Siswa

Siapa yang Bisa Bikin Si Pemarah Tersenyum Dapat Es Cendol

Suasana Kelas XI  mendadak tegang ketika Jose, si biang kerok yang suka mengganggu teman, berjalan masuk dengan wajah ditekuk sekaku papan tulis. Sejak jam pertama, tidak ada satu pun orang yang berani menyapanya karena aura kemarahan Jose yang siap meledak kapan saja.

Danielo, yang biasanya menjadi target utama keusilan Jose, langsung mengambil langkah seribu untuk bersembunyi di balik punggung Fernando yang sedang asyik tertawa sendirian membaca komik. Melihat Jose yang terus cemberut seperti cucian belum kering, Fernando justru semakin terpingkal-pingkal tanpa sebab yang jelas, membuat Jose melotot galak dan mengebrak meja guru dengan keras.

Melihat situasi yang semakin tidak kondusif akibat aksi saling ganggu yang mulai menjurus ke arah perundungan verbal, Bu Mel selaku wali kelas langsung berdiri di depan papan tulis. Beliau mengumumkan sebuah kompetisi mendadak bernama “Sayembara Anti-Bully: Siapa yang Bisa Bikin Si Pemarah Tersenyum Dapat Es Cendol” gratis di kantin.

Sayembara ini sengaja dibuat untuk mengubah kebiasaan buruk geng Jose yang suka bercanda dengan cara saling merundung, menjadi interaksi yang lebih sehat dan menghibur. Danielo yang merasa tertantang langsung mengajukan diri sebagai peserta pertama, sementara Jose hanya melipat tangan di dada sambil memasang wajah paling menyeramkan yang ia bisa.

Danielo memulai aksinya dengan melontarkan ejekan akrab yang biasa mereka gunakan, mencoba memancing senyum Jose lewat jalur sarkasme. “Heh Jose, mukamu itu lipat-lipat begitu sudah mirip kanebo kering dijemur siang bolong tahu!” seru Danielo sambil berlagak menantang. Alih-alih tersenyum, Jose malah mendengus kasar dan matanya semakin menyipit tajam, membuat Danielo perlahan mundur teratur karena ngeri. Bu Mel langsung membunyikan peluit kecil sebagai tanda bahwa strategi Danielo gagal total, karena bercanda dengan cara saling mengejek ternyata sama sekali tidak mempan meredakan amarah seseorang.

Kini giliran Fernando si tukang ketawa yang maju ke depan kelas dengan percaya diri tinggi karena merasa memiliki bakat humor alami. Fernando tidak mengucapkan satu kata pun, ia hanya menatap mata Jose sambil tertawa terbahak-bahak dengan suara melengking yang sangat menular hingga seisi kelas ikut tergelitik.

Sayangnya, bagi Jose yang sedang pusing akibat nilai Bahasa Inggrisnya turun, tawa Fernando terdengar seperti ejekan yang sangat mengesalkan. Jose justru berdiri dari kursinya dengan mengepalkan tangan, membuat Fernando langsung menghentikan tawa sembernya dan lari terbirit-birit kembali ke pojok kelas sambil meminta ampun.

Di tengah keputusasaan satu kelas, Al yang dikenal sangat pendiam dan penurut tiba-tiba didorong oleh teman-temannya untuk maju sebagai harapan terakhir. Al yang berbadan agak tambun berjalan gontai mendekati Jose, membawa sebuah kipas sate dari bambu yang entah ia dapat dari mana. Dengan patuh, Al mulai mengipasi Jose yang sedang emosi, sambil sesekali memijat bahu Jose dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Namun, baru semenit menjalankan aksi penurutnya itu, napas Al mulai terengah-engah dan wajahnya mendadak pucat karena sifatnya yang memang sangat cepat lelah jika melakukan aktivitas fisik.

Jose yang tadinya siap mengamuk, mendadak bingung melihat Al yang mengipasinya dengan gerakan yang semakin lama semakin melambat seperti robot kehabisan baterai. Tepat di paruh menit kedua, Al tiba-tiba terduduk lemas di lantai kelas sambil memegangi lututnya, lalu berbisik dengan suara sangat pelan, “Aduh Jose, aku capek sekali, bolehkah aku menyerah saja dan ikut cemberut bersamamu?” Ekspresi wajah Al yang kepayahan digabung dengan kepasrahannya yang polos terlihat begitu absurd dan sangat menggelikan di mata Jose.

Pertahanan Jose akhirnya runtuh seketika melihat tingkah Al yang sangat ajaib tersebut. Jose langsung meledak dalam tawa lepas yang sangat lebar, membuat seluruh ketegangan di dalam ruang Kelas menguap begitu saja. Sesuai janji, Bu Mel langsung menobatkan Al sebagai pemenang sayembara anti-bully hari itu.

Sore harinya, Jose, Danielo, Fernando, dan Al duduk bersama di kantin menikmati es cendol kemenangan mereka, sambil berjanji bahwa mulai hari itu mereka akan belajar bercanda dengan cara yang sehat tanpa harus saling merundung lagi.

Baca Juga :

Mengapa nurani otak dan insting tetap menjadi ranah mutlak manusia

Delyana Tonapa

I am Delyana