Mengapa Siswa Perlu Menulis?

Sumber Gambar : pixabay.com

Salah satu kegiatan yang jarang diminati selain membaca adalah menulis.

Banyak alasannya, selain rasa malas, juga karena tidak ada pembiasaan sejak dini.

Kemarin, saya menanyakan hal ini kepada lima orang siswa yang semuanya menjawab tidak pernah menulis, terkecuali menulis tugas sekolah.

Tiga dari lima siswa-siswi tersebut mengatakan kami tidak memiliki ide untuk menulis, alasannya kami jarang membaca.

Sebelumnya, saya memang sudah menjelaskan bahwa jika ingin memiliki ide akan sebuah topik, kalian bisa menggunakan kelima indra kalian, seperti: tulislah apa yang kalian rasakan, lihat, dengar, fikirkan dan lakukan.

Lanjut, mereka juga mengatakan bahwa mereka tidak memiliki bahan bacaan untuk mendukung mereka. Hanya melalui alat komunikasi seperti android saja mereka bisa membaca.

saya bertanya “”mengapa kalian tidak berkunjung ke perpustakaan sekolah atau perpustakaan daerah untuk meminjam buku?”.

Seorang menjawab “buku-bukunya tra bagus”. Maksudnya  buku-buku di perpustakaan  kurang menarik untuk dibaca.

Sebenarnya, alasan mereka tidak sepenuhnya salah. Pada umur seperti mereka, pemahaman untuk menilai sebuah buku masih kurang tepat, mereka cenderung menilai  dari cover atau kondisi buku, bukan dari isi dari sebuah buku.

Saya fikir, seharusnya setiap perpustakaan memang harus menambah buku terbaru secara berkala, dan menyulap ruangan menjadi senyaman mungkin.

Pemilihan lokasi dan situasi tempat membaca dapat mempengaruhi siapa saja untuk datang berkunjung.

Kembali lagi pada topik.

Saya bertanya “lalu ke depannya apa yang akan kamu lakukan untuk mengisi waktu luang selain yang sudah sering kamu lakukan?”.

Seorang menjawab “kalau saya isi waktu luang cuma duduk-duduk istrahat saja” “sapa tau mama ada bikin kue kah, rebus atau kukus keladi kah, apa kah, atau makan pinang sama-sama  tete atau teman dorang sambil cerita” lanjutnya.

Mendengar penjelasan mereka saya memberi saran tentang betapa pentingnya memiliki karya, seperti hasil tulisan.

saya juga memberikan pribahasa. “kalian pernah dengar tentang pribahasa yang berbunyi  Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama?”.

“Pernah bu‘, tapi kitong belum mau mati” salah seorang meresponnya dengan maksud mencairkan suasana.

“yang suruh kamu cepat mati sapa” saya merespon. Maksudnya betapa pentingnya membuat sesuatu agar bisa diingat atau dikenang orang.

Hal yang paling sederhana dan paling populer orang lakukan adalah hasil karya. Contohnya bisa musik, lirik lagu, tulisan, alat teknologi dan lain-lain.

“Kalau berupa teknologi mungkin agak susah bu, kitong belajar sendiri saja pu susah apa”. Jawab seorang dari mereka.

“makanya perbesar usaha dan perkecil gaya” respon seorang lagi dari mereka kepada temannya.

“Husss. Stop sudah. Ibu ada serius ini”.

“Saran ibu, sebaiknya menulis setiap hari untuk melatih kalian menjadi terbiasa, tulis saja kegiatan kalian setiap hari dan isi apa yang kalian lihat, dengarkan, lakukan, rasakan dan fikirkan, itu saja, lama-lama kalian akan heran sendiri melihat karya kalian”.

“baik ibu, besok pagi saya akan coba. sa paksa diri sudah”. respon seorang dari mereka.

“trus waktu ibu masih sekolah, ibu pernah menulis juga kah?”. Seorang bertanya.

Iyo toh, zaman kami dulu buku diary laku, viral seperti hp sekarang. Masalahnya alat komunikasi belum menjamur seperti sekarang dan buku-buku diary bagus-bagus, juga surat menyurat dulu populer, kertas dan sampulnya wangi, sehingga kitong dulu suka menulis”.

“ibu juga dulu suka bikin puisi kalau lagi galau, tapi su tra tau dimana semua itu” Saya menjawab.

“Sayang sekali bu, kalau masih ada bisa jadi buku kapa?”. Seorang berkomentar.

“Betul anak, dulu tu tidak ada fikiran bahwa apa yang ditulis dulu bisa bermanfaat. Tidak ada juga orang yang kasih masukkan untuk menyimpannya dengan baik, malah kalau orangtua tau, disobek. hadeww.”

Terakhir, saya memberikan pesan kepada mereka untuk tidak menjadikan buku catatan menjadi buku gambar, atau  menjadikannya mainan pesawat atau perahu kertas.

Think out of the box. Jangan buat batasan tertentu dalam pemikiran kalian, lakukan, tekun dan lihat hasilnya.

Baca Juga : 

  1. Menulis bukan bakat, tetapi keterampilan
  2. Tidak suka membaca, anda kurang keren

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *