Alasan Siswa Takut Divaksin!

Sumber Gambar : pixabay.com

Herd imunity sedang dinomor satukan di dunia. Tujuannya adalah untuk menekan penyebaran Covid-19.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah, salah satunya adalah dengan memberikan vaksin gratis kepada seluruh rakyat Indonesia.

Hal baik ini tidak disambut seratus persen oleh semua orang, ini terjadi karena berbagai alasan.

Yang menjadi pembicaraan yang selalu hangat adalah masih banyak orang yang tidak bersedia di vaksin, walau kondisi fisik mereka terbilang sehat.

Mereka yang memenuhi syarat untuk divaksin menolak dengan keras, karena berbagai alasan dan parahnya pemahaman mereka telah ditularkan kepada anak-anak mereka (siswa (i)).

Tak sedikit anak yang memenuhi syarat untuk divaksin menolak keras, salah satu faktor adalah tidak diizinkan oleh Orangtua.

Jika bercermin awal keriuhan ini adalah tidak sedikit Orangtua  siswa (i) mempertanyakan tentang Guru yang work from home  (WFH) dan siswa study from home (SFH).

Alasan bahwa bahwa mereka tidak memiliki background sebagai guru  yang membuat mereka memprotes bahwa seharusnya Guru yang mengajar anak-anak mereka.

Nah, sekarang pemerintah sudah mengupayakan diadakannya vaksin gratis yang tujuannya, agar anak mereka (siswa) bisa kembali belajar di sekolah walau belum bisa normal seratus persen, namun penolakan vaksin ini seakan menjadi-jadi dengan alasan bahwa :

  1. Vaksin Mengandung Minyak Babi. Entah ini info dari mana, apakah benar atau tidak vaksin mengandung  minyak babi, namun bukan rahasia umum lagi bahwa manfaat minyak babi tidak hanya untuk kecantikan, namun juga untuk kesehatan. Terlepas dari pemahaman akan kandungan vaksin, sebaiknya amati kembali kandungan vaksin dan proses pembuatannya agar tidak salah kaprah.
  2. Banyak Orang Meninggal Setelah Divaksin. Salah satu syarat sebelum divaksin adalah tubuh harus dalam kondisi prima, jika sedang sakit, sebaiknya tunda dulu hingga hasil diaknosa dokter keluar. Tak sedikit masyarakat menyembunyikan penyakitnya karena takut kena Covid, takut dikucilkan masyarakat, takut tidak mendapatkan sertifikat vaksin dan lain-lain. Sebaiknya semua orang berfikir baik dan memenuhi syarat sebelum memutuskan divaksin, agar tidak terjadi hal yang tidak dinginkan.
  3. Vaksin Adalah Bagian Dari Konspirasi. Ada pemahaman bahwa ini adalah rencana kelompok tertentu yang ingin menguasai manusia. Dimana manusia akan tunduk terhadap mereka bukan kepada Tuhan lagi, karena perekonomian akan dipegang oleh kelompok itu. Well, sebaiknya fikirkan hal ini kembali, apakah sama seperti yang tertulis di kitab suci?. Dengan bertambah banyaknya korban yang meninggal, sebaiknya tak perlu terlalu jauh memikirkan hal yang kemungkinan lima puluh persenpun tidak sama. Fikirkanlah diri sendiri dan orang sekitar.
  4. Banyak Orang Yang POSITIF COVID Setelah Divaksin. Seorang ibu berkata kepada saya “Sehari setelah divaksin, teman saya positif, makanya saya tidak mau divaksin”, saya penasaran dan bertanya  “bagaimana dia tau dia positif?” Ibu itu menjawab “dia pergi swab antigen sehari setelah divaksin”, saya semakin penasaran dan bertanya lagi “kenapa dia pergi swab setalah divaksin?”, ibu itu menjawab ” katanya dia tidak enak badan, makanya dia memutuskan untuk swab”, saya menjawab dengan perasaan sedikit nano-nano “ibu sayang, seorang yang baru saja divaksin kemungkinan akan positif, karena dia telah terpapar sebelum divaksin. Vaksin berisikan virus spesifik yg dilemahkan agar imun bisa lebih optimal melawan virus yang masuk ke tubuh manusia”, “sebaiknya teman ibu itu fikir kembali, dia positif karena vaksin atau karena kelalaiannya sendiri” lanjut saya menjawab.

Lingkungan keluarga adalah tempat awal terciptanya pemikiran, apakah anak bisa berfikir terbuka akan sebuah perubahan atau menutup diri.

Namun apapun itu, sebaiknya siapappun itu tidak egois dengan pemahaman sendiri akan efek buruk jika divaksin, tetapi jika memilih tidak divaksin, walau memenuhi syarat, hendaknya menjauhkan diri dari orang yang telah divaksin.

Baca Juga :

  1. Hidup penuh pilihan dengan berfikir
  2. Dampak Hadirnya Covid-19