Mengapa PJJ Terasa Sulit Dilakukan Oleh Siswa (i)?

Sumber Gambar : istockphoto.com

Perubahan adalah hal yang tidak selamanya mudah diterima oleh siapapun. Terkadang orang harus membutuhkan waktu lama untuk bisa beradaptasi, namun tetap saja akan menggangu kebiasaan, terlebih lagi bagi mereka yang sukar keluar dari zona aman atau sukar menerima kenyataan.

Pandemi ini sangat mempengaruhi semua kalangan, hal ini juga terjadi kepada siswa (i) yang merasa masa muda mereka telah direnggut untuk tidak bisa bebas bersosialisasi seperti sebelum Pandemi.

Belum lagi masa-masa bersekolah tidak senormal seperti tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terasa berat, namun demi kebaikan bersama, mereka masih menaati protokol Covid-19 untuk selalu menjaga jarak dan lebih sering berada di rumah.

Untuk mencegah penyebaran virus, Pemerintah telah mengeluarkan aturan untuk melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Bagi orang dewasa, hal ini sangat baik, karna dapat memutuskan rantai penyebaran virus, tetapi bagi siswa (i) PJJ dilakukan hingga batas yang tidak menentu membuat mereka merasa jenuh.

Berbagai upaya telah disarankan dan dilakukan oleh Guru dan Orangtua, namun hal demikian tidak mengubah keinginan mereka untuk bertemu teman-teman mereka kembali. Belum lagi PJJ membuat mereka mengeluh dengan cara belajar yang tidak seperti yang mereka harapkan.

Untuk mengetahui hal ini, Penulis telah melakukan beberapa wawancara untuk mengetahui alasan mengapa PJJ terasa sulit mereka lakukan dalam waktu yang lama, dan berikut beberapa alasannya :

  1. Susah Mengumpulkan Mood Untuk Belajar. Belajar di rumah dan belajar di sekolah memang berbeda. Terlebih bagi mereka yang belum pernah belajar dari rumah sebelum Pandemi. Keadaan ini membuat siswa (i) merasa tidak ada yang mengontrol seperti di sekolah. Di rumah memang ada Orangtua siswa (i), tetapi tentu tidak bisa seperti cara Guru mengajar di sekolah. Berangkat dari rumah ke sekolah, siswa sudah tau akan belajar, namun di rumah, akan terasa sulit mengumpulkan semangat karena akan selalu ada hal yang membuat siswa (i) tidak begitu semangat belajar tanpa bimbingan Guru secara langsung.
  2. Di Rumah Tidak  Bisa Fokus. Di sekolah, siswa akan dihadapkan dengan kegiatan  di sekolah, seperti belajar, mengikuti kegiatan ekstra kulikuler dan begitu juga sebaliknya, di rumah, siswa akan melakukan kegiatan di rumah, seperti menonton tv, bermain bahkan membantu Orangtua. Pada saat siswa belajar atau mengerjakan tugas, pasti tidak akan 100 persen bisa diselesaikan dengan baik atau dengan kata lain, siswa susah untuk fokus, hal ini terjadi karena suasana yang berbeda, gangguan selalu terjadi, baik dari dalam diri siswa (i) itu sendiri juga gangguan dapat berasal dari luar.
  3. Berat di Fasilitas.  Tidak semua siswa (i) mampu. Peryataan ini bukan rahasia umum lagi. Walaupun siswa (i) memiliki smartphone, kuota tidak bisa selamanya mereka miliki. Menurut anak wali, terkadang mereka harus meminjam smartphone keluarga bahkan orang yang mereka tidak kenal hanya untuk foto hasil pekerjaan mereka kepada Guru. Hal ini patut diacungi jempol, karena hal demikian membuat mereka merasa memiliki tanggung jawab, namun perlu disadari bahwa tidak selamnya akan ada orang yang mau meminjamkan mereka smartphone atau wifi.
  4. Kurang Penjelasan. Belajar jarak jauh memang tidak seperti belajar di kelas, penjelasan melalui teknologi tidak selamanya memuaskan anak untuk bisa memahami materi. Beberapa Guru telah menyiapkan lembar kerja siswa (LKS) bagi mereka yang tidak memiliki fasilitas, namun tentu saja mereka membutuhkan penjelasan yang baik dan jelas secara langsung, agar mereka mampu mengerjakan tugas

Masa pertumbuhan anak sekolah susah untuk dikontrol atau diatur dalam waktu yang lama. Mereka memiliki hasrat untuk bersosialisasi dan mencari jati diri, namun dengan Pandemi ini sudah saatnya siswa (i) bisa mengontrol diri untuk bisa menahan diri untuk kepentingan bersama.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *