Dampak Hadirnya Covid-19

Kejenuhan telah melanda banyak orang setelah beberapa bulan hadirnya virus korona Covid-19. Kebiasaan untuk bergerak atau untuk beraktivitas bebas telah terbatasi di era New Normal dengan tujuan untuk menghentikan penyebaran virus tersebut.

Pengorbanan untuk menjaga jarak, membatasi diri untuk bersosialisai langsung sangat dibutuhkan untuk menunjang kelangsungan hidup manusia, namun dengan batas waktu yang tidak menentu membuat banyak orang merasa bosan, sehingga tidak sedikit orang melanggar aturan protokol. Hal ini bisa dilihat dengan meningkatnya jumlah kasus virus korona gelombang kedua.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah pusat dan Pemerintah daerah, namun tidak serta-merta menghentikan penyebarannya. Hal ini sangat disayangkan, namun jika diamati lebih dalam bahwa tidak semua orang memiliki pola fikir dan pandangan yang sama.

Hal ini berdampak pada tumbuh kembang anak yang secara tidak langsung telah membuat siswa (i) merasa bosan dengan peraturan Protokol. Jika kita melihat teori perkembangan anak/ Psikososial (Teori Pieget), dalam konteks psikologi perkembangan, pembentukan identitas merupakan tugas utama dalam perkembangan kepribadian yang diharapkan tercapai pada akhir masa remaja.

Pada usia 12 -17 tahun anak mulai mencari jati diri, ingin berbaur dengan siapa saja, khususnya anak yang seusia dengan mereka. Kebiasaan untuk bersosialisai langsung dianggap lebih ampuh ketimbang bersosialisasi secara online.

Dari 30 siswa (i) yang diwawancarai  oleh Penulis  via akun media sosial, dan secara langsung, mengatakan bahwa mereka kerap melanggar peraturan Protokol, baik secara tidak sengaja, maupun disengaja.

Dari beberapa pertanyaan yang diajukan, mereka mengatakan bahwa bertemu langsung dengan teman-teman jauh lebuh asik ketimbang bertemu hanya melalui alat kominukasi.

Tentu saja, tindakan siswa (i) tidak bisa disalahkan 100%, karena seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa di masa pertumbuhan, mereka butuh bersosialisasi, sama halnya dengan anak-anak yang berumur 12 tahun kebawah, tidak mungkin Orangtua mereka bisa bertahan melarang mereka untuk tidak bersosialisai secara langsung atau selalu menjaga jarak dari teman sepermainan dilingkungan mereka.

Melihat hal ini, peran Orangtua, Guru, Petugas Protokol sangat dibutuhkan. Salah satu hal yang mudah dilakukan, namun terasa sukar dilaksanakan adalah menghargai siapa saja yang memilih menjaga jarak dengan siapapun.

Dampak lain adalah tidak sedikit orang dewasa sependapat dengan siswa (i) untuk memilih bersosialisasi langsung dengan rekan kerja, tetangga dan atau keluarga terdekat. Pemikiran tidak ingin dianggap sombong atau tidak ingin terlalu  higenis diabaikan demi menjaga perasaan orang lain.

Sindiran beberapa orang yang tidak begitu perduli akan hadirnya virus Covid-19 kerap memandang salah sikap orang lain yang selalu memprotek diri, agar tidak tertular atau menularkan. Anggapan bahwa “terlalu berlebihan” sebaiknya dihilangkan.

Jika membiarkan sikap nyinyir dan terlalu menganggap aneh tindakan proteksi diri orang bisa mengakibatkan munculnya gangguan kejiwaan. Gangguan terjadi akibat tekanan situasi seseorang yang kurang berinteraksi yang mengakibatkan tekanan jiwa, sehingga mudah tersinggung akan sikap dan prilaku seseorang yang menjaga jarak, atau situasi dimana keakraban sebelum Pandemi berubah menjadi tidak biasa.

Sikap nyinyir, cepat tersinggung atau sakit hati akan prilaku orang yang selalu menjaga jarak adalah sikap yang tidak mematikan, namun tentu saja jika hal ini terus dipupuk, maka salah satu akibat tidakan seperti ini bisa menurunkan imunitas tubuh karena sukar berfikir positif akan orang lain. Klikdokter.com pada artikelnya 27 November 2018 mengatakan bahwa salah satu manfaat berfikir positif adalah meningkatkan imunitas tubuh.

Melihat hal ini, semua pihak seharusnya membuka mata. Jika dibiarkan maka penanganan Virus Corona Covid-19 akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengatasinya, selain itu dampaknya bisa berakibat buruk bagi kejiwaan jika tidak ada kesadaran dari semua pihak.