Anak-Anak Meradang Karena Terlalu Lama Belajar Dari Rumah

Sumber Gambar : pixabay.com

Di sekitar tempat tinggal teman saya, banyak dihuni oleh anak-anak. Mayoritas berumur 4-8 tahun. Mereka kerap menghabiskan waktu bermain dengan sesuka hati mereka, namun beberapa bulan ini, ada sedikit perbedaan dari cara mereka bermain. Sebelumnya mereka suka berkelompok-kelompok, namun sekarang lebih cendrung menjaga jarak.

Untuk menghabiskan waktu luang, mereka kerap bermain kartu, tali, juga bermain game melalui smartphone. Permainan mereka selalu dipantau para orangtua mereka, sehingga masih terlihat aman.

Yang menjadi sedikit masalah adalah beberapa diantara mereka selalu membawa tas sekolah, bahkan ada yang ingin menggunakan baju sekolah untuk bermain. Yang lucunya, baju sekolah mereka mayoritas telah sempit.

Kemarin sore, saya melihat seorang anak meminta dipakaikan baju sekolah. Katanya rindu mau pergi  sekolah. Anak tersebut kira-kira berumur 4 tahun. dia selalu bercerita tentang hal yang berhubungan dengan sekolahnya.

Saya memperhatikan, orangtuanya pusing untuk menyiapkan jawaban yang bisa nyangkut dibenak anak tersebut, masalahnya anak pintar itu selalu menanyakan hal yang sama dan orangtuanya selalu memeras otak untuk memberikan jawaban yang selalu sama, namun dengan cara yang berbeda.

Terkadang orangtuanya ingin marah, karena anaknya selalu diberikan pertanyaan yang sama. Belum lagi orangtuanya pusing harus mencari uang dan memikirkan hal lain. Namun bagaimanapun juga,  saya salut kepada orangtua tersebut, karena selalu berhasil memberikan jawaban yang setidaknya telah membuat anak tersebut sedikit menerima.

Seperti yang kita ketahui bahwa anak-anak belum memiliki pemahaman yang dalam tentang suatu kejadian, belum lagi mereka harus diarahkan untuk tidak bisa sebebas bermain seperti sebelum Pandemi Covid-19.

Tadi pagi, dia meminta kepada orangtuanya agar diantar kesekolah, walau cuman bermain sendiri disana dan permintaannyapun dipenuhi. Setiba disana, dia melihat ada beberapa anak-anak lain juga sedang bermain dan dalam pemantauan orangtua masing-masing.

Mereka begitu gembira sambil berteriak “bu guru, bu guru” padahal disana tidak ada seorangpun Guru. Hal demikian mereka lakukan hanya untuk melakukan hal yang sering mereka lakukan, pada saat mereka masih belajar di sekolah.

Dari kejadian ini, bisa diketahui bahwa betapa sukarnya anak-anak menerima keadaan seprti ini. kebiasaan mereka kumpul sambil berinteraksi bersama teman-teman mereka berubah total.

Hal ini harus menjadi perhatian khusus, karena jika dibiarkan berlarut-larut, maka dikwatirkan anak-anak TK dan SD akan mengalami luka yang bisa berakibat buruk pada kesehatan mental mereka, seperti depresi.

Debora Comini memberikan tanggapannya dalam tirto.id bahwa krisis kesehatan seperti ini, bisa menjadi luas yang dikwatirkan dapat menghambat tumbuh kembang anak bahkan menimbulkan kemunduran dari kemajuan kondisi anak yang sudah dicapai indonesia melalui kerja keras selama bertahun-tahun

Melihat kemungkinan-kemungkinan ini, orangtua memiliki PR yang rumit untuk selalu kreatif dalam menghadapi anak-anak yang ingin menyalurkan hasratnya untuk bersekolah dan leluasa bermain seperti sebelum Pandemi Covid-19.

Selain banyak membaca untuk mencari tau solusi masalah seperti ini, orangtua juga harus memastikan anak cukup tidur dan makan-makanan bergizi, serta melakukan pendampingan, agar anak tidak terlalu merasa sedih.

Memberikan pengertian secara intends tidaklah salah, yang sebaiknya dilakukan pada saat bermain dengan anak, atau dengan menggunakan media gambar atau video tentang orang-orang yang telah terpapar, agar anak bisa menerima kenyataan.

Peran orangtua sangat besar di masa Pandemi Covid-19 ini. Baik dalam mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, melaksanakan protokol agar terhindar dari virus, juga belajar untuk selalu mencari solusi agar anak selalu betah di rumah dan tidak mengalami gangguan krisis mental.