Mengapa mama-mama semakin pintar selama Pandemi?

Sumber Gambar : pixabay.com

Penyebabnya tentu karena study from home. Kegiatan ini telah menguras tenaga dan fikiran para mama-mama akan pekerjaan rumah dan tugas sekolah anak mereka.

Seorang mama baru saja pulang ke rumah setelah beberapa jam meninggalkan rumahnya tanpa mengunci pintu.

Saya bertanya “mace, kenapa pintu tra dikunci?” “ah iyo kah?” dia menjawab. “iya, lihat itu, pintu tabuka lebar” saya berkata.

ibu rumah tangga tersebut langsung menengok ke rumahnya dan menepuk jidatnya, lalu berkata “gara-gara takut terlambat ke sekolah ini”.

Maksud ibu tersebut adalah karena buru-buru harus ke sekolah, dia lupa menutup dan mengunci pintu rumah.

Dengan heran saya bertanya “mace sekolah lagi kah, atau kuliah, ambil jurusan apa?”

Dengan wajah yang masih sedikit pucat dia menjawab “Pandemi bikin kitong pintar. kitong su sekolah lagi.”

Mendengar perkataan ibu tersebut, saya sadar bahwa dia sibuk dengan tugas anaknya yang harus belajar dari rumah. Segala hal di handle olehnya.

Setiap dua atau tiga kali seminggu dia dan buibu lainnya harus ke sekolah dimana anaknya menimba ilmu untuk mengambil tugas dan mengumpulkan tugas yang sudah dikerjakan. 

Ibu tersebut menjelaskan bahwa setiap hari dia harus membantu anaknya mengerjakan pekerjaan rumah dengan dibumbuhi expresi kesal dengan keisengan anaknya.

Ibu tersebut lanjut menjelaskan bahwa Pandemi ini berhasil membuatnya semakin sering memarahi anaknya dan sebaliknya, anaknya sering melawannya.

Mereka kerap berargumen, karena anaknya sering tidak mendengarkan dia. “anak-anak lebih patuh kepada Guru, tidak kepada orangtua” kata ibu itu.

Selama Pandemi, anak-anak lebih sering berada di rumah, sehingga membuat mereka sering berinteraksi dan menganggap segala sesuatu mudah jika dekat dengan orangtua. Hal ini yang membuat mereka tidak begitu patuh kepada orangtua. 

Sekarang, saya sedang melihat seorang ibu lainnya yang sedang hamil 4 bulan. Ibu tersebut sedang duduk di lantai menemani dua putrinya yang sedang mengerjakan tugas.

Ibu tersebut terlihat asyik membantu anaknya mencari jawaban dari beberapa soal putri-putrinya. 

Terlihat, dia sering membuka buku secara berulang-ulang dan searching jawaban di browser. Sesekali terlihat geregetan kepada anaknya yang tidak fokus dengan penjelasan ibu mereka.

Berhubungan dengan hal ini,  para buibu  yang saya jumpai sering bertanya “kapan sekolah dibuka dan siswa full aktif belajar di sekolah lagi? saya terlihat semakin pintar, namun anak saya semakin malas belajar”

Dengan tenang saya menjawab “kita menunggu keputusan dari Walikota dan Gubernur. Mereka akan berkoordinasi dengan Petugas Protokol kesehatan”.

“ibu-ibu tidak ingin anak-anak sakit Covid-19, kan?, jadi sebaiknya kita tunggu informasi saja”. Saya berkata.

“betul bu, tapi selain sedikit stress karena tugas sekolah anak-anak, kami juga merasa sedih, karena pengetahuan kami yang semakin bertambah karena membantu anak belajar, namun tidak diiringi dengan pengetahuan anak. anak cenderung  melawan”. Jawab seorang ibu lainnya.

Lanjut dia berkata dengan nada sedikit sedih. “Bayangkan bu, hampir setiap hari, kami mempelajari berbagai mata pelajaran, lalu mengajarkannya kepada anak-anak. Sebenarnya bagus, namun kasihan anak-anak”.

Dengan rasa sedikit sedih, saya berkata “sabar ya bu, hal ini masalah global. Sebaiknya kita cari solusi agar anak-anak bisa pintar walau kebanyakkan para orangtua yang mengerjakan tugas sekolah anak-anak”.

Saya memberi saran “salah satu cara paling sederhana, agar anak tetap pintar selama Pandemi adalah membiasakan anak untuk sering membaca”.

lanjut saya menyampaikan “biasakan anak untuk membaca apapun yang patut mereka baca minimal 30 menit setiap hari. Jika dianggap sulit, sebaiknya dimulai selama 10 menit setiap hari dalam seminggu atau lebih, lalu berikut ditambah durasinya. Jika sudah terbiasa, mereka akan membaca dan belajar dengan sendirinya, semua butuh kesabaran”.

Tak banyak hal yang bisa dilakukan untuk membantu anak semakin cerdas di masa Pandemi ini, selain usaha dan strategi para orangtua untuk sabar dan terus membimbing anak untuk terus belajar dan melawan rasa malas belajar mereka.

Tetap semangat hai para mama-mama.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *