Orangtua SiswaSiswa

Mengapa Nurani, Otak, dan Insting Tetap Menjadi Ranah Mutlak Manusia

“Ku menangis… membayangkan… betapa kejamnya dirimu atas diriku…”

(Musik berhenti mendadak)🤭

Bapak, Ibu, dan anak-anakku sekalian, lirik lagu galau di atas sengaja saya putar bukan karena saya sedang patah hati, yaaa. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa sehebat-hebatnya Artificial Intelligence(AI) zaman sekarang, mereka tidak akan pernah bisa ikut menangis karena patah hati atau merenungi nasib seperti kita.

Akhir-akhir ini, saya sering melihat kalian para siswa mengandalkan AI untuk mengerjakan semua tugas sekolah, dari pelajaran Bahasa Inggris sampai pelajaran sejarah. Ingat, teknologi itu alat bantu, bukan pengganti kepala kalian. Mengapa nurani, otak, dan insting tetap menjadi ranah mutlak manusia dan tidak akan bisa direbut AI? Mari kita bedah bersama dengan tegas, jujur, dan sedikit waras.

Pertama-tama, Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya, menegaskan bahwa AI sejatinya hanyalah alat bantu penunjang pembelajaran. AI tidak bisa dijadikan pengganti otak, nurani, maupun insting manusia yang artinya AI itu tidak punya otak, mereka hanya punya kumpulan kode algoritma dan server yang kepanasan kalau disuruh berpikir terlalu keras.

AI bekerja dengan cara menyalin dan menebak data masa lalu yang sudah ada di internet. Sementara itu, otak siswa-siswi sekalian memiliki kemampuan ajaib bernama kreativitas murni dan penalaran kritis. Otak manusia bisa menciptakan ide baru dari ruangan kosong saat melamun di sore hari. Kalau kalian terus-menerus menyuruh AI berpikir untuk keperluan kalian, lama-kelamaan otak kalian bisa menyusut fungsinya dan berubah format menjadi sekadar pajangan di dalam tempurung kepala.

Selanjutnya, kita masuk ke komponen kedua yang paling mahal harganya yaitu nurani. AI itu tidak punya hati, tidak punya moral, dan tidak tahu rasanya bersalah. Kalau AI berbuat salah, dia tinggal memunculkan tulisan “Error 404” dan tanpa beban moral. Manusia dibekali nurani untuk membedakan mana yang baik, mana yang buruk, serta kapan harus berempati.

Ketika seorang siswa menolong temannya yang jatuh atau sakit, itu adalah kerja nurani. AI tidak akan pernah mengerti mengapa manusia mau berkorban demi orang lain, karena di dalam sistem pemrograman mereka, tidak ada kode biner yang bernama kasih sayang atau love.

Unsur ketiga yang tidak kalah sakti adalah insting atau intuisi. Bapak dan Ibu pasti tahu persis kekuatan ini. Insting adalah suara hati yang tiba-tiba muncul saat Ibu melihat gelagat anaknya yang pulang sekolah langsung mengunci diri di kamar.

Insting juga yang membuat kita merasa ada hal yang tidak beres sebelum mengambil keputusan besar. AI tidak punya feeling atau firasat seperti ini. AI hanya berjalan di atas kepastian angka statistik. Mereka tidak tahu rasanya merinding atau mendadak curiga, karena insting adalah hasil evolusi biologis dan pengalaman hidup mendalam yang hanya dimiliki oleh makhluk bernyawa.

Nah, untuk para orang tua siswa yang saya hormati, ketegasan kita di rumah sangat diuji dalam era digital ini. Jangan sampai kita terlena dan membiarkan anak-anak tumbuh menjadi robot bernyawa yang kehilangan sentuhan kemanusiaannya. Tugas kita bukan cuma memastikan mereka bisa mengoperasikan gawai pintar, tetapi memastikan mereka tetap memiliki adab, empati, dan ketajaman berpikir.

Jika anak-anak dibiarkan manja dan menyerahkan seluruh keputusan hidupnya pada rekomendasi aplikasi, kita sedang membesarkan generasi yang tidak punya pendirian dan rapuh.

Untuk siswa-siswi hebat, dengarkan instruksi guru kalian ini baik-baik. AI boleh membantu kalian merangkum materi pelajaran yang panjangnya seperti jalan panjang, tetapi jangan biarkan AI yang menulis masa depan kalian.

Gunakan mesin itu untuk efisiensi, bukan untuk jalan pintas kemalasan. Belajarlah berdebat, belajarlah merasakan kekecewaan, dan belajarlah bangkit dari kegagalan. Pengalaman-pengalaman emosional itulah yang menempa kombinasi otak, nurani, dan insting kalian menjadi manusia seutuhnya yang berkualitas tinggi.

Kesimpulannya, AI adalah asisten yang sangat pintar, tetapi dia selamanya tetaplah sebuah benda mati. Kejayaan masa depan tidak terletak pada seberapa canggih teknologi yang kita beli, melainkan pada seberapa kuat kita menjaga esensi kemanusiaan kita. Otak untuk berpikir tajam, nurani untuk menimbang kebaikan, dan insting untuk menavigasi kehidupan adalah modal utama yang tidak ada di toko aplikasi mana pun.

Jadi, matikan dulu AI kalian setelah membaca artikel ini, mari kita gunakan otak asli pemberian Tuhan untuk belajar dengan sungguh-sungguh!.

Baca Juga :

Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Aksi.

Delyana Tonapa

I am Delyana