Bagaimana Akhirnya Saya Menjadi Seorang Guru?

Sumber Gambar : pixabay.com

Salam untuk kita semua.

Tidak terasa kita sudah berada di bulan ke empat untuk melaksanakan protokol pencegahan Covid-19. Dengan kondisi seperti ini, sedikit demi sedikit kita sudah mulai terbiasa untuk tidak sebebas seperti dulu. Hampir semua orang dewasa sudah mulai menerima kenyataan untuk selalu menjaga jarak, lebih sering berada di rumah, walau masih ada yang kapala batu, namun hanya segelintir orang saja.

Pada artikel kali ini, saya akan merespon pernyataan beberapa pembaca yang menaggapi tulisan saya sebelumnya yang berjudul “mana yang lebih baik, menjadi guru atau pegawai kantoran?”. Ada sekitar 11 peryataan yang sama, yang mendorong saya untuk meresponya  menjadi sebuah bacaan yang sekirannya berguna untuk kita semua.

Sebelum saya menanggapi, saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga bagi semua Pembaca setia saya yang selalu meluangkan waktunya membaca artikel saya. Saya menyadari bahwa tulisan-tulisan saya ini masih jauh dari kata baik jika dibandingkan dengan para Blogger hebat yang telah duluan terjun di dunia blog.

Sekiranya yang telah saya share dapat memberi dampak yang baik bagi Pembaca. Saya akan terus menulis apapun yang saya ketahui, dengar, lihat, fikirkan dan rasakan. Hal ini juga saya lakukan agar siswa (i) dapat termotivasi untuk menulis dan membaca. Memanfaatkan smartphone untuk hal yang lebih baik dan menghasilkan.

Dari artikel yang saya tulis beberapa hari sebelumnya, mayoritas berpendapat bahwa menjadi pegawai kantoran lebih baik daripada menjadi Guru. Alasannya karena mereka tidak memiliki bakat menjadi Guru. Dikwatirkan akan selalu memarahi siswa (i) jika mereka tidak dengar-dengaran dan akan berujung dilaporkan ke pihak berwenang oleh para orangtua siswa (i).

Ada satu Pembaca yang menanyakan pertanyaan yang membuat saya butuh beberapa menit berfikir untuk menjawabnya. Pertanyaannya adalah “apakah menjadi seorang Guru adalah impian ibu dari kecil?” saya fikir Pembaca tersebut bertanya demikian, karena saya memilih menjadi Guru sedangkan beliau memilih menjadi seorang Pegawai kantoran. Untuk menjawabnya saya sedikit berhati-hati, karena saya tidak ingin Pembaca tersebut salah kaprah akan jawaban yang saya berikan.

Sejujurnya menjadi seorang Guru bukanlah awal cita-cita saya. Pada saat saya masih kecil, saya ingin menjadi seorang Polisi Wanita. Hal itu muncul karena kakek saya seorang Polisi yang memiliki dedikasi yang tinggi dalam pekerjaannya. Kakek saya dulu sering bercerita tentang bagaimana Dia berani maju melawan musuh seorang diri dan banyak lagi cerita-cerita yang cukup membuat hati saya ingin seperti kakek, Namun karena saya menyadari diri saya semampai (semeter pun tak sampai) dengan kata lain, tinggi saya tidak mencukupi kriteria yang ditentukan, akhirnya saya mengurungkan niat saya.

Pada saat saya lulus SMA, saya tidak memiliki pilihan lain, karena kondisi dimana saya harus mencari uang agar bisa kuliah, maka saya memutuskan untuk kuliah di kampung tempat tinggal saya dan memilih jurusan keguruan.

Pada saat saya kuliah, saya bekerja sebagai Guru di sebuah kursus, dari sanalah saya mulai mengenal dunia keguruan. Saya belajar bagaimana menyiapkan materi ajar, cara menyampaikan materi agar mudah dimengerti siswa (i) yang akhirnya saya tertarik menjadi seorang Guru.

Setelah saya  lulus kuliah, saya mencari pekerjaan dan tentunya yang sesuai dengan basic saya. Setelah satu bulan saya menjadi seorang Guru di sebuah sekolah negeri, saya mulai mencintai pekerjaan ini. Saya begitu senang jika materi yang saya ajarkan dapat siswa (i) pahami, bahkan jika mereka bisa mengerjakan soal yang saya berikan dengan baik. Disitulah muncul rasa puas saya hingga membuat saya begitu bangga menjadi seorang Guru.