Kategori
Guru, Siswa dan Orangtua Siswa

Memahami Beberapa Kecerdasan Paripurna

Sumber Gambar : pixabay.com

Perkembangan di berbagai sektor semakin meroket, tidak perduli dalam keadaan krisis sekalipun, manusia moderen terus melakukan eksperiment untuk bersaing menciptakan teknologi terbaru. Hal ini merupakan kepuasan yang hakiki bagi mereka yang memiliki kecerdasan untuk selalu mengembangkan dan menerapkannya.

Ada banyak mitos yang telah runtuh karena kecerdasan manusia yang semakin berkembang, tak tanggang-tanggung kecerdasan manusia sudah melebihi batas normal yang melampaui kecerdasan mayoritas orang-orang pada umumnya, seperti pembuatan dan pengembangan teknologi yang bisa digunakan untuk bisnis, kesehatan, pendidikan dan lain-lainnya.

Ada beberapa macam kecerdasan paripurna yang perlu diketahui, beberapa diantaranya adalah IQ, EI, SQ, AL.

Intelligence Quotent (IQ) atau kecerdasan intelektual/akal.   Menurut Wikipedia.org, intelligence quotient, disingkat IQ istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, daya tangkap, dan belajar

Berdasarkan defenisi diatas bisa diartikan bahwa kecerdasaan akal  berupa kecerdasan dalam menggunakan logika untuk berfikir, kemampuan untuk menganalisis, keahlian dalam menalar, kemampuan dalam memecahkan masalah atau sesuatu, kecerdasan dalam belajar dan berfikir kritis.

Jika diamati penjelasan diatas, seolah-olah menggiring kita untuk melihat pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran yang terdiri dari mengamati (observing), menanya (questioning), mencoba (experimenting), mengolah data atau informasi dilanjutkan dengan menganalisis, menalar (associating), dan menyimpulkan, menyajikan data atau informasi (mengomunikasikan).

Hal yang tak kalah dari penjelasan diatas adalah kemampuan dalam memecahkan masalah atau sesuatu, kecerdasan dalam belajar dan berfikir kritis. Dimana dalam kegiatan pembelajaran siswa juga diharuskan untuk bisa memecahkan masalah dan berfikir kritis.

Emotional Intelligent (EI) atau Kecerdasan Emosi. Berdasarkan penelitian bahwa kecerdasan emosi adalah bawaan sejak lahir, namun bisa dipelajari dan ditingkatkan (Peter Salovey dan John D. Mayer, 1990). Kecerdasan emosi adalah suatu kemampuan untuk bisa mengontrol diri untuk tidak melakukan hal yang tidak terpuji, seperti melanggar hukum, norma-norma bahkan bunuh diri.

Ada banyak orang pintar, cerdas, namun tidak memiliki kecerdasan emosi. Mungkin kadang kita mendengar “Pintar, tapi terlihat bodoh” pintar secara intektual, namun bodoh karena tidak bisa mengontrol emosi atau bahasa gaulnya “sumbu pendek”, mudah dipancing untuk diperalat melakukan hal tidak baik untuk kepentingan orang lain.

Kecerdasan emosi (EI) merupakan kemampuan mengenali dan mengasah kecerdasan emosi, maupun orang lain, dalam hal ini kemampuan Guru untuk bisa mengendalikan sikap emosional siswa (i) dengan baik. Menurut sawali.info ada 4 P tips kerangka bagi mereka yang ingin meningkatkan kecerdasan emosi yakni Peka, Peduli, Positif, dan Partisipatif

Spiritual Quotient (SQ) atau Kecerdasan Spiritual. SQ berhubungan dengan jiwa dan kedekatan dengan sang Pencipta. Kecerdasan ini erat kaitannya dengan keimanan untuk membantu orang menjadi lebih baik.

Ada beberapa cara untuk membangun kecerdasan spiritual seperti Berdoa, Yoga, Meditasi, mengikuti kegiatan keagamaan secara terus menerus dan sebagainya. Tentu kegiatan seperti ini harus ada pengendalian diri, agar tidak salah arah. Bukan rahasia umum lagi jika seseorang salah dalam melakukan kegiatan spiritual, bukan kecerdasan yang diperoleh melainkan kebodohan yang berakibat buruk bagi diri sendiri dan orang lain.

Artificial Inteligent (AL) atau Kecerdasan Buatan. Ini lebih dikenal dengan ALoT (Artificial Intelligent of Thing). AL adalah kecerdasan entitas ilmiah  atau kecerdasan buatan manusia dalam mesin yang diprogram untuk berpikir seperti manusia dan meniru tindakannya. Penerapan ini terus digodok agar hasilnya bisa berkembang, hingga mempermudah cara kerja manusia.

Sebenarnya contoh AL ini bisa dilihat dalam  beberapa film yang menggunakan teknologi. Seperti  dalam pengenalan suara, tanda tangan, sidik jari dan sebagainya.  Untuk dunia pendidikan, AL dapat diprogram khusus untuk siswa, sesuai dengan daya tangkap siswa  dan dapat membantu Guru dalam proses penilaian, sehingga Guru bisa fokus terhadap tugas lain seperti hal yang berhubungan dengan kecerdasan emosional siswa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *