SekolahSiswa

The Art of “Mepet” Seni Mencari Alasan Paling Masuk Akal Saat Gerbang Sekolah Ditutup

Teacher interacting with high school students in a classroom setting.

Pukul 07.15 WIB. Gerbang II SMK Negeri Tree Jaya sudah ditutup rapat, dikunci dengan gembok sebesar kepala kayu yang sebenarnya bisa melekat dibetis.

Di baliknya, Pak Khair, satpam legendaris yang terkenal kebal dari segala jenis rayuan gombal, sedang berdiri melipat tangan sambil memasang wajah scrimgeour (dingin tanpa ekspresi) seperti singa yang mengancam musuh untuk menjauh.

Namun, suasana tegang itu sama sekali tidak berlaku bagi Matin.

Dia adalah salah satu siswa kelas XI kejuruan yang dinobatkan sebagai The Grand Master of Terlambat yang tiba-tiba muncul dari tikungan jalan dengan santai. Sepatunya setengah diinjak (gaya slip-on darurat), dasinya terselip di kantong celana, dan rambutnya berdiri seperti rambut pasukan kerajaan. 

Bukannya panik atau lari terbirit-birit, Matin justru merapikan kerah bajunya yang tertulis “sayang ko sekali”, menarik napas dalam-dalam, dan berjalan mendekati gerbang dengan penuh percaya diri seperti kepala sekolah yang datang untuk melakukan inspeksi mendadak.

“Matin! ko telat lagi?” seru Pak Ull dari balik pintu besi, suaranya menggelegar menyaingi bel sekolah.

Matin tidak langsung menjawab. Ia mengangkat tangan kanannya dengan gestur tunggu sebentar, lalu mengeluarkan botol air mineral dari tasnya, meneguknya sedikit, baru kemudian tersenyum ramah.

“Selamat pagi, Komandan Ull. Cuaca hari ini cerah toh, tapi kasihan ee, tra secerah sa pu masa depan hampir hancur karena insiden pagi ini”.

Pak Ull mendengus. “Matin, mau kasih alasan apa lagi ini? Kemarin ban motor bocor, minggu lalu kucing tetangga melahirkan di jok motor. sekarang apa lagi? Kaka samping rumah curi ko pu motor?”

Matin menggeleng pelan, memasang wajah paling tulus se-Kota Jayapura.

Wah, kalau kaka tetangga culik motor, itu urusan Ondo, Pak. Ini beda lagi. Kasusnya lebih ke ranah ekologis dan psikologis,” jawab Matin sambil mendekat ke gerbang.

“Singkat, padat, jelas, atau kamu bersihin toilet sampai kinclong!” ancam Pak Ull sambil menunjuk ember pel dari siswa baru.

“Begini, Pak Ull  yang ganteng dan bijaksana,” Matin mulai meramu argumennya. “Tadi pagi, tepat saat saya mau stater motor, mata saya tak sengaja melihat seekor semut merah sedang berjuang menyeberangi jalan setapak di garasi saya. Dia bawa sebutir gula pasir yang ukurannya sepuluh kali lipat lebih besar dari badannya.”

Pak Ull  memutar bola matanya dengan rasa malas. “Terus? Hubungannya sama gerbang sekolah ditutup apa?”

“Ada, Pak! Secara sosiologis, saya merasa terpanggil untuk menjadi kemanusiaan bagi semut itu. Kalau saya langsung lewat, kasihan itu semut, dia bisa mengalami trauma psikologis mendalam atau tertindas roda kapitalisme sa pu kendaraan. Jadi, saya harus menunggu dia sampai seberang dengan selamat.”

“Kamu mau saya suruh seberang jalan juga pakai ember pel?!” potong Pak Ull, urat lehernya mulai sedikit tertarik.

“Eits, tunggu dulu, Pak! Belum selesai!” Matin mengangkat telunjuknya. “Alasan kedua, dan ini cukup ilmiah. Berdasarkan teori relativitas Einstein, ruang dan waktu itu fleksibel. Rumah saya sebenarnya tepat waktu, tapi karena gravitasi di komplek saya pagi tadi lebih kuat dari biasanya, waktu berjalan lebih lambat buat saya. Jadi, secara hukum fisika kuantum, saya sebenarnya tidak terlambat. Sa pu jam tangan yang salah.”

Pak Ull menghela napas panjang, merenung sejenak, lalu menatap Matin dengan tatapan penuh keheranan campur kagum.

“Matiiinnn. Kamu ini niat sekolah, apa mau ikut audisi stand-up comedy tujuh belasan?” tanya Pak Ull pasrah. “Alasanmu itu makin lama makin tra masuk akal, tapi kreatif.”

Melihat pertahanan Pak Ull mulai goyah, Matin langsung melancarkan jurus pamungkasnya: senyum 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) plus tatapan anak pungut yang kelaparan.

“Namanya juga The Art of Mepet, Pak. Seni bertahan hidup di tengah kerasnya jadwal masuk jam 7 pagi. Bukankah seni itu memperindah hidup? Izinkan keindahan seni ini masuk ke dalam lingkungan sekolah, Pak…” bujuk Matin sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

Pak Tono akhirnya menyerah. Ia menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis, lalu memasukkan kunci ke gembok gerbang.

Ko masuk sudah. Tapi ingat! Besok kalau kamu terlambat lagi, alasanmu harus melibatkan dinosaurus atau minimal meteor jatuh. Kalau cuma semut, saya suruh ko perbaiki stop kontak yang rusak banyak itu!”

“Siap, Komandan! Laporan diterima!” seru Matin, lalu melenggang masuk ke halaman sekolah dengan gaya kemenangan penuh, siap menghadapi guru piket di meja hijau berikutnya.

Baca Juga :

Menempa Disiplin Jam Sekolah dan Kesempurnaan Atribut

Delyana Tonapa

I am Delyana