Jam Segini Masih Kepagian?

Sumber Gambar : pixabay.com

Perubahan sikap, kebiasaan dapat terjadi oleh siapa saja, apakah menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk. Tidak sedikit orang tetap mempertahankan style dan sikapnya seperti sebelumnya. Perubahan terjadi biasanya karena seseorang dihadapkan akan suatu hal yang mendorongnya untuk berubah.

Hari ini, saya telah melakukan rutinitas saya sebagai Guru untuk mengajar secara virtual via zoom, namun bisa dikatakan bahwa kali ini saya sedikit kecewa atas kebiasaan baru siswa (i).

Sehari sebelumnya, saya sudah share ID dan password untuk bisa digunakan bergabung di ruang meeting yang telah ditentukan, dengan harapan siswa (i) bisa hadir 5-10 menit sebelum waktu yang ditentukan.

Hingga pukul 08.100, hanya dua siswa yang bergabung dan pada pukul 08.20 barulah banyak siswa (i) yang ikut.

Saya bertanya, “mengapa kalian telat gabung hari ini, sebelumnya kalian tidak demikian, boleh beri ma’am alasan?” lalu saya aktifkan semua speaker. Secara beramai-ramai mereka menjawab “kepagian ma’am”

Saya menghargai respon mereka atas pertanyaan saya, tetapi serius, saya sedikit shock mendengarnya. saya menjadwalkan pertemuan tadi pada pukul 08.00 dan mereka mengatakan “kepagian”.

Saya fikir, Korona telah membuat mereka tidak disiplin waktu. Belajar dari rumah telah disalah gunakan untuk tidur larut malam dan bagun pagi secara suka-suka dengan mengabaikan waktu.

Bagi mereka pukul 08.00 adalah waktu yang masih terlalu pagi untuk belajar. Jika dibandingkan sebelum belajar dari rumah, siswa (i) sudah berada di sekolah sebelum pukul 07.30.

Melihat perubahan ini, siswa sedikit mengalami penurunan sikap disiplin. Tidak sedikit diantara mereka mulai mengabaikan kebiasaan bagun lebih awal setiap pagi, dan melakukan rutinitas seperti, berolahraga dan membantu Orangtua.

Tidak sedikit Orangtua siswa (i) juga harus banyak menyisihkan porsi tenaga untuk mengingatkan, menasehati bahkan menghukum anak mereka yang selalu telat bangun pagi.

Hal ini wajar, karena Orangtua menginginkan anak mereka tidak malas karena Pandemi, juga diharapkan agar mereka bisa membantu Orangtua menyelesaikan pekerjaan rumah, sehingga Orangtua bisa lebih fokus mencari nafkah.

Sementara itu, ada banyak alasan mengapa beberapa siswa (i) merasa tidak memiliki tanggung jawab untuk bangun lebih awal seperti sebelum Pandemi, hal ini terjadi karena mereka merasa jenuh terlalu lama belajar dari rumah.

Hal ini wajar menurut saya, alasannya karena di masa pertumbuhan, mereka seperti ini, mereka butuh bersosialisasi dengan teman sebaya dan melakukan hal-hal yang menyenangkan atau menantang, akan tetapi dibutuhkan kedewasaan dalam berfikir untuk menaggapi hadirnya Covid-19 ini.

Peran Orangtua memang sangat besar. Kesabaran dan ketekunan untuk mendidik anak kiranya tetap ada tanpa mengabaikan menjaga imunitas tubuh agar tetap fit.

Siswa (i) bisa mengontrol diri, agar tidak terlena dengan kegiatan belajar dari rumah yang belum memiliki batas waktu  untuk melakukan tatap muka secara virtual.

Baca Juga :

  1. Mengapa siswa harus disiplin
  2. Ingin tetap eksis setelah masa transisi? Jauhi kebiasaan buruk ini.