Herd Stupidity Pada Siswa

Sumber Gambar : pixabay.com

Mungkin anda sering mendengar kata Covidiot, belakangan ini istilah populernya adalah herd stupidity. Well, Jauh sebelumnya terkenal dengan istilah national stupidity (kebodohan nasional).

Stupidity atau sering disebut stupid adalah kata yang tidak pantas dialamatkan kepada anak/siswa (i) secara langsung.

Hal tersebut akan membuat merasa down dan kehilangan rasa percaya diri, namun perlu disadari bahwa kata ini kerap digunakan di daerah-daerah tertentu yang tujuan sebagai canda gurau saja.

Saya menggunakan kata herd stupidity disini bukan untuk mengatakan siswa atau anak  bodoh, tetapi sebagai tanda bahwa kesadaran siswa (i) sudah sangat menurun akan pentingnya belajar selama Pandemi.

Semua orang tau bahwa belajar adalah satu-satunya kunci menuju kesuksesan, juga dapat mengangkat manusia dari level rendah menjadi layak.

Dalam hal ini belajar dapat dilakukan dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun. Minimal dengan melihat sesuatu, siswa bisa tergerak untuk mencari tau jawaban dari pertanyaan bagaimana, siapa, dimana, kapan, untuk apa, apa akan apa yang telah dilihat, didengar, dirasakan, dilakukan dan diinginkan.

Contoh, seorang anak sedang melihat atau mendengar sebuah kata yang dia tidak ketahui artinya,  sebaiknya mencari tau arti kata tersebut, agar membantu siswa bisa tau banyak hal selama Pandemi.

Atau sedang mendengar berita di TV, media massa, sebaiknya  siswa (i) cari tau arti dan inti beritanya agar mengerti dan mengetahui banyak hal baru.

Semakin banyak membaca, banyak mencari tau, semakin banyak tau hal baru. ops..tapi bukan mencari tau sesuatu yang berupa gosip yah, Jika kalian sudah terkontaminasi kebiasaan buruk itu,  stop..jauhi hal yang tidak ada untungnya itu.

Sifat Cuek.

Cuek katanya cool. Yeah, sometime it’s true, but it’s not always. Cuek biasanya masa bodoh, masa bodoh cendrung malas, malas sama dengan bodoh.

Parahnya jika siswa sepaham akan hal yang sama-sama tidak benar, misalnya tidak mau ikut belajar online (via zoom, teams atau yang lainnya) dengan alasan tidak ada paket data, pada hal orangtua sudah menyiapkan fasilitas.

Paket data yang ada digunakan salah, misalnya digunakan untuk bermain game online atau judi online seperti taruhan bola antar sesama siswa dan lain-lain.

Gengsi Sama Teman.

Biasanya anak muda sukar merem keiginan yang mereka sudah tau  kegiatan yang tidak baik atau buruk.

Keinginan mau dilihat gaul atau dilihat keren dengan ikut-ikutan hal yang sebenarnya bikin mereka akan menyesal jika mereka sudah dewasa.

Contoh : tidak mau belajar, tetapi gemar ikut mengendarai motor sambil mengangkat ban depan, bekkennya ingin seperti freestyler atau stunt rider.

Keinginan tidak salah, tapi yang salahnya adalah (1). berlatih di tempat yang salah, misalnya di jalan umum dan parahnya sambil menggunakan pakaian sekolah, (2) belum berlatih dengan baik, tapi seperti sudah jago dan tidak perduli akan keselamatan orang lain, (3)  rela tidak belajar, tidak kerja tugas, tidak makan dan tidak istirahat demi berlatih.

Hanya karena ingin dikatakan banyak teman, terkadang siswa lupa dan atau mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai siswa. 

Terkadang juga bergaul dengan anak yang sudah putus sekolah. Sebenarnya berteman dengan siapa saja tidaklah salah, namun mengikuti kebiasaan orang yang tidak sekolah tentu salah besar.

Tindakan

Selain motivasi dari Guru (Wali Kelas), peran Orangtua siswa dibutuhkan dan yang paling penting adalah dibutuhkan self driving siswa untuk berubah.

Berani menjauhkan diri dari teman yang memiliki pemahaman jauh dari kata suka belajar, malas melipat lengan baju untuk bekerja adalah hal yang bisa membuat siswa siap bersaing di masa mendatang.

Yuk, minimal siapkan waktu kalian 30 menit untuk belajar dan 30 menit untuk membaca apa saja, ingat, dalam masa Pandemi saja dunia masih terus bergerak maju.

Baca Juga :