Perjalanan

Menunggu Senja Di Taman Trisila Hamadi

Baru saja tiba di rumah.

Sejak sore sekitar pukul 16.00 WIT, kami menghabiskan akhir pekan di Hamadi. Niatnya ingin membeli masker yang kebetulan di sana tempat menjual masker dalam jumlah banyak dan murah.

Tak sengaja, kami melewati sebuah lapangan yang sering kami lalui jika hendak menuju Jayapura. 

Saya sangat penasaran dengan lapangan tersebut yang cukup ramai dikunjungi semua kalangan.

Akhirnya, kami memutuskan untuk untuk berhenti dan melihat kegiatan pengunjung di sana.

Setelah turun dari motor, kami langsung masuk lapangan dan wah…pantas saja rame, tempatnya luas, asri dan bersih.

Dari kejauhan terdengar lagu anak-anak yang ternyata itu adalah Hero Istana Balon. Nama sebuah wahana permainan anak-anak.

Tempat permainannya bagus, namun sayang padat. Pemiliknya tidak membatasi jumlah anak memasuki wahana tersebut.

Disampingnya ada tempat senam yang diikuti oleh 99% mamak-mamak. Mereka sangat kompak dan menikmati musik senamnya.

Saya merasa asik melihat mereka yang nampak ceria manja, atau bisa dikatakan mereka adalah ibu-ibu yang sedang rehat dari tugas dan aktivitas di rumah, mereka sedang healing.

Tiba-tiba seorang pria bertubuh kekar datang dan berdiri tepat di depan saya sambil memperhatikan kekompakan para pesenam. 

Dengan pedenya, dia mengoyangkan  kaki kanan sambil mengerakkan sedikit kepalanya.

Terlihat pria tersebut menikmati momen tersebut, namun tak sadar dengan gerak tubuhnya yang demikian,  menjadi bahan tertawaan kami yang sedang duduk di belakangnya. Hehehe aduh…pace seh!.

Di sisi lain, ada sebuah pohon besar, di bawahnya  terdapat banyak tempat duduk yang terbuat dari semen. Terdapat beberapa pengunjung sedang menghabiskan waktu  bercanda gurau bersama teman dan keluarga. 

Disebelahnya, ada seluncuran anak-anak yang juga terbuat dari semen. Tempat bermain ini juga cukup diminati anak-anak, namun dibutuhkan bantuan para orangtua yang ekstra untuk memantau pergerakan anak, alasannya karena tempat ini sedikit berbahanya.

Di depan seluncuran, ada tempat ayunan, sebenarya ada dua, namun yang satunya sudah rusak. Tempat ini cukup diminati oleh semua kalangan, sayapun sempat mencobanya, hehehee.

Dengan lapangan yang cukup luas ini, telah menjadi tempat berkumpulnya para anak muda untuk berolahraga, seperti bermain sepakbola, jogging, push up dan banyak lagi. 

Seandainya tempat ini dekat dari tempat tinggal saya, saya pasti sudah menggunakan taman ini sebagai salah satu tempat favorit untuk berolahraga.

Sayangnya, dibutuhkan kurang lebih 25-30 menit untuk tiba ke lokasi ini dengan sepeda motor. Berarti masyarakat yang tinggal di sekitar taman ini cukup beruntung, bukan?.

Setelah asyik menikmati moment kecerian pengunjung dan sekaligus telah menikmati fasilitas taman ini, kami pulang, namun tak lupa kami singgah makan malam di salah satu warung yang tidak dekat dengan taman Trisila.

Setelah itu, kami pulang dan tiba di rumah pukul 18.45 WIT. Setibanya si rumah, kami mencuci tangan, bersih-bersih dan saya langsung menulis moment ini.

Hal yang saya petik bahwa, taman atau objek seperti ini sangat dibutuhkan masyarakat untuk healing, belum lagi biayanya gratis, walau fasilitas untuk berolahraga bagi saya cukup.

Saya berharap, di beberapa tempat lainnya di Jayapura juga ada tempat seperti ini, lumayanlah bisa dinikmati semua kalangan.

Kalau di Kotaraja Abepura ada lapangan yang namanya lapangan Otonom, selebihnya kiranya ada lagi tempat yang sama di lokasi berbeda.

Dengan banyaknya tempat hiburan seperti ini, secara tidak langsung telah menjadi obat sehat bagi jiwa maupun jasmani masyarakat sekitarnya.

Jika tempat serupa ada di lokasi lain, makan hal ini tentu akan mempengaruhi kinerja masyarakatnya.

Apakah di daerah anda juga ada taman yang fasilitasnya memadai, aman, bersih seperti ini?. 

Btw, tempat ini cocok bagi penulis, bukan? hehehee….

Delyana Tonapa

I am Delyana