Pentingnya “Self Censorship” Untuk Siswa

Sumber Gambar : pixabay.com

Perkembangan teknologi sudah tidak bisa dibendung. Para ahli berlomba-lomba menciptakan hal baru dan hasil buatan mereka yang terbaru adalah Robot, dimana manusia sudah mulai melirik robot untuk melakukan beberapa pekerjaan yang diperkirakan bisa mengeser beberapa pekerjaan manusia.

Jika kita melihat orang-orang hebat bersaing ketat dalam menciptakan sesuatu, menggingatkan kita bahwa urutan teratas Taxonomi Bloom  adalah mencipta/membuat, dimana siswa (i) dimampukan untuk membuat atau menciptakan sesuatu sesuai dengan materi yang diberikan.

Teknologi sangat bermanfaat karena dapat mempermudah pekerjaan manusia, namun manusia kerap salah menggunakan teknologi yang pada ujungnya merugikan manusia itu sendiri.

Hal sederhana yang bisa dilihat adalah dengan adanya internet. Pada awalnya internet sebagai penghubung antara manusia bahkan antar negara untuk saling berinteraksi, namun berubah menjadi sumber penyakit sosial atau keadaan dimana manusia mengalami degradasi moral atau kemunduran/penurunan nilai moral.

Seperti yang kita ketahui bahwa sebelum  Internet eksis, nilai-nilai moral sangat diutamakan, namun karena segala sesuatu semakin mudah dan cepat diperoleh  membuat nilai moral bukan prioritas lagi dalam masyarakat.

Hal serupa juga terjadi kepada siswa yang mayoritas Generasi Z dan Generasi Alpha. Mereka adalah generasi yang hidup dengan teknologi yang membutuhkan bimbingan dari orang dewasa tentang kebijakan penggunaan teknologi, dalam hal ini adalah penggunaan Smartphone atau laptop/Personal computer (PC).

Dalam beberapa hal, siswa (i) tidak seharusnya selalu mengharapkan orang dewasa atau orangtua untuk membimbing hal-hal tertentu. Dalam hal menggunakan Smartphone dan sejenisnya untuk bermain game online, mempublikasihkan sesuatu di akun media sosial, searching materi belajar di google, dibutuhkan “self censoring” atau kemampuan menyaring hal-hal yang bermanfaat dan tidak bermanfaat secara mandiri.

Kemampuan menyaring adalah keterampilan yang sudah dimiliki oleh para pelaku jurnalistik. Sebelum mereka mempublikasihan berita, mereka harus menyaring berita yang layak dan tidak layak untuk masyarakat seperti Hoax, berita yang memprovokasi dan sebagainya.

Hal demikian juga kepada siswa (i), agar sebelum publish sesuatu di akun media sosial, seperti gambar atau video, agar sebaiknya melakukan penyaringan, agar tidak melanggar UU Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Pembatasan ini tentu bukan untuk membatasi kebebasan berekspresi siswa (i) atau siapapun, akan tetapi untuk mengatur informasi dan dokumentasi elektronik, sehingga tidak mengacaubalaukan tatanan atau norma-norma dalam masyarakat.

Ada akibat jika melakukan pelanggaran ini, dari diblokir oleh pemerintah, hingga bisa dijatuhi hukuman penjara. Hal ini tujuannya bukan untuk menindas, tetapi untuk menghentikan hal buruk yang sudah terlanjur menyebar di masyarakat luas.

Dampak bagi siswa (i) yang melakukan pelanggaran ini selain yang sudah dijelaskan diatas, juga ada hukuman yang berasal dari masyarakat, seperti dibully, dijauhi atau bahkan dicemooh hingga akhir hayat.

Hal seperti ini akan mempengaruhi mental siswa dalam bersosialisasi, kesulitan dalam mencari pekerjaan bergengsi atau bahkan dicap negative oleh keluarga.

Melatih menggunakan kemampuan “self sensoring” sejak dini sangat baik, karena teknologi semakin berkembang, jika siswa (i) tidak bisa memiliki kemampuan menyaring sebelum mempublikasikan sesuatu, maka dikwatirkan siswa (i) tidak akan terlatih untuk bisa menyaring sesuatu sebelum mempercayainya, yang akibatnya bisa membawa siswa (i) terjerumus kedalam tindakan yang buruk.

Hal demikian juga jika mendapatkan tugas dari Ibu/Bapak Guru yang mengharuskan siswa (i) mencari informasi dari berbagai sumber seperti internet, maka godaan untuk membuka, melihat, memikirkan hal negative yang ditemui disana tidak akan mempengaruhi pola fikir untuk mengikuti hal tersebut.

Dibutuhkan kedewasaan atau pemahaman yang mendalam tentang penggunaan teknologi dalam menyaring berita atau sesuatu sebelum dishare ke publik.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *