Tantangan Guru Mengajar Secara Virtual

Sumber Gambar : pixabay.com

Kegiatan Proses Belajar Mengajar (PBM) semester Ganjil sudah dimulai. Ada banyak persiapan yang sedang bahkan sudah dilakukan oleh Guru-Guru, mulai dari perangkat mengajar, menentukan metode ajar dan cara mengatasi kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan dihadapi selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) berlangsung ke depan.

Bukan isapan jempol belaka, jika Guru yang dulunya tidak bisa mengoperasikan komputer, sekarang harus bisa, walau menggunakan aplikasi yang sederhana untuk pengajaran, hal demikian sudah baik. Hal ini dilakukan, agar Guru tetap melaksanakan tanggung jawab moril sebagai tenaga pendidik yang profesional.

Selama Pandemi ini, Guru-Guru menjadi spotlight, bagaimana tidak, ada banyak versi yang membuat Guru-Guru merasa terusik, baik dari para Orangtua siswa (i), hingga siswa (i) itu sendiri.

Mengetahui hal ini, Guru tidak hanya tinggal diam dan menerima sorotan dari berbagai pihak saja, namun inovasi yang dibuat oleh Guru-Guru tetap berjalan, mulai dari metode ajar selama PJJ, hingga cara agar siswa (i) tetap belajar.

Nadiem Makarim Mentri Pendidikan dan Kebudayaan dalam rapat kerja bersama dengan Komisi X DPR RI, Kamis (2/7/2020) membicarakan peta pendidikan ke depan. Beliau menjelaskan bahwa PJJ menjadi sesuatu yang permanen. Maksudnya adalah kegiatan pembelajaran tidak hanya murni secara virtual, tetapi ada kegiatan tatap muka atau menggunakan hybrid model/blended learning.

Pada kegiatan mengajar secara daring/virtual, ada tantangan yang Guru hadapi, beberapa diantaranya adalah :

  1. Guru Mempelajari aplikasi Baru Untuk Mengajar. Electronic Learning, yah. Lebih tepatnya demikian. Ini sudah familiar ditelinga para Pendidik, namun belum semua Guru menggunakannya. Selama mengajar dari rumah, mau tidak mau, siap tidak siap Guru yang belum pernah mengajar menggunakan teknologi yang menggunakan perantara internet ini, harus bisa mempelajarinya dan mengimplementasikannya. Ada banyak manfaat dari E-Learning, beberapa diantaranya adalah selain Guru tidak ketinggalan tren atau kudet  dari siswa (i), Guru juga bisa mengatur waktu sendiri tentang waktu pembelajaran, bebas dimanapun dan kapapanpun. Contoh aplikasi E-learning adalah Buku Sekolah Digital, Ruang Guru, Quipper, Google Classroom, Moodle, Edmodo, dan lain-lain
  2. Lebih Mengontrol  Emosi. Selama mengajar Daring/Virtual, Guru akan dihadapkan dengan keusilan siswa (i). Salah satu contoh adalah siswa tidak menaati SOP yang sudah disampaikan oleh Guru pada saat mengajar secara Virtual. Contoh kecil, Guru sebagai motivator atau fasilitator sudah menyampaikan bahwa Speaker di mute selama Guru menjelaskan, namun ada saja siswa yang usil dengan sengaja membunyikan sesuatu atau bahkan berbicara, agar semua teman-temannya fokus kepada dia. Pada situasi seperti ini, tentu Guru tidak bisa menghampiri siswa tersebut untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam atau Guru tidak bisa mengambil tindakan secara langsung. Berbeda pada saat belajar di kelas. Melihat hal ini, Guru harus menahan amarah dan terus berupaya mencari strategi, agar pembelajaran tetap selesai secara virtual tepat waktu, siswa (i) tetap mendapatkan ilmu secara baik, karena pada saat mengajar Guru juga mempertimbangkan kuota siswa (i).
  3. Menyisihkan Dana Khusus Kuota Untuk Mengajar. Tidak sedikit Orangtua siswa (i) beranggapan bahwa Pandemi ini sedikit menguntungkan Guru. Jika diamati secara dekat, sebenarnya anggapan demikian tidaklah benar. Banyak pengeluaran yang dilakukan oleh Guru untuk mengalokasikan dana mengajar. Mulai dari kuota internet hingga membeli domain, memberi paket untuk mengajar secara virtual dari rumah. Hal ini tidak mudah karena Guru juga harus tetap maksimal dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
  4. Kurang  “Me Time” Untuk Guru. Sejatinya, mengajar adalah hal yang sangat menyenangkan bagi Guru, namun selama study from home Guru harus selalu available  jika siswa (i) bertanya tentang penjelasan ulang materi dan cara mengerjakan tugas. Hal ini bisa terjadi dari pagi hingga tengah malam. Belum lagi jika Wali kelas harus naik turun gunung mencari alamat siswa yang tidak memiliki fasilitas untuk belajar dari rumah.

Tantangan selama mengajar dari rumah bukanlah penghalang bagi Guru untuk mendidik anak bangsa, namun seyogyanya Guru dan Siswa yang  kurang mampu diberikan fasilitas atau apapun, agar kegiatan mengajar dari rumah atau bahkan jika nanti hybrid model diterapkan, semangat Guru untuk mendidik, memfasilitasi siswa (i) semakin membara.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *