculkan pertanyaan serius “dimanakah peran Pemerintah terkait masalah nasional ini?”

Peran Pemerintah tentu sangat diharapkan oleh rakyat, dalam hal ini harapan orangtua siswa (i) agar mendapatkan perhatian khusus. Tidak sedikit orang bertanya tentang bantuan pemerintah berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang tidak cukup jika digunakan untuk memenuhi beberapa kebutuhan  sehari-hari dan ditambah lagi dengan kebutuhan tambahan seperti pembelian paket data untuk siswa (i) gunakan belajar.

Namun ada hal lain yang selama ini Pemerintah telah lakukan yaitu memberikan bantuan-bantuan berupa beasiswa untuk siswa kurang mampu, Program Indonesia Pintar (PIP), bantuan untuk Putra (i) daerah dan lain-lain yang jumlahnya tidak terlalu besar, namun sangat membantu siswa (i).

Dengan adanya pandemi ini diharapkan Pemerintah pusat dapat bekerjasama dengan Pemerintah daerah dan jajaran terkait dapat memikirkan masalah penyediaan paket data atau pengadaan sambungan jaringan gratis dibeberapa titik di setiap RT/RW, agar Pandemi ini tidak menjadi halangan bagi Guru dan siswa dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.