Minat Membaca Dan Menulis Tidak Meroket Seperti Minat Menonton

Sumber : pixabay.com

Jika kalian diberikan pilihan membaca atau menulis, kira-kira yang paling anda minati yang mana?

Atau jika disodorkan sebuah pertanyaan tentang kecintaan kalian akan literasi, respon kalian bagaimana?

Saya telah menanyakan pertanyaan ini kepada beberapa siswa (i) melalui salah satu media sosial dan jawabannya sama seperti perkiraan saya yang sering saya amati.

Beberapa siswa  memilih membaca dengan alasan, membaca adalah hobi yang hakiki, membaca membuat mereka merasa nyaman.

Namun banyak yang memilih menonton, dengan alasan menonton bisa dilakukan dalam keadaan apapun, sementara menulis kurang direspon dengan baik. 

Hari ini saya sedang berada di tempat umum, saya memperhatikan mayoritas orang di sini menonton ke layar televisi yang tersedia.

Beberapa diantara mereka sedang asyik berbincang satu sama lain sambil sesekali mengecek smartphone mereka.

Tidak sedikit diantara mereka hanya duduk sambil mengamati suasana di sekitar lokasi, namun ada juga yang duduk menunggu tanpa melakukan apapun.

Sedikit diantara mereka tertidur di kursi dan ada yang berbaring di kursi panjang.

Ada juga yang stalking akun media sosial orang lain. (Yah, minimal orang seperti ini menggunakan waktunya dengan sedikit membaca).

Dengan agak menahan malu, saya memberanikan diri menghampiri tiga orang ibu-ibu yang sedang  berbincang ria. Rupanya mereka sedang asyik membahas seorang artis yang sedang viral. hehehehe

Sambil menahan tawa, saya bertanya “mace-mace (istilah ibu -ibu di Papua) waktu luang biasanya digunakan untuk apa kah?”.

Seorang diantara mereka menjawab sambil mengutak-atik smartphone miliknya “kalau bukan bacerita seperti ini, duduk nonton aplikasi di smartphone”. 

Seorang mace lainya menjawab “kalau saya paling sering telfon siapa saja, asal paket data full, pasti itu mi kerjaku”.

Mace tersebut  lanjut mengatakan bahwa dia juga kerap menggunakan waktu luangnya untuk menonton salah satu program Televisi yang berseri. Alasanya karena acara berseri dapat membuat hati tenang. Ceritanya sama seperti realita kehidupan.

Mace yang satunya menjawab “menonton beberapa acara menarik di salah satu aplikasi, saya tidak tau pake media sosial, suami juga melarang pake itu, walau dia punya beberapa akun di media sosial”.

Jawaban yang terakhir sedikit mengocok perut, namun saya menghargai jawabanya termasuk kedua ibu-ibu yang lain.

Mendengar ketiga jawaban mereka saya menyimpulkan bahwa ternyata bukan hanya siswa (i) saja yang kurang memiliki ketertarikan akan membaca, namun tidak sedikit para Orangtua juga demikian.

Saya teringat akan sebuah poster tentang Literasi. Postingan tersebut memaparkan dengan gamlang bahwa minat baca di Indonesia menurun drastis.

Lalu muncul pertanyaan saya sekarang “untuk mengisi waktu luang selama Pandemi, hal apa yang sering siswa (i) lakukan?”.

“Apakah dengan kejadian yang menghentakkan dunia saat ini tidak merubah kebiasaan kurang bermanfaat menjadi lebih berguna?”.

“Ataukah benar kata salah seorang teman bahwa, membaca dan menulis tidak bisa menghasilkan banyak uang, sehingga kurang diminati?”.

Gerakan Literasi telah digaungkan sejak dulu, namun peminat masih minim, ditambah lagi dengan minat orangtua siswa (i) juga kurang condong mendukung Literasi.

Mungkin para Orangtua hanya menyuruh atau mengingatkan anak mereka untuk membaca dan menulis, namun kurang melakukan  pemantauan yang lebih lanjut.

Ada baiknya mencari tau informasi tentang pentingnya hal ini, agar kedepannya waktu luang tidak hanya digunakan untuk hal yang kurang mengguntungkan, namun kecintaan akan membaca bisa lebih baik.

Menanamkan kecintaan akan membaca dan menulis memang tidak mudah, namun Literasi bukanlah hal yang merugikan jika dilakukan secara intensif. suatu saat para peminat akan sadar akan betapa pentingnya membaca dan menulis.

Baca Juga :