Sang Tete Yang Andalan Sekali.

Sumber Gambar : pixabay.com

Bersyukur.

Salam sehat semuanya. Kalau kata buibu di komplek sono “salam korona”  saya binggung, koq salam itu? Saya bertanya ‘kenapa salam itu?’ seorang mace menjawab. ‘iya, korona yang bikin kitong ta duduk lama di rumah, jadi salam korona yang kitong pake’ saya menjawab ‘ya ya ya’ hehehhehe.

By the way,  sudahkah anda bersyukur hari ini? apa yang anda syukuri? ada banyak hal yang membuat kita bersyukur. Beberapa diantaranya adalah masih bisa bernafas, masih memiliki tubuh yang sempurna, masih bisa makan yang enak minimal makan sederhana, namun lezat di lidah, contoh: sambel, pisang goreng, keladi rebus dan lain-lain.

Beberapa hari lalu, dalam keadaan sedang terburu-buru, saya melihat suatu kejadian yang membuat saya langsung sekejap mengingat sang Pencipta bumi dan segala isinya. Hal ini sebenarnya sudah saya tulis pada postingan di salah satu akun media sosial saya, dimana saya menulis tentang kesedihan hati saya melihat seorang kakek berjajalan tanpa kaki sempurna dibawah terik matahari, di atas trotoar yang panas.

Pada saat itu, saya sedang lewat di depan sebuah Bank daerah,  naik kendaraan roda dua. Sekejap saya turunkan gas motor saya, karena melihat seorang kakek yang duduk sambil bergerak maju. Saya  hendak berhenti untuk menolong kakek tersebut. Saya melihat mata beliau sudah merah dan begitu kelelahan.

Pada saat saya berputar arah, kakek tersebut sudah di bawah pintu mobil angkutan umum. Saya amati, kakak tersebut tidak mau di tolong orang. Beliau mengucapkan terima kasih kepada dua anak muda yang hendak menolongnya. Pada saat kakek sudah diatas pintu angkutan umum, kakek berkata dengan ramah ‘jangan pegang anak, korona jadi’.

Serius , sikap dan ucapan kakek tersebut membuat saya semakin merasakan sesuatu yang saya tidak bisa ungkapkan. Jarang ada orang sempurna  memiliki prinsip seperti demikian. Tidak mau minta tolong, karena masih merasa sanggup mengerjakannya sendiri dan sangat preventif atau mencegah dirinya tertular dari virus Covid-19.

Dari kejadian ini, saya memetik pelajaran hidup dari beliau:

Terus Berusaha Tanpa Kenal Lelah.

Bukan membanding-bandingkan, tetapi banyak bukti jika kadang kita lebih mengutamakan sifat malas dengan melakukan berbagai upaya, salah satu contoh memalukkan adalah pura-pura. Supaya dikasihi orang lain, kadang manusia menonjolkan sifat pura-pura, agar diperhatikan atau dibantu orang lain. Hal ini tidak berlaku bagi kakek tersebut. Dalam keadaan tidak bisa berjalan, hanya menghandalkan pantat untuk bergerak maju dan mundur, beliau tetap melakukan aktivitasnya. Beliau tidak pandang begitu teriknya  matahari , yang jelas tetap melaksanakan apa yang ingin dilakukan, tanpa meminta belas kasihan orang lain.

Tidak Manja.

Hal ini kerap juga saya sampaikan kepada siswa (i) saya bahwa anak yang manja cenderung susah atau tidak sukses jika dibandingkan dengan anak yang tidak manja. Anak manja biasanya mengutamakan sifat malas dan mau melakukan apa saja untuk diri sendiri , sehingga mendorong dirinya memiliki sifat munafik. BIG NO!

Patuhi Aturan.

Dalam keadaan tidak sempurna, Kakek tersebut mengutamakan peraturan untuk tidak menularkan dan ditularkan. Keren. Kalau boleh, saya mau  bilang ‘Tete, ko memang andalan’.  Hal sepele memberikan pelajaran hidup bagi orang lain dan itu bukan perkataan, tetapi tindakan. MANTAP!

Kata orang ‘apalah arti perkataan tanpa tindakan’.  Kakek tersebut sudah memberi pelajaran hidup melalui tindakan sederhana. Kita yang memiliki fisik sedikit lebih baik, hendaknya belajar dari si tete.

Baca Juga :

  1. Hidup penuh pilihan dengan berfikir
  2. Kalian membuat saya bersedih sekaligus bersyukur

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *