Kategori
Ceritaku Orangtua Siswa Siswa

Asal Kerja Tugas, Selesai!

Sumber Gambar : pixabay.com

Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) sudah dimulai sejak 13 Agustus 2020. Penyesuaian belajar dari rumah masih berlanjut, keadaannya dinilai rumit, tetapi situasi yang mengharuskan seperti ini, sehingga menimbulkan beberapa masalah yang masih membutukan waktu untuk menjawabnya.

Masalah yang muncul tidak hanya berasal dari Orangtua siswa (i), tetapi juga dari Guru dan siswa.  Masalah yang muncul beragam, ada yang mudah, ada yang sedang dan ada yang paling susah, dimana, penyelesaiannya membutuhkan tenaga, atau bahkan urat leher yang besar. Hehehe

Serius ….

Masalah yang sangat serius terkadang mudah diselesaikan, namun tidak sedikit masalah yang sering dianggap enteng, ternyata rumit untuk menentukan kebijakannya. Ops…atau saya saja yang tidak tau yah. Hehehe

Ini tentang beberapa siswa (i) yang mengaku tidak memiliki fasilitas berupa kuota. Kening saya berkerut mendengar hal ini dari mereka, masalahnya kadang terlihat online, namun untuk belajar mengaku mengalami sedikit kendala.

Tapi, memang tidak sedikit siswa (i) yang tidak memiliki fasilitas, terkadang untuk berusaha mengumpulkan tugas, mereka harus meminjam smartphone tetangga atau bahkan orang lain, untuk melihat materi dan tugas yang diberikan Guru, serta memfoto hasil pekerjaan mereka dan mengirimnya kepada Guru.

Yang menjadi perdebatan adalah beberapa siswa mengatakan ‘mam, kitong kerja tugas begini saja, yang penting ada. kitong juga jaga imunitas tubuh ini, tidak boleh terlalu capek, karena banyak tugas lagi dari pelajaran lain’

Kalimat yang saya garis merah bawahi adalah ‘yang penting ada’ dengan kata lain yang asal keja tugas, selesai. Stop. Please. Jangan jadikan korona sebagai alasan untuk bermalas-malas atau bermanja ria yang akan membuat  siswa (i) menjadi lulusan PEMALAS.

Semua orang merasakan Pandemi ini, tetapi jika tidak dilawan dengan tetap belajar dan berusaha, maka bukan keamanan yang didapat, tetapi penumpukan masalah yang terjadi.

Berusaha tetap belajar, berfikir pada saat Pandemi adalah cara yang tepat, karena waktu kebanyakan dihabiskan di rumah. Tidak mungkin otak diikutkan istrahat sepanjang hari hanya karena takut Korona?.

Saya berfikir, mungkin Orangtua kurang  mengarahkan atau mengontrol anak-anak, agar supaya menghemat kuota atau mengingatkan smartphone hanya digunakan untuk belajar dan keperluan crusial lainnya. Sebaiknya ada sedikit pendekatan dari Orangtua siswa (i) untuk menghandel penggunaan smartphone atau meminta tugas secara langsung bagi siswa (i) yang tidak memiliki fasilitas.

Tidak lupa, kesadaran dari siswa (i) juga dibutuhkan, agar tetap belajar dari rumah atau mencari referensi ilmu dari berbagai sumber. Untuk itu, tetaplah semangat belajar. Jangan  mudah menyerah dalam keadaan apapun, karena hidup penuh perjuangan.

Baca juga :

  1. Cara efektif belajar selama Pandemi
  2. Mengajar dan belajar online terasa berat di ongkos.

Kategori
Guru Orangtua Siswa

Tantangan Guru Mengajar Secara Virtual

Sumber Gambar : pixabay.com

Kegiatan Proses Belajar Mengajar (PBM) semester Ganjil sudah dimulai. Ada banyak persiapan yang sedang bahkan sudah dilakukan oleh Guru-Guru, mulai dari perangkat mengajar, menentukan metode ajar dan cara mengatasi kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan dihadapi selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) berlangsung ke depan.

Bukan isapan jempol belaka, jika Guru yang dulunya tidak bisa mengoperasikan komputer, sekarang harus bisa, walau menggunakan aplikasi yang sederhana untuk pengajaran, hal demikian sudah baik. Hal ini dilakukan, agar Guru tetap melaksanakan tanggung jawab moril sebagai tenaga pendidik yang profesional.

Selama Pandemi ini, Guru-Guru menjadi spotlight, bagaimana tidak, ada banyak versi yang membuat Guru-Guru merasa terusik, baik dari para Orangtua siswa (i), hingga siswa (i) itu sendiri.

Mengetahui hal ini, Guru tidak hanya tinggal diam dan menerima sorotan dari berbagai pihak saja, namun inovasi yang dibuat oleh Guru-Guru tetap berjalan, mulai dari metode ajar selama PJJ, hingga cara agar siswa (i) tetap belajar.

Nadiem Makarim Mentri Pendidikan dan Kebudayaan dalam rapat kerja bersama dengan Komisi X DPR RI, Kamis (2/7/2020) membicarakan peta pendidikan ke depan. Beliau menjelaskan bahwa PJJ menjadi sesuatu yang permanen. Maksudnya adalah kegiatan pembelajaran tidak hanya murni secara virtual, tetapi ada kegiatan tatap muka atau menggunakan hybrid model/blended learning.

Pada kegiatan mengajar secara daring/virtual, ada tantangan yang Guru hadapi, beberapa diantaranya adalah :

  1. Guru Mempelajari aplikasi Baru Untuk Mengajar. Electronic Learning, yah. Lebih tepatnya demikian. Ini sudah familiar ditelinga para Pendidik, namun belum semua Guru menggunakannya. Selama mengajar dari rumah, mau tidak mau, siap tidak siap Guru yang belum pernah mengajar menggunakan teknologi yang menggunakan perantara internet ini, harus bisa mempelajarinya dan mengimplementasikannya. Ada banyak manfaat dari E-Learning, beberapa diantaranya adalah selain Guru tidak ketinggalan tren atau kudet  dari siswa (i), Guru juga bisa mengatur waktu sendiri tentang waktu pembelajaran, bebas dimanapun dan kapapanpun. Contoh aplikasi E-learning adalah Buku Sekolah Digital, Ruang Guru, Quipper, Google Classroom, Moodle, Edmodo, dan lain-lain
  2. Lebih Mengontrol  Emosi. Selama mengajar Daring/Virtual, Guru akan dihadapkan dengan keusilan siswa (i). Salah satu contoh adalah siswa tidak menaati SOP yang sudah disampaikan oleh Guru pada saat mengajar secara Virtual. Contoh kecil, Guru sebagai motivator atau fasilitator sudah menyampaikan bahwa Speaker di mute selama Guru menjelaskan, namun ada saja siswa yang usil dengan sengaja membunyikan sesuatu atau bahkan berbicara, agar semua teman-temannya fokus kepada dia. Pada situasi seperti ini, tentu Guru tidak bisa menghampiri siswa tersebut untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam atau Guru tidak bisa mengambil tindakan secara langsung. Berbeda pada saat belajar di kelas. Melihat hal ini, Guru harus menahan amarah dan terus berupaya mencari strategi, agar pembelajaran tetap selesai secara virtual tepat waktu, siswa (i) tetap mendapatkan ilmu secara baik, karena pada saat mengajar Guru juga mempertimbangkan kuota siswa (i).
  3. Menyisihkan Dana Khusus Kuota Untuk Mengajar. Tidak sedikit Orangtua siswa (i) beranggapan bahwa Pandemi ini sedikit menguntungkan Guru. Jika diamati secara dekat, sebenarnya anggapan demikian tidaklah benar. Banyak pengeluaran yang dilakukan oleh Guru untuk mengalokasikan dana mengajar. Mulai dari kuota internet hingga membeli domain, memberi paket untuk mengajar secara virtual dari rumah. Hal ini tidak mudah karena Guru juga harus tetap maksimal dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
  4. Kurang  “Me Time” Untuk Guru. Sejatinya, mengajar adalah hal yang sangat menyenangkan bagi Guru, namun selama study from home Guru harus selalu available  jika siswa (i) bertanya tentang penjelasan ulang materi dan cara mengerjakan tugas. Hal ini bisa terjadi dari pagi hingga tengah malam. Belum lagi jika Wali kelas harus naik turun gunung mencari alamat siswa yang tidak memiliki fasilitas untuk belajar dari rumah.

Tantangan selama mengajar dari rumah bukanlah penghalang bagi Guru untuk mendidik anak bangsa, namun seyogyanya Guru dan Siswa yang  kurang mampu diberikan fasilitas atau apapun, agar kegiatan mengajar dari rumah atau bahkan jika nanti hybrid model diterapkan, semangat Guru untuk mendidik, memfasilitasi siswa (i) semakin membara.

Kategori
Orangtua Siswa Siswa

Cara Efektif Belajar Selama Pandemi.

Sumber Gambar : pixabay.com

Tidak terasa, hampir lima bulan segala bentuk kegiatan dan pekerjaan paling sering dilakukan di rumah. Semua ini membuat kebiasaan belajar menjadi berubah drastis. Sebelum Pandemi, siswa (i) terbiasa pergi ke sekolah untuk menuntut ilmu, namun sekarang siswa (i) harus terbiasa belajar mandiri.

Hal ini mempengaruhi Orangtua yang mulai kwatir akan peningkatan kemampuan anak-anak mereka, karena kurang mendapatkan ilmu yang sebelumnya mereka dapatkan langsung oleh Guru-guru secara bergantian.

Belajar adalah kegiatan mutlak yang harus dilakukan oleh semua orang, semua kalangan, namun bagaimana dengan siswa (i) yang masih belum faham tentang cara belajar yang benar selama Pandemi.

Djamarah dan Zain dalam bukunya yang berjudul ” Strategi Belajar Mengajar” mendefinisikan belajar adalah bentuk proses perubahan yang dihasilkan dari pengalaman dan latihan

Kegiatan yang efektif, agar Pandemi ini tidak hanya merenggut kebebasan dalam bersosialisasi, menurunkan tingkat kecerdasan tetapi, juga melemahkan memori, maka cara yang paling tepat untuk belajar selama pandemi adalah dengan memperbanyak membaca dan menulis.

Kegiatan ini dapat melatih siswa (i), hingga dapat memperoleh banyak pengalaman ilmu dari berbagai informasi yang telah dibaca dan ditulis. Hal ini dapat melatih otak, agar terus berfikir hingga menjadi kreatif berdasarkan informasi yang telah dibaca dan tulis.

Membaca dan menulis merupakan cara merdeka belajar, namun harus disertai dengan berfikir kritis dan kreatif. Dengan banyak membaca, siswa (i) akan mendapatkan ilmu yang mungkin jauh lebih banyak dari lingkup materi yang diajarkan oleh Guru-guru.

Begitu juga dengan menulis, menulis dapat membuat seseorang mengembangkan ide dari sesuatu yang dilihat, didengar, difikirkan, dirasakan dan dilakukan. 

Dalam hal ini peran Orangtua siswa (i) sangat besar. Mentri Pendidikan dan Kebudayaan  Nadiem Makarim mengatakan dalam kemindikbud.go.id mengatakan bahwa cinta membaca itu mulainya bukan dari guru, tapi dari orang tua dulu.

Membiasakan anak membaca dan menulis sejak dini dapat membuat anak suka membaca. Mulai dari dibacakan cerita, hingga meminta anak menceritakan atau menulis ulang cerita yang telah didengar, namun jika anak masih berumur dua tahun kebawah cukup dibacakan cerita seperti dongeng sambil memperlihatkan halaman demi halaman kepada anak.

Jika memang siswa (i) tidak seberuntung seperti Siswa (i) yang selalu dibacakan atau diperkenalkan cerita oleh Orangtuanya sejak kecil, mulailah dari sekarang dengan keluar dari zona aman yang hanya melakukan hal yang tidak penting untuk mengisi waktu luang.

Mulailah membaca setiap hari. Cobalah awali dan akhiri hari kalian dengan mulai membaca minimal 10 menit setiap hari, seminggu berikutnya, naikkan intensitasnya menjadi 15 menit dan seterusnya demikian.

Pandemi ini tidak akan membuat kalian 100% dekat dengan Guru-guru kalian untuk belajar, maka dari itu, mulailah belajar mandiri dengan banyak membaca dan menulis. Guru pun harus selalu membaca, orang hebat pun masih selalu membaca bahkan para profesor yang orang katakan “otak komputer” pun masih harus banyak membaca, lalu mengapa kalian tidak?

Beradaptasi dengan kebiasaan baru memang agak sulit dilakukan, namun jika tidak merubah kebiasaan, maka tidak akan ada progresif yang baik dalam diri. teruslah belajar dengan memperbanyak membaca dan menulis.

Bacalah buku-buku atau sumber apapun yang kalian jumpai (kecuali buku/sumber yang tidak bermoral), tidak perlu mengatakan itu buku Sekolah Dasar atau apapun, bacalah dan setelah itu cobalah menulis dibuku atau selembar kertas akan sesuatu yang kalian telah baca. Sebulan berikutnya, lihatlah hasilnya. Yuk membaca dan menulis.

Referensi :

Djamarah.S. B, Zain. A. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta

 

 

Kategori
Orangtua Siswa Siswa

Kalian Membuat Saya Bersedih, Sekaligus Bersyukur.

Sumber Gambar : honestDocs.com

Hari ini, perasaan saya campur aduk, mau dibilang sedih, tetapi saya merasa bahagia. Saya mencoba untuk mengalihkan perasaan saya dengan melakukan hal yang saya sukai, seperti menulis dan menonton film, tetapi tetap saja hati saya tidak bisa saya ajak kompromi.

Sudah beberapa hari, lima orang Ibu-ibu  menelfon via whatsapp dan messanger. Awalnya saya mengabaikan panggilan tersebut seperti yang saya lakukan sebelumnya kepada beberapa penelfon yang iseng karena artikel saya. Saya menolak panggilan dan langsung menghapus pesan di messanger. Alasanya karena mayoritas penelfon melakukan hal yang hanya membuang waktu saya.

Setelah saya membaca satu pesan yang isinya berterima kasih dan ingin berbicara langsung, saya mengiyakan dan percakapan pun berlangsung, tetapi dipertengahan saya merasa kagum, namun sekaligus sedih akan beberapa curahan hati yang mengingatkan saya akan kehidupan saya dulu.

Dari beberapa percakan dengan para ibu-ibu, hal yang paling menyentuh hati saya adalah perjungan mereka bertahan hidup selama Pandemi ini. Ada yang harus memulai hidup dari nol, dan ada pula yang shock karena sebelumnya Ibu tersebut tidak mempunyai persiapan akan adanya Pandemi yang membuat keluarganya hampir tidur di jalanan.

Hal yang membuat buibu tersebut menelfon saya adalah karena artikel saya sebelumnya yang berjudul “Menggangur Selama Pandemi, Yuk Menghasilkan”  tanpa saya sadari ternyata ada beberapa pembaca yang mengikuti saran saya untuk menghasilkan di masa Pandemi ini.

Saya bersyukur jika memang tulisan saya bermanfaat. Jujur, saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari tulisan-tulisan saya. Maklum saya masih beginner di dunia blog, tetapi saya memiliki pengalaman yang saya bisa share dengan harapan, tulisan saya dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan saya mendapatkan feedback juga.

Dari percakapan saya dengan para Ibu-ibu, saya memetik beberapa pelajaran berharga yang mungkin bisa diimplementasikan dalam hidup, yaitu :

Anak Sekolah Perlu Memiliki Keterampilan. Hidup adalah misteri, tak ada yang tau akan hari esok. Mungkin ungkapan ini cocok untuk menjelaskan bahwa setiap orang, khususnya anak-anak zaman sekarang haruslah memiliki suatu kelebihan.

Hal demikian bisa dilihat dari talenta yang sudah dimiliki sejak kecil atau sesuatu yang dipelajari yang kemungkinan bermanfaat atau memiliki peluang yang besar.

Contoh keterampilan yang bisa menghasilkan adalah skill memasak atau membuat kue, skill marketing atau kemampuan berkomunikasi untuk mempengaruhi orang lain untuk membeli sebuah produk, skill merajut, skill menjahit, skill layanan jasa atau apapun yang sekiranya dapat menghasilkan uang yang halal.

Mengenalkan Hidup Susah Kepada Anak. Selalu memperkenalkan hidup yang berkecukupan, makan makanan yang enak, berpakaian yang mewah, memanjakan anak dengan cara membela-bela kesalahan anak, bahkan selalu memuji-muji anak adalah didikan yang salah.

Saya ingat kakek saya dulu membiasakan saya makan nasi dan sayur kangkung bening tanpa garam. Hal ini dilakukan bukan karena kakek tidak mempunyai uang, sama sekali tidak. Kakek saya seorang pensiunan polisi yang memiliki gaji setiap bulan dan sudah tidak membiayai siappun kecuali saya.

Suatu hari di meja makan kakek berkata. “Dely. Bukan kakek tidak mau belikan makanan yang enak teru-menerus, bukan karena kakek  menghindari makanan yang mengandung garam saja, tetapi supaya Dely terbiasa hidup seperti ini” lalu saya bertanya “ kenapa harus terbiasa?” kakek menjawab “besar nanti Dely pasti tau alasanya”, walaupun seperti demikian dua kali dalam seminggu, kakek membelikan makanan kesukaan saya.

Setelah kepergian nenek dan saya tidak lagi tinggal dengan kakek di Palu, barulah saya menyadari bahwa hidup tidak selalu mulus, terkadang kita akan dihadapkan dengan kondisi yang sebelumnya belum pernah kita alami, dan mereka yang terbiasa atau pernah hidup susah tidak akan terlalu kesulitan menjalani hidup sulit karena sudah biasa.

Kategori
Orangtua Siswa Siswa

Pentingnya “Self Censorship” Untuk Siswa

Sumber Gambar : pixabay.com

Perkembangan teknologi sudah tidak bisa dibendung. Para ahli berlomba-lomba menciptakan hal baru dan hasil buatan mereka yang terbaru adalah Robot, dimana manusia sudah mulai melirik robot untuk melakukan beberapa pekerjaan yang diperkirakan bisa mengeser beberapa pekerjaan manusia.

Jika kita melihat orang-orang hebat bersaing ketat dalam menciptakan sesuatu, menggingatkan kita bahwa urutan teratas Taxonomi Bloom  adalah mencipta/membuat, dimana siswa (i) dimampukan untuk membuat atau menciptakan sesuatu sesuai dengan materi yang diberikan.

Teknologi sangat bermanfaat karena dapat mempermudah pekerjaan manusia, namun manusia kerap salah menggunakan teknologi yang pada ujungnya merugikan manusia itu sendiri.

Hal sederhana yang bisa dilihat adalah dengan adanya internet. Pada awalnya internet sebagai penghubung antara manusia bahkan antar negara untuk saling berinteraksi, namun berubah menjadi sumber penyakit sosial atau keadaan dimana manusia mengalami degradasi moral atau kemunduran/penurunan nilai moral.

Seperti yang kita ketahui bahwa sebelum  Internet eksis, nilai-nilai moral sangat diutamakan, namun karena segala sesuatu semakin mudah dan cepat diperoleh  membuat nilai moral bukan prioritas lagi dalam masyarakat.

Hal serupa juga terjadi kepada siswa yang mayoritas Generasi Z dan Generasi Alpha. Mereka adalah generasi yang hidup dengan teknologi yang membutuhkan bimbingan dari orang dewasa tentang kebijakan penggunaan teknologi, dalam hal ini adalah penggunaan Smartphone atau laptop/Personal computer (PC).

Dalam beberapa hal, siswa (i) tidak seharusnya selalu mengharapkan orang dewasa atau orangtua untuk membimbing hal-hal tertentu. Dalam hal menggunakan Smartphone dan sejenisnya untuk bermain game online, mempublikasihkan sesuatu di akun media sosial, searching materi belajar di google, dibutuhkan “self censoring” atau kemampuan menyaring hal-hal yang bermanfaat dan tidak bermanfaat secara mandiri.

Kemampuan menyaring adalah keterampilan yang sudah dimiliki oleh para pelaku jurnalistik. Sebelum mereka mempublikasihan berita, mereka harus menyaring berita yang layak dan tidak layak untuk masyarakat seperti Hoax, berita yang memprovokasi dan sebagainya.

Hal demikian juga kepada siswa (i), agar sebelum publish sesuatu di akun media sosial, seperti gambar atau video, agar sebaiknya melakukan penyaringan, agar tidak melanggar UU Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Pembatasan ini tentu bukan untuk membatasi kebebasan berekspresi siswa (i) atau siapapun, akan tetapi untuk mengatur informasi dan dokumentasi elektronik, sehingga tidak mengacaubalaukan tatanan atau norma-norma dalam masyarakat.

Ada akibat jika melakukan pelanggaran ini, dari diblokir oleh pemerintah, hingga bisa dijatuhi hukuman penjara. Hal ini tujuannya bukan untuk menindas, tetapi untuk menghentikan hal buruk yang sudah terlanjur menyebar di masyarakat luas.

Dampak bagi siswa (i) yang melakukan pelanggaran ini selain yang sudah dijelaskan diatas, juga ada hukuman yang berasal dari masyarakat, seperti dibully, dijauhi atau bahkan dicemooh hingga akhir hayat.

Hal seperti ini akan mempengaruhi mental siswa dalam bersosialisasi, kesulitan dalam mencari pekerjaan bergengsi atau bahkan dicap negative oleh keluarga.

Melatih menggunakan kemampuan “self sensoring” sejak dini sangat baik, karena teknologi semakin berkembang, jika siswa (i) tidak bisa memiliki kemampuan menyaring sebelum mempublikasikan sesuatu, maka dikwatirkan siswa (i) tidak akan terlatih untuk bisa menyaring sesuatu sebelum mempercayainya, yang akibatnya bisa membawa siswa (i) terjerumus kedalam tindakan yang buruk.

Hal demikian juga jika mendapatkan tugas dari Ibu/Bapak Guru yang mengharuskan siswa (i) mencari informasi dari berbagai sumber seperti internet, maka godaan untuk membuka, melihat, memikirkan hal negative yang ditemui disana tidak akan mempengaruhi pola fikir untuk mengikuti hal tersebut.

Dibutuhkan kedewasaan atau pemahaman yang mendalam tentang penggunaan teknologi dalam menyaring berita atau sesuatu sebelum dishare ke publik.

 

 

 

 

 

Kategori
Ceritaku Orangtua Siswa

Mentalitas Pemenang: Sulit, Tetapi Bisa

Sumber Gambar : pixabay.com

Kemarin, tepatnya kamis, 25 Juni 2020, Siswa (i) dimana saya mengajar menerima raport untuk melihat hasil belajar mereka selama satu semester, dari bulan Januari 2020  hingga Juni 2020. 

Penerimaan hasil belajar kali ini, sangat berbeda dari penerimaan semester sebelumnya. Pada tahun sebelumnya siswa (i) didampingi oleh Orangtua dan penerimaan  dilakukan di sekolah, namun tahun ini, penerimaan hanya dilakukan secara virtual.

Ada beberapa wali kelas, bahkan beberapa sekolah tetap melakukan penerimaan hasil belajar siswa (i) di sekolah, namun suasananya tidak sesakral seperti tahun-tahun sebelumnya.

Pada penerimaan raport semester ini, tak ada wajah-wajah yang tegang untuk menunggu dan melihat hasil belajar, tak ada wajah-wajah ceria bahkan tak ada amarah dari Orangtua siswa setelah melihat hasil belajar anak-anak mereka, malah yang ada hanya ungkapan terima kasih dengan wajah sedih, was-was, bahkan takut.

Hal ini terjadi karena semua orang masih dalam suasana  antisipasi diri agar terhindar dari Covid-19 dan cemas akan hari esok dimana tidak sedikit dari Orangtua para siswa (i) kehilangan mata pencaharian utama mereka karena Pandemi.

Saya teringat perkataan dari orang yang saya tuakan berkata bahwa “kecemasan hanya akan memperburuk keadaan termasuk kesehatan”. Orang yang terlalu memikirkan sesuatu akan mempengaruhi fikirannya dan akan terpampang jelas di wajahnya dan cendrung mengalami kegagalan, gagal dalam berbagai hal.

Dengan melihat pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa seharusnya jika ada sesuatu yang menganjal hati dan fikiran sebaiknya jangan terlalu difikirkan, karena keuntungannya tidak ada. Bukankah kita hidup supaya memperoleh banyak keuntungan? Walaupun kesusahan sering dihadapkan kepada kita, mengapa kita tidak beradaptasi saja. Bukankah itu pilihan satu-satunya?

Menjadi kuat dalam keadaan susah adalah hal yang baik  untuk menghasilkan mental sebagai pemenang. Seorang pemenang bukan dinilai dari seberapa sukses dalam hal materi saja, tetapi seberapa hebat orang tersebut menang atas keadaan yang membuat diri merasa down.

Memiliki mentalitas pemenang memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi jika diupayakan pasti bisa.

Berikut beberapa hal yang perlu diketahui tentang mental seorang pemenang.

  1. Optimis. Mendoktrin diri sendiri untuk selalu berupaya memikirkan hal yang baik, walau dalam keadaan susah sekalipun adalah salah satu terapi yang baik, karena kemungkinan besar akan baik jika terus diupayakan dengan baik, sebaliknya, jika memikirkan sesuatu yang tidak baik maka hasilnya tidak baik. Pilih yang mana? Tetap optimis yah  buibu.
  2. Jatuh, Bangkit Lagi, Repeat. Well, semua manusia akan menghadapi masalah, termasuk masalah global yang sedang terjadi saat ini. Tetapi mari bercermin kepada orang yang sukses, tidak hanya sukses dalam hal materi, tetapi juga sukses dalam hal menghadapi setiap problema hidup. Rata-rata orang sukses bangkit setelah jatuh, lalu ulang lagi. Orang yang sukses saja atau istilah lain, orang yang sudah menuai masa keemasan tetap akan berhadapan pada masa dimana dia jatuh, namun apa yang rata-rata mereka lakukan? Bangkit. Terus dan terus seperti demikian.
  3. Selalu Mencari Peluang. Para moms and dads yang sedang pusing berat di masa Pandemi ini, terutama memikirkan pendapatan agar tetap menjadi Orangtua yang hebat bagi anak-anaknya, yuk cari peluang. Peluang halal yang menghasilkan uang tambahan. Berhenti membuat diri tertekan oleh karena keadaan. Apapun yang penting berkah. Mengapa tidak menggunakan peluang di masa ini seperti jualan online, menawarkan jasa, atau apapun yang menghasilkan.

Saya juga teringat dengan kalimat motivasi yang pernah saya dengar yaitu “tetaplah tersenyum karena tersenyum adalah obat lelah” jadi jika sedang lelah memikirkan masalah, tetaplah tersenyum sambil beradaptasi, sehingga menjadi pemenang yang selalu BISA, walau sesulit apapun keadaan itu.

 

 

Kategori
Orangtua Siswa Siswa

Betapa Pentingnya Kewirausahaan

Sumber Gambar : pixabay.com

Berwirausaha walau sudah menjadi Pegawai Negeri atau sudah menjadi seorang Karyawan merupakan sebuah tantangan yang patut untuk dilakukan, bagaimana tidak, jika diamati, rata-rata orang sukses (orang berada) adalah orang-orang yang berwirausaha.

Bagi para pekerja tetap biasanya mempercayakan bisnis dikelola orang lain agar pekerjaan bisa berjalan bersamaan adalah keputusan yang tepat. Tentu orang yang seperti ini adalah orang-orang yang selalu berfikir maju disertai jiwa optimis dalam berkerja atau berwirausaha.

Kegiatan ini tidak selamanya membutuhkan modal besar, beberapa orang justru berhasil karena berawalkan dengan modal kecil, diantaranya katering rumahan, desain grafis, jualan aneka minuman, makanan ringan atau dagangan kios, jasa cuci motor atau cuci mobil dan lain-lain.

Biasanya, awal pemasaran dilakukan kepada orang terdekat, apakah keluarga, tetangga atau rekan-rekan kerja. Beberapa orang memberikan layanan diskon untuk menarik peminat, namun langsung melebel diri dengan pelayanan prima agar peminat bisa semakin bertambah.

Mengingat betapa pentingnya berwirausaha, president Joko Widodo konsisten mendorong masyarakat untuk berwirausaha guna menciptakan lapangan pekerjaan baru. Hal ini sangat bermanfaat mengingat program seperti ini dapat mengurangi pengangguran di Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan memperkenalkan kewirausahaan di sekolah-sekolah.

Berwirausaha dapat diperkenalkan kepada anak usia dini, yang tujuannya agar anak tumbuh menjadi kreatif dan produktif. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk berkreasi serta memberikan contoh bagaimana menghasilkan sesuatu, lalu bisa dijual, seperti membuat kue, membuat anyaman, membuat rajutan, mendaur ulang, menawarkan jasa dan lain-lain.

Siswa Sekolah Menengah Atas dan siswa Sekolah Menengah Kejuruan sudah diajarkan pelajaran kewirausahaan,  yang tujuannya adalah agar siswa (i) memiliki jiwa berwirausaha yang  berkreasi kreatif di masa mendatang.

Siswa lulusan SMA/SMK sederajat tidak semua melanjutkan kuliah, sebagian ada yang mengikuti kursus atau pelatihan untuk bekerja di sebuah perusahaan, ada juga yang bekerja dengan gaji minim di sebuah toko, warung atau mall dan tidak sedikit dari antara mereka ada yang belum siap untuk melakukan apapun dan juga karena belum ada peluang untuk bekerja.

Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, namun karena sudah berbekal pelajaran wirausaha, dimana siswa (i) telah diajarkan membuat atau menciptakan  sesuatu atau karya, mengapa tidak mencoba mengimplentasikannya? Jika tidak merasa gengsi, tindakan ini bisa dijadikan penghasilan  sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan. Jika melihat orang disekeliling kita, Salah satu pekerjaan alternatif orang-orang sebelum mendapatkan pekerjaan tetap adalah berwirausaha. Kegiatan ini sangat membantu karena dapat menyokong kebutuhan hidup.

Ada istilah “yang muda yang berkarya” ini kesempatan besar bagi siswa yang telah lulus, namun belum mendapatkan pekerjaan atau sudah menjadi karyawan, namun ingin menjadi bos, yang minimal menjadi bos untuk diri sendiri.

Bagi anak sekolah yang baru saja lulus, namun tidak melakukan apapun atau yang sedang kuliah, tetapi kreatif, waktunya  mempersiapkan diri  berlabel pengusaha, jangan hanya menunggu menjadi Pegawai saja atau bersedia menjadi bawahan, tetapi membuka lapangan pekerjaan dengan semangat yang besar, sebenarnya tidak kalah hebatnya dengan mereka yang bekerja sebagai pegawai. Carilah atau ciptakanlah peluang, jangan hanya menjadi penonton saja.

Ciptakanlah sesuatu walau dimulai dengan modal kecil atau tanpa modal seperti usaha jasa. Pekerjaan jikalau ditekuni akan membuahkan hasil yang luar biasa, walau harus melalui proses panjang. Bercerminlah kepada orang yang sudah kaya, namun masih bekerja keras agar tetap eksis, lalu mengapa  kalian yang tidak seperti mereka hanya bermalas-malasan dan parahnya, malah menunggu menjadi bawahan saja?

Kategori
Ceritaku Orangtua Siswa Siswa

Hikmah Hadirnya Covid-19

Sumber Gambar : pixabay.com

Kemarin, tepatnya hari senin, 22 Juni 2020,  saya mengadakan meeting melalui aplikasi ZOOM dengan anak wali saya untuk memastikan mereka dalam keadaan  baik-baik saja dan sekaligus memberikan informasi penting seputaran kegiatan dan administrasi  sekolah.

Sebenarnya, kami sering berkomunikasi melalui grup Whatsapp dan telfonan secara individual,  bagi yang tidak memiliki paket data dan tidak memiliki smartphone, namun hari itu saya ingin sekali melihat langsung dan memberikan beberapa pertanyaan mengenai tugas online dari beberapa Guru mata pelajaran.

Dengan berjalannya waktu, saya memperhatikan mereka sangat gembira,  alasannya karena mereka bisa berkumpul lagi dengan teman kelas mereka dengan jumlah yang agak banyak, walau secara virtual.  Biasanya  hanya 3-4 siswa saja melalui aplikasi lain.

Pada saat saya menjelaskan, saya memperhatikan mereka begitu antusias bisa saling berinteraksi satu dengan lainnya. Mereka saling melepas rindu, karena sudah sekian lama, mereka tidak bisa berjumpa satu dengan yang lain.

Pandemi ini sangat mempengaruhi perkembangan mereka, bagaimana tidak, biasanya mereka memiliki hari libur hanya beberapa hari dan paling lama dua minggu saja, dan walaupun libur mereka masih bisa bertemu  di luar sekolah, namun sekarang, karena Pandemi, hampir 3 bulan mereka  tidak bersua sama sekali, sehingga menyisakan sedikit sedih di hati mereka.

Di usia mereka yang saat ini, yang  sedang mengalami masa pertumbuhan, dengan terpaksa, mereka  mematuhi peraturan untuk stay at home. Tindakan ini sangat tepat, dan keadaan yang mereka alami saat ini akan menjadi cerita  pada saat mereka berusia lanjut nanti.

Hal yang menggelitik hati saya adalah, ekspresi mereka. Kita bisa bayangkan jika lama tidak berjumpa dengan teman-teman yang selalu bersama-sama dengan kita dan tidak bisa  bergaul dengan teman baru juga, pasti akan terasa sedih. Yah. Sedih.

Sangat mengharukan, di masa pertumbuhan, mereka yang tidak bisa berinteraksi secara leluasa, tidak bisa mengenal teman baru bahkan jika diberlakukan New Normal, mereka juga harus tetap menjaga jarak.

Namun ada hikmah yang bisa diambil oleh Siswa (i)  dari kehadiran Covid-19 yaitu:

  1. Menyadari Arti Sebuah Pertemanan. Gurih-gurih sedap, kata orang begitu. Friend is life sometimes, tetapi juga teman-teman bisa menjadi bencana jika siswa tidak bisa mengontrol diri. pada saat merasa sedih, binggung biasanya siswa (i) bercerita kepada teman, jalan-jalan dengan teman, belajar bersama-sama, bercanda gurau,  namun semua itu berubah drastis. Kiranya dengan hadirnya Covid-19 yang telah merubah banyak hal akan membuat siswa semakin tau arti dari pertemanan.
  2. Betapa Pentingnya Menggunakan Waktu. Sebelum Pandemi, tidak sedikit siswa (i) suka bermalas-malasan dengan menunda-nunda waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas. Dengan adanya pencegahan penularan virus yang mengharuskan semua orang lebih banyak di rumah dan menjaga jarak, membuat siswa (i) merasa bahwa membuang waktu untuk tidak belajar dan memelihara sifat malas akan merugikan diri sendiri.
  3. Menyadari Akan Sebuah Pengorbanan. Mengikuti aturan untuk menjaga jarak akan membuat siswa (i) merasa sedikit merasa bersedih. Berkorban untuk kebaikan semua orang sangat penting dengan menskip moment tertentu di usia muda, seperti belajar bersama di sekolah, mengikuti kegiatan lain di luar sekolah, merayakan lebaran sendiri-sendiri, mengerjakan tugas secara mandiri selama 3 bulan yang biasanya kerja sama, dan terima raport tanpa bersua.

Demikianlah penjelasan beberapa hikmah dengan hadirnya Covid-19 di tengah-tengah masyarakat. Kiranya kejadian ini tidak membuat siapapun merasa menyerah dengan keadaan, akan tetapi dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian. Tetap semangat.

 

 

 

 

 

 

Kategori
Orangtua Siswa Siswa

Juara Kelas Tidak Menjamin Kesuksesan Di Masa Mendatang

Sumber Gambar : pixabay.com

Menjadi sang juara adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Berjuang bersusah payah dan akhirnya dihadiahi predikat juara akan membuat rasa lelah terbayarkan dengan setimpal.

Juara kelas adalah impian setiap siswa (i) dan dambaan setiap orangtua, dimana orangtua berharap kelak anak-anak mereka menjadi sukses dan menjadi kebanggaan keluarga.

Defenisi kesuksesan berbeda-beda, tetapi pada umumnya defenisi kesuksesan adalah situasi dimana seorang anak bisa mandiri, bisa membiayai hidup sendiri, bisa membeli sesuatu yang diinginkan walau mungkin harus dicicil, bisa membantu oranglain dari hasil kerja keras suatu saat nanti  dan sebagainya.

Masa depan adalah misteri, begitulah kata-kata orang bijak, tak ada yang tau, apakah suatu saat siswa yang sering juara kelas akan menjadi sukses dan siswa yang biasa-biasa saja tidak. Tak ada jaminan, namun para orang-orang  tua dulu sudah memberikan gambaran untuk melihat ciri-ciri calon orang yang sukses suatu saat nanti.

Siswa yang memiliki semangat belajar yang tak pernah putus, tekun dalam bekerja, sabar dan memiliki prinsip hidup adalah beberapa ciri-ciri siswa yang kemungkinan besar akan sukses. Tidak sedikit siswa yang berasal dari keluarga biasa, mendapatkan nilai standar di kelas pada saat masih sekolah, namun sukses pada saat dewasa, sebaliknya, pada saat masih sekolah, selalu mendapat juara kelas, kebanggan orangtuanya yang selalu dipuja-puja karena pintar, namun pada saat dewasa,  hanya menjadi bumerang untuk keluarga dan masyarakat.

Sebenarnya, apa alasannya sehingga juara kelas tidak menjamin kesuksesan di masa mendatang? Ini mungkin menjadi pertanyaan besar, dan berikut penjelasannya :

  1. Memiliki Sifat Manja. Pernakah anda melihat orangtua yang selalu mengagung-agungkan anaknya?, supaya dikatakan anak yang hebat orangtua rela melakukan apapun agar anaknya mendapatkan apapun yang anaknya inginkan, seperti masuk sekolah bergengsi, masuk universitas dan jurusan bergengsi dengan membayar bukan karena prestasi. Orangtua yang baik adalah orangtua yang memberikan kasih sayang untuk anak-anaknya, tetapi tidak sedikit orangtua yang sudah salah dalam mendidik anaknya hanya karena terlalu sayang kepada anak. Tidak sedikit anak yang manja gagal meraih cita-cita orangtua selalu mengikuti kemauan anak yang mengakibatkan anak menjadi malas, malas berfikir, malas berusaha bahkan malas bekerja.
  2. Terlalu Percaya Diri. Siswayang pintar pada umumnya memiliki rasa percaya diri yang tinggi, dan hal ini sangat baik, namun apa akibatnya jika siswa (i) yang sudah pintar, rajin, namun memiliki sifat yang terlalu percaya diri. Biasanya siswa yang seperti ini cepat merasa down pada saat menemui kegagalan.
  3. Pergaulan yang Salah. Mungkin siswa (i) sering dinasehati untuk tidak sembarangan bergaul. Ini  tidak salah, namun tidak sepenuhnya benar. Bergaul dengan siapa saja boleh, tetapi harus bisa mengontrol diri, membatasi diri agar tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak baik. Banyak bergaul akan membawa banyak peluang. Peluang tidak hanya berasal dari orang pintar, keluarga kaya, akan tetapi bergaul dengan siapa saja yang menurut diri nyaman. Banyak teman akan membukakan banyak kesempatan.

Siswa bisa menciptakan masa depan dengan berusaha di masa kini. Tak perlu minder karena mungkin berasal dari keluarga miskin, broken home, bekerja sebagai pembantu untuk membiayai sekolah, sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk belajar dan tidak memiliki fasilitas yang cukup untuk belajar, namun yang terpenting adalah tetap belajar, berusaha memiliki keterampilan dan kerja keras agar tidak menjadi orang susah sepanjang hayat.

Bagi siswa (i) yang selalu juara kelas, tetaplah berusaha, jangan berhenti belajar. Ingat diluar sana, ada banyak pesaing. Pesaing tidak hanya orang yang pernah juara kelas, tetapi pesaing yang memiliki banyak kesempatan untuk sukses, bahkan ada juga pesaing sukses karena faktor keberuntungan. Belajar tidak hanya dari materi Guru, tetapi segala sesuatu yang ada di sekitar kita adalah Guru kita, jadi tetap giat belajar.

Kategori
Orangtua Siswa Siswa

Alasan SPP Harus Tetap Dibayar Selama Masa Pandemi.

Sumber Gambar : suretindomu.com

SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) adalah dana yang harus dibayar oleh Orangtua siswa atau Orangtua  mahasiswa sebagai bentuk kewajiban. Di sekolah atau kampus, siswa atau mahasiswa mendapatkan hak untuk belajar dan mengali ilmu dari tenaga pengajar, oleh karena itu Orangtua harus membayar kewajiban  untuk mendukung  kegiatan sekolah atau kampus.

Biaya kegiatan sekolah bermacam-macam, ada biaya untuk Guru honor, biaya untuk petugas kebersihan dan keamanan sekolah,  biaya untuk kegiatan OSIS, biaya untuk kegiatan Kepramukaan, biaya konsumsi untuk rapat dinas, biaya pengandaan dan lain-lain. Selama Pandemi kegiatan OSIS dan Kepramukaan sama sekali ditiadakan, tetapi kegiatan yang lain masih berjalan dan membutuhkan dana.

Ada yang bertanya tentang dana BOS yang jumlahnya besar, diapakan saja? Nah ini yang harus dipahami bahwa untuk penggunaan dana BOS tidak sembarangan, karena ada alokasi penggunaanya tersendiri dan jika digunakan diluar dari ketentuan, maka hal demikian akan diaggap sebagai penyelewengan dana. Untuk diketahui bahwa setiap sekolah selalu diaudit oleh tim khusus dari dinas dan pusat untuk mengawasi penggunaan dananya. Contoh penggunaan dana BOS adalah biaya untuk renovasi sekolah, biaya perbaikan ruang kelas, bangku, meja, alat praktek, biaya listrik, biaya air, dan lain-lain.

Lalu, ada juga Orangtua siswa bertanya “apakah meja, kursi, alat praktek, ruang kelas selalu diperbaiki atau selalu rusak?” Sebaiknya Bapak/Ibu bisa menjawab sendiri. Apakah meja dan kursi di rumah akan mudah rusak jika digunakan lebih dari 20 anak? Apakah permainan anak Bapak/Ibu di rumah selalu awet, apalagi jika digunakan oleh banyak anak?.

Anggapan miring juga terus bermunculan selama Pandemi, siswa belajar dari rumah sehingga mau tidak mau Orangtua berperan untuk mengambil alih sebagian besar tanggung jawab Guru untuk mendidik  siswa (i), sehingga beranggapan bahwa karena siswa lebih banyak dibimbing oleh Orangtua dari pada Guru, maka SPP seharusnya dikurangi atau dihapuskan. Isu ini cepat berkembang dikalangan para Orangtua yang mendorong mentri pendidikan memberikan klarifikasi bahwa SPP tetap harus dibayar.

Agar  Para Orangtua siswa (i) lebih memahami mengapa SPP tetap harus dibayar selama pandemi, maka berikut pemaparannya :

  1. Kegiatan Proses Belajar Mengajar Tetap Berlangsung. Study from home untuk siswa dan work from home untuk Guru. Dari kalimat ini sudah jelas bahwa kegiatan masih sama seperti kegiatan sebelum Pandemi, berarti hak siswa masih diberikan. Begitu juga dengan pengambilan penilaian yang masih bagian dari KBM, selama KBM  masih berlangsung, penilaian juga tetap ada, walau Guru mengalami sedikit kesulitan karena pengambilan nilai karakter melalui online, tetapi Guru menggunakan referensi penilaian karakter siswa sebelum belajar di rumah. Hal ini jelas bahwa yang menentukan nilai siswa (i) dan diakui di raport adalah nilai dari Guru bukan nilai dari Orangtua siswa (i).
  2. Segala Bentuk Administrasi dari Tata Usaha Tetap Berjalan. Penulisan dan penerbitan raport dan Izasah tetap ada, baik legalisir izasah, kegiatan surat menyurat, maupun urusan keperluan Guru-Guru. Untuk kelangsungan kegiatan sekolah juga tetap ada, berarti urusan kewajiban administratif siswa (i) juga harus tetap ada, karena semua kegiatan di sekolah membutuhkan dana, baik dari dana biaya operasi sekolah maupun dari dana sumbangan pembiayaan pendidikan.

Perlu disadari bahwa tujuan kegiatan belajar dari rumah adalah untuk melakukan pencegahan penyebaran virus Covid-19, oleh karena itu,  pihak sekolah melalui Guru-Guru mata pelajaran dan wali kelas tetap melakukan pemantauan agar siswa (i) tetap belajar seperti biasa, walau secara virtual. Ini berarti pemberian hak untuk siswa (i) tetap ada, berati Orangtua  harus tetap melaksanakan kewajiban.