Budaya “Me First”

Pernakah anda melihat orang nyosor atau orang tidak mau antri di tempat umum atau di lingkungan anda?.

Pernakah anda melihat orang ingin didahulukan sementara masih ada orang lain yang seharusnya didahulukan, tetapi terabaikan?.

Bagaimana perasaan anda melihat orang seperti demikian?, jika anda sebagai orang yang selalu ingin didahulukan, apa yang sebenarnya anda fikirkan?.

Suatu kebiasaan jika sering dilakukan akan menjadi budaya. Kebiasaan baik akan menguntungkan diri sendiri dan orang lain, namun bagaimana jika sebaliknya, pasti akan merugikan.

Bagaimana jika kebiasaan tersebut sering melukai hati orang lain? Apa efeknya?

Menurut Seorang Antropolog Amerika di abad 20an, Ralph Linton Pada  Liputan6.com, 11 Januari 2011, mendefinisikan budaya dalam bukunya yang berjudul The Cultural Background of Personality. Menurut Linton budaya adalah  susunan perilaku yang dipelajari dan hasil perilaku yang elemen komponennya dibagi dan ditularkan oleh anggota masyarakat tertentu. 

Setiap orang bisa menghasilkan budaya untuk diri sendiri jika berulang-ulang kali dilakukan dan kemungkinan besar budaya tersebut akan susah dihilangkan jika terus dipupuk.

Manusia yang sering melakukan kebiasaan yang baik atau buruk biasanya berasal dari orang yang kerap ditemui atau dilihat. Secara tidak langsung kebiasaan itu akan diikuti dibawah alam sadar seseorang, karena sudah tidak asing lagi, tetapi hal ini bukan karena diturunkan dari Orangtua, namun karena dicontoh.

Jika membiasakan prilaku tidak baik terus berkembang, pasti akan memberikan efek yang buruk, dan berikut alasan mengapa budaya me first  yang perlu kita hindari:

  1. Sulit Menjadi Pemimpin. Seorang pemimpin akan mengarahkan dan mensejahterakan bawahannya, karena pemimpin yang baik akan selalu siap mengambil resiko dan menerima kekalahannya untuk melayani. Lalu, bagaimana bisa memimpin jika selalu ingin didahulukan? Pemimpin tidak hanya menjadi pemimpin di sebuah kantor atau perusahaan, tetapi pemimpin untuk diri sendiri. Jika hal ini terjadi berarti akan sulit bagi diri sendiri untuk tau arah dan tujuan visi dan misi seorang pemimpin.
  2. Selalu Mendapat Masalah. Orang yang memiliki sifat normal tetap mendapat masalah, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, apalagi jika menjadi pribadi yang selalu ingin didahulukan. Contoh : Di terminal, orang-orang sedang antri untuk naik bus dan di sana ada seorang kakek dalam keadaan sakit sedang berdiri paling di depan pintu dan siap naik bus, namun tiba-tiba seorang pria menyerobot naik bus dengan alasan kwatir tidak mendapat tempat duduk, tanpa menghiraukan kakek tersebut. Serentak orang-orang yang berada di tempat itu menatap marah kepada pria tersebut. Jika kita amati, bukankah pria tersebut sedang mengali kuburan sendiri? Ini bukan contoh yang hanya sekali saja terjadi.

  3. Sulit Melihat Orang Lain Lebih Berhasil. Tidak bisa menerima kekalahan. Sakit hati hingga hidup terasa susah melihat orang lain berhasil adalah salah satu ciri orang yang selalu ingin didahulukan. Jika membiasakan budaya ini berkembang dalam jiwa, maka akan menimbulkan kerugian. Salah satu kerugian adalah susah berkembang menjadi produktive, bahkan dapat memperburuk rezeki, karena tidak berfikir atau fokus akan tujuan sehingga ragu dalam mengambil keputusan.

Budaya me first adalah kebiasaan yang perlu dihilangkan, karena tidak menguntungkan sama sekali. Jika kebiasaan ini sudah ada dan sudah melekat pada diri, sebaiknya melakukan perubahan dari dalam dengan upaya yang maksimal (self driving), pasti akan berhasil.

Seorang penjahat saja bisa berubah, mengapa yang hanya memiliki budaya me first tidak bisa?.

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *