Alasan Mengapa Saya Tidak Menyisipkan Ajaran Keimanan Dalam Tulisan.

Sumber Gambar : pulselive.co.ke

Salam Hormat.

Apa kabar readers?

Saya berharap anda tetap sehat dan prima. Kali ini kategori saya berbeda, yaitu CERITAKU. Pada artikel saya sebelumnya, saya membahas hal-hal yang sering kita jumpai di dunia pendidikan dan di sekitar kita yang sayang untuk dilewatkan dan semua itu masuk pada kategori GURU, SISWA DAN ORANGTUA SISWA.

Perlu diketahui bahwa pada Blog saya ini terdapat beberapa kategori selain yang telah saya sebutkan diatas, jadi jika anda memiliki waktu luang, saya sarankan untuk kembali terus ke website saya untuk membaca hal-hal yang mungkin berguna untuk kita semua.

Di kategori CERITAKU ini, saya akan membahas hal-hal yang saya alami dan orang lain alami untuk menjadi bahan pertimbangan atau pelajaran untuk kita.

Kali ini, saya akan menjawab pertanyaan dan saran serupa yang dikirimkan langsung oleh beberapa orang tentang alasan mengapa saya tidak menyisipkan ajaran keimanan dalam artikel saya, dimana tulisan saya kebanyakan berisikan hal-hal yang memotivasi siswa  (i) dan para pembaca.

Yah, betul. Jika kita mengamati Orangtua, Guru, sahabat, kebanyakan diantara mereka selalu mengaitkan ajaran keimanan dalam memberikan tips, saran atau nasehat kepada orang lain, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, dan hal serupa juga bisa kita jumpai dibeberapa artikel tentang Pendidikan.

Bapak/Ibu yang saya sangat hormati. Ada baiknya kita melihat prinsip hidup orang yang tidak selalu sama. Ada yang selalu menjaga privacy, dimana orang selalu menjaga hal-hal pribadi tentang apapun dalam hidupnya, ada yang show up dimana orang seperti ini adalah orang yang selalu menunjukkan apapun (keterangan) tentang dirinya, dan ada yang setengah-setengah.

Jika melihat prinsip diatas, saya lebih condong selalu berupaya menjaga privacy walau sedikit ada yang ditunjukkan, sedikit saja kok. Heheehehehe. Mungkin akan ada lagi yang akan bertanya “yang di tunjukkan ke publik apa?” jawabanya tentu anda bisa lihat di akun media sosial saya, tuh jelas ada disana. Ckckckckckck.

Baik, kita kembali ke topik utama.

Saya tidak mengikuti cara para Penulis lainnya menyisipkan ajaran keimanan dalam memberikan tips, saran dan motivasi, karena :

  1. Tidak Mau Membawa Nama Tuhan. Saya sadar jika orang Indonesia kerap membawa nama Tuhan dan sedikit ajaran keimanan dalam setiap pembicaraan dan tulisan, khususnya tentang tips, saran, nasehat atau kalimat motivasi. Hal demikian tidak salah tetapi menurut saya,  tidak sepenuhnya benar. Menurut saya, tentang keimanan cukup ditunjukkan melalui sikap atau prilaku, bukan melalui setiap percakapan atau tulisan. Contoh : saya pernah melihat seorang wanita berbicara kepada seorang temannya tentang sesuatu dan kalau dihitung-hitung dalam jangka 5 menit percakapan mereka, dia telah menyebutkan tentang keimanannya 6 kali, contah lain yaitu seorang teman yang tanpa sengaja menginjak kotoran hewan dan dengan spontanitas, dia menyebut nama Tuhannya. Menurut saya Tuhan itu suci tidak sembarangan disebut, terkecuali dalam keadaan terjepit di depan umun, seperti ketakutan dan kaget barulah pantas menyebut Tuhan atau menyisipkan keimanan.  
  2. Keimanan Tidak Perlu Dipertontonkan. Saya berupaya agar tulisan saya tidak menyisipkan tentang ajaran keimanan, cukup hal-hal lain dari itu. Menurut saya, sesuatu yang berhubungan keimanan ada porsinya tersendiri, ada bagiannya tersendiri.

Demikianlah alasan mengapa saya tidak menyisipkan ajaran keimanan dalam setiap tulisan-tulisan saya.

Hal ini saya lakukan bukan untuk menyinggung siapapun, akan tetapi hanya untuk memperjelas beberapa pertanyaan dan saran yang sama.

Saya harap kedepannya tidak ada lagi pertanyaan dan saran yang serupa. Tetap Semangat.