Guru, Siswa dan Orangtua Siswa

Mengapa Banyak Orang Membaca Ratusan Buku tapi Hidupnya Tetap di Tempat yang Sama?

Upset young African American male freelancer clutching head with hands after failure in project while working remotely in park

Siapa yang tidak suka membaca berarti tidak tau membaca. Mungkin anda pernah mendengar celotehan ini tapi, pernahkah anda menyadari bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan. Salah satu manfaat membaca adalah sebagai hiburan yang bisa menjadi sarana relaksasi melalui karya sastra seperti novel atau puisi.

Hal ini yang membuat sebagian orang suka menghabiskan waktu untuk membaca, namun pertanyaannya adalah mengapa orang yang suka membaca banyak buku atau artikel hidupnya tetap di tempat yang sama, padahal membaca dapat memberikan banyak informasi yang bisa digunakan sebagai referensi untuk sukses?, berikut alasannya :

  1. Kutukan Informasi Tanpa Aksi.

Tak sedikit orang membaca untuk menghindari pekerjaan sulit yang seharusnya perlu dilakukan. Membaca memberikan sensasi bahwa kita sedang “bekerja” atau “berkembang,” padahal sebenarnya kita hanya sedang menunda aksi. Kita merasa produktif karena otak melepaskan dopamin saat mendapatkan informasi baru, namun dopamin tersebut tidak menghasilkan perubahan nasib jika tidak diiringi langkah konkret.

  1. Kolektor Informasi, Bukan Pemburu Transformasi

Ada perbedaan besar antara mengetahui sesuatu (knowing) dan memahami sesuatu (understanding).

  • Kolektor: Fokus pada jumlah buku (kuantitas) agar bisa dipamerkan di media sosial atau rak buku.
  • Pemburu Transformasi: Fokus pada satu ide kecil dari sebuah buku dan tidak akan berpindah ke buku lain sebelum ide tersebut diterapkan dalam hidupnya.
  1. Tidak Ada “Saringan” atau Filter Relevansi

Membaca ratusan buku yang tidak relevan dengan masalah yang sedang dihadapi hanya akan menciptakan kebisingan mental. Jika seseorang menghadapi masalah keuangan tapi terus membaca buku tentang filsafat kuno atau romansa percintaan (tanpa menghubungkannya dengan disiplin diri), maka masalah keuangannya tidak akan selesai. Masa depan dimenangkan oleh mereka yang bisa menyaring nasehat yang tepat untuk situasi yang tepat.

  1. Kurangnya Dialog Internal (Membaca Pasif)

Hidup tetap di tempat yang sama karena pembaca hanya menjadi “wadah kosong” yang menampung kata-kata penulis tanpa mengujinya. Membaca yang mengubah hidup adalah membaca aktif:

  • Bagaimana nasehat ini berlaku di hidup saya?
  • Apa yang salah dari cara saya berpikir selama ini jika dibandingkan dengan teori ini? Tanpa refleksi ini, buku hanya menjadi deretan kalimat yang masuk telinga kiri keluar telinga kanan.
  1. “Knowledge-Action Gap” (Celah Pengetahuan dan Aksi)

Ini adalah alasan paling umum. Mengetahui cara berenang tidak sama dengan menceburkan diri ke air. Banyak pembaca menjadi “pintar dalam teori” tapi “lumpuh dalam praktik.”

Rumusnya: Perubahan Hidup=(Pengetahuan×Aksi). Jika Aksi = 0, maka hasil akhirnya akan tetap 0, sebanyak apa pun bukunya.

  1. Ilusi Kemajuan (Illusion of Competence)

Setelah membaca buku pengembangan diri, kita sering merasa sudah “menjadi” orang yang digambarkan di buku tersebut. Padahal, kita baru saja membaca petanya, belum melakukan perjalanannya. Perasaan puas yang prematur ini sering kali membunuh motivasi untuk benar-benar berubah.

Delyana Tonapa

I am Delyana