Tak Tau Nama Guru, Akhirnya Mendeskripsikan. Hayo, Siapa Yang Begini.

Sumber Gambar : Pixabay.com

Guru pasti sering disodorkan pertanyaan oleh siswa untuk menanyakan keberadaan Guru lain seperti ini ‘bu/pak,  Apakah Guru Matematika ada? Ciri-cirinya pendek, gendut, hitam dan tua’ atau ‘bu/pak, apakah Guru Matematika ada? ciri-cirinya tinggi, kurus,  agak botak  dan selalu pake kalung besar’.

Jika didengar sejenak, pertanyaan siswa seperti ini tentu terasa sangat mengocok perut, tetapi hal ini tidak pantas, karena siswa tidak mengetahui nama Guru yang mengajarnya.

Perkenalan pada setiap pertemuan pembelajaran pertama sangat penting, dimana perkenalan dapat menentukan kesan-kesan berikutnya. Apakah siswa mengingat nama Guru atau tidak, semua berawal pada hari perdana sekolah.

Tak kenal maka tak sayang, begitulah kira-kira kata Pepatah yang sering terdengar, namun anehnya jika siswa sudah tau Guru namun tidak kenal adalah hal yang tidak bisa disepelekan,  Karena jika dibiarkan, siswa akan selamanya tidak tau nama Gurunya.

Ada banyak kasus dimana Siswa (i) tidak memiliki kemauan untuk minimal menghafal nama Guru yang mengajar mereka, alasannya ‘apalah arti sebuah nama’, ini adalah ungkapan yang sering mereka sampaikan jika diingatkan untuk selalu mengingat nama Guru yang mengajar.

Perlu ada perubahan, walau Guru tidak selamanya bersama-sama dengan siswa (i), namun dengan mengetahui nama Guru bidang study yang mengajar di ruang kelas akan lebih memudahkan komunikasi dengan Guru.

Agar siswa tidak cepat lupa nama Guru yang mengajar, sebaiknya lakukan beberapa tips berikut:

  1. Mencatat nama Guru di buku catatan bidang studi yang diajarkan. Beda mata pelajaran, beda buku catatan. Sebaiknya tulislah nama Guru di halaman depan buku beserta nama dan kelas siswa agar setiap mengambil buku untuk esok hari, siswa bisa membacanya sebelum memasukkan buku ke dalam tas.
  2. Setiap memerlukan bantuan Guru, menyapa Guru, usahakan memanggil bapak/ibu Guru disertai nama. Selamat pagi Bu/Pak, Sapaan ini paling sering terdengar, ini tidaklah salah, namun tidak sepenuhnya benar. Untuk menjalin keakraban siswa dan Guru, sebaiknya menyebutkan nama Guru setelah sapaan Bu/Pak. Guru tidak semata Guru bagi siswa di sekolah, tetapi juga sebagai sahabat, maka ingatlah nama Guru, minimal Guru yang mengajar di kelas. Contoh: selamat pagi Pak Budi, atau selamat pagi Ibu Nur.
  3. Mengaitkan nama Guru dengan kata atau kalimat yang sering digunakan dalam mengajar atau dengan tampilan Guru. Ini adalah bagian yang paling mudah, tetapi hendaknya tidak dijadikan bahan olokan oleh siswa. Contohnya, Guru Sejarah sering menggunakan kata ‘sip’ maka ingatlah bahwa Bpk/Ibu yang sering ucakapan kata sip adalah Bpk/Ibu ………. (nama Guru), asal jangan memanggilnya Guru sip, akan runyam nantinya. hehe.

Dilansir dar BBC, 28 Februari 2017, menyatakan bahwa manusia tidak cakap  mengingat nama akan tetapi kita memiliki kemampuan alami dalam mengingat wajah seseorang.

Mengetahui hal ini tidak serta merta siswa (i) lupa akan nama Guru yang mengajar di kelas atau minimal tidak mendeskripsikan Guru jika lupa nama Guru yang dicari.

Sebaiknya  lakukanlah berbagai cara lain jika tips diatas tidak mempan untuk menghafal nama Guru, atau gunakan cara lain yang kalian anggap lebih ampuh untuk mengingat nama Guru.

Jika hal ini diketahui orang lain, pasti tidak akan membuat Guru tersebut merasa nyaman dan kalian akan dicap kurang mengenal Guru.

STOP mendeskripsikan Guru lagi jika tidak tau nama Bapak/Ibu Guru, Karena secara tidak langsung, menjelaskan ciri-ciri Guru dapat menjadi bahan tertawaan orang lain.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *