Kalian Membuat Saya Bersedih, Sekaligus Bersyukur.

Sumber Gambar : honestDocs.com

Hari ini, perasaan saya campur aduk, mau dibilang sedih, tetapi saya merasa bahagia. Saya mencoba untuk mengalihkan perasaan saya dengan melakukan hal yang saya sukai, seperti menulis dan menonton film, tetapi tetap saja hati saya tidak bisa saya ajak kompromi.

Sudah beberapa hari, lima orang Ibu-ibu  menelfon via whatsapp dan messanger. Awalnya saya mengabaikan panggilan tersebut seperti yang saya lakukan sebelumnya kepada beberapa penelfon yang iseng karena artikel saya. Saya menolak panggilan dan langsung menghapus pesan di messanger. Alasanya karena mayoritas penelfon melakukan hal yang hanya membuang waktu saya.

Setelah saya membaca satu pesan yang isinya berterima kasih dan ingin berbicara langsung, saya mengiyakan dan percakapan pun berlangsung, tetapi dipertengahan saya merasa kagum, namun sekaligus sedih akan beberapa curahan hati yang mengingatkan saya akan kehidupan saya dulu.

Dari beberapa percakan dengan para ibu-ibu, hal yang paling menyentuh hati saya adalah perjungan mereka bertahan hidup selama Pandemi ini. Ada yang harus memulai hidup dari nol, dan ada pula yang shock karena sebelumnya Ibu tersebut tidak mempunyai persiapan akan adanya Pandemi yang membuat keluarganya hampir tidur di jalanan.

Hal yang membuat buibu tersebut menelfon saya adalah karena artikel saya sebelumnya yang berjudul “Menggangur Selama Pandemi, Yuk Menghasilkan”  tanpa saya sadari ternyata ada beberapa pembaca yang mengikuti saran saya untuk menghasilkan di masa Pandemi ini.

Saya bersyukur jika memang tulisan saya bermanfaat. Jujur, saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari tulisan-tulisan saya. Maklum saya masih beginner di dunia blog, tetapi saya memiliki pengalaman yang saya bisa share dengan harapan, tulisan saya dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan saya mendapatkan feedback juga.

Dari percakapan saya dengan para Ibu-ibu, saya memetik beberapa pelajaran berharga yang mungkin bisa diimplementasikan dalam hidup, yaitu :

Anak Sekolah Perlu Memiliki Keterampilan. Hidup adalah misteri, tak ada yang tau akan hari esok. Mungkin ungkapan ini cocok untuk menjelaskan bahwa setiap orang, khususnya anak-anak zaman sekarang haruslah memiliki suatu kelebihan.

Hal demikian bisa dilihat dari talenta yang sudah dimiliki sejak kecil atau sesuatu yang dipelajari yang kemungkinan bermanfaat atau memiliki peluang yang besar.

Contoh keterampilan yang bisa menghasilkan adalah skill memasak atau membuat kue, skill marketing atau kemampuan berkomunikasi untuk mempengaruhi orang lain untuk membeli sebuah produk, skill merajut, skill menjahit, skill layanan jasa atau apapun yang sekiranya dapat menghasilkan uang yang halal.

Mengenalkan Hidup Susah Kepada Anak. Selalu memperkenalkan hidup yang berkecukupan, makan makanan yang enak, berpakaian yang mewah, memanjakan anak dengan cara membela-bela kesalahan anak, bahkan selalu memuji-muji anak adalah didikan yang salah.

Saya ingat kakek saya dulu membiasakan saya makan nasi dan sayur kangkung bening tanpa garam. Hal ini dilakukan bukan karena kakek tidak mempunyai uang, sama sekali tidak. Kakek saya seorang pensiunan polisi yang memiliki gaji setiap bulan dan sudah tidak membiayai siappun kecuali saya.

Suatu hari di meja makan kakek berkata. “Dely. Bukan kakek tidak mau belikan makanan yang enak teru-menerus, bukan karena kakek  menghindari makanan yang mengandung garam saja, tetapi supaya Dely terbiasa hidup seperti ini” lalu saya bertanya “ kenapa harus terbiasa?” kakek menjawab “besar nanti Dely pasti tau alasanya”, walaupun seperti demikian dua kali dalam seminggu, kakek membelikan makanan kesukaan saya.

Setelah kepergian nenek dan saya tidak lagi tinggal dengan kakek di Palu, barulah saya menyadari bahwa hidup tidak selalu mulus, terkadang kita akan dihadapkan dengan kondisi yang sebelumnya belum pernah kita alami, dan mereka yang terbiasa atau pernah hidup susah tidak akan terlalu kesulitan menjalani hidup sulit karena sudah biasa.