Siswa

Satu Nusa, Satu Bangsa, Seribu Aksi.

people, primitive, warriors, tribe, culture, traditional, ethnic, lifestyle, tradition, papua, native american, new guinea, indonesia

Hi, welcome back with me.

Bayangkan jika para pemuda di tahun 1928 sudah mengenal media sosial. Mungkin Kongres Sumpah Pemuda tidak akan menghasilkan ikrar sakral, melainkan sebuah thread viral di Twitter yang berujung pada baku hantam netizen di kolom komentar, atau malah kompetisi joget antarsuku di TikTok.

Lucu memang membayangkannya, tetapi ada kehangatan yang menyelinap di dada saat menyadari bahwa tanpa gawai canggih dan koneksi internet, mereka bisa disatukan oleh satu hal yang melampaui ego, cinta yang tulus pada tanah air. Mereka tidak butuh tombol like untuk merasa berharga, karena bagi mereka, melihat Indonesia berdiri tegak adalah validasi tertinggi yang mereka impikan sepanjang hidup.

Perjuangan anak muda zaman dulu sangat kontras jika disandingkan dengan realitas generasi sekarang. Kalau dulu pemuda mengangkat senjata dan menyelinap di antara desingan peluru demi bisa membaca buku terlarang, anak muda hari ini justru sering kali kalah sebelum bertempur melawan rasa malasnya sendiri.

Fasilitas belajar sudah ada di genggaman tangan, akses informasi terbuka lebar, namun konsistensi menjadi barang yang sangat langka. Kita lebih betah menatap layar berjam-jam demi hiburan kosong, menunda tugas sekolah, dan membiarkan buku-buku digital berdebu di memori penyimpanan, melupakan bahwa kemerdekaan berpikir adalah hasil tebusan darah para pendahulu.

Ironinya, di sudut-sudut kota, kita kerap melihat pemandangan pilu yang menampar logika. Ada kisah nyata dari seorang siswa sekolah menengah yang memilih jalan gelap, ia lebih bangga menggenggam sebatang rokok dan terjerumus dalam jeratan narkoba daripada memegang masa depannya sendiri. Baginya, zat adiktif itu adalah pelarian instan dari tekanan hidup, tanpa pernah ia sadari bahwa setiap isapan dan konsumsi barang haram tersebut sedang membakar perlahan harapan orang tua yang memeras keringat demi menyekolahkannya.

Kisah heroik para pahlawan yang gugur di medan perang kini hanya dianggap angin lalu, sebuah dongeng pengantar tidur yang kalah menarik dibanding ilusi kesenangan sesaat.

Padahal, jika kita membuka kembali lembaran sejarah, ada air mata yang tumpah di setiap jengkal kemerdekaan ini. Pahlawan-pahlawan muda zaman dulu, banyak di antaranya masih berusia belasan tahun, rela melangkah keluar rumah, mencium tangan ibu mereka untuk terakhir kali, dan meninggalkan kekasih yang mereka cintai demi membela sebuah negeri yang bahkan belum merdeka.

Sebaliknya, miris sekali melihat fenomena hari ini di mana sebagian pemuda justru rela membuang dan mengkhianati ketulusan keluarga demi membela pergaulan yang salah, lingkaran pertemanan yang toksik, atau kesetiaan semu pada kelompok yang merugikan. Mereka lupa bahwa pelukan paling hangat dan benteng pertahanan paling kokoh saat mereka hancur adalah keluarga, bukan validasi palsu di luar sana.

Wahai pemuda masa kini, saatnya kita berhenti menyakiti diri sendiri dan mulai menyadari betapa berharganya eksistensi kita. Mencintai diri sendiri bukanlah dengan menuruti semua keinginan ego yang merusak, melainkan dengan menjaga tubuh dan pikiran kita tetap bersih, sehat, dan berdaya.

Ketika menolak rokok, menjauhi narkoba, dan memilih untuk bangun dari rebahan demi mengejar ilmu, kamu sedang melakukan aksi nyata menghargai kehidupanmu. Kamu adalah mahakarya yang dipersiapkan untuk masa depan, dan merusak diri sendiri sama saja dengan merubuhkan jembatan menuju impian-impian besar yang sudah menantimu di depan sana.

Perubahan besar selalu dimulai dari kepedulian yang kecil terhadap sesama manusia di sekitar kita. Pemuda yang mengguncang dunia bukanlah mereka yang hidup dalam menara gading keegoisan, melainkan mereka yang mau mengulurkan tangan saat melihat temannya terjatuh.

Mari ubah energi muda yang bergejolak menjadi aksi-aksi positif seperti saling menyemangati dalam belajar, menjadi pendengar yang baik bagi sahabat yang sedang rapuh, dan bersama-sama menolak segala bentuk pergaulan yang merusak. Ketika kita mulai peduli pada lingkungan sekitar, kita sedang merajut kembali benang-benang persatuan yang sempat longgar oleh ketidakpedulian.

Ingatlah bahwa esensi sejati dari Sumpah Pemuda adalah perjuangan demi kebersamaan, sebuah gotong royong  untuk membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Tidak ada gunanya kita berkompetisi untuk saling menjatuhkan atau sibuk dengan hal-hal tidak berfaedah yang hanya merugikan diri sendiri dan orang lain.

Kekuatan terbesar kita terletak pada persatuan saat mahasiswa, pelajar, dan seluruh elemen muda bergerak serentak dalam satu visi yang positif. Dengan menyatukan potensi, keahlian, dan kreativitas yang berbeda-beda, kita bisa menciptakan gelombang perubahan yang tidak terbendung untuk kemajuan Indonesia.

Hari ini, di momen refleksi Sumpah Pemuda, dunia sedang menunggu pembuktianmu. Jangan biarkan pengorbanan para pahlawan bangsa menjadi sia-sia hanya karena kita memilih untuk menyerah pada kemalasan dan kesenangan semu. Satukan nusa dengan toleransi, kokohkan bangsa dengan prestasi, dan mulailah melangkah dengan seribu aksi nyata yang menginspirasi. Berdirilah dengan tegak, tatap masa depan dengan penuh keyakinan, dan teriakkan pada dunia bahwa pemuda Indonesia siap mengguncang jagat raya dengan karya, cinta, dan kedamaian.

Baca Juga :

Menghidupkan Jiwa Peneliti dalam Diri Pendidik

Delyana Tonapa

I am Delyana