Merasa Dilema Memilih Kuliah Atau Bekerja

Sumber Gambar : pixabay.com

Kemarin, seorang alumni menghubungi saya dan menanyakan kabar sekolah lewat messager.

Sekarang dia sedang berada di Biak dan bekerja di perusahaan pamannya di bidang kontraktor.

Dia bekerja di bagian admintrasi dan kadang-kadang dia juga merangkap sebagai sebagai seorang pengawas.

Dari penjelasannya, jelas jika dia bangga menjadi seorang pekerja, namun dari lubuk hatinya, dia ingin berdikari.

Dia senang akan pekerjaannya, karena bayarannya dianggap sesuai. Menurutnya, dia beruntung karena nasibnya  berbeda dengan beberapa teman kelasnya yang katanya hanya mendapatkan upah di bawah upah minimum regional (UMR).

Dari pembicaraan kami, saya menyimpulkan bahwa besar keinginannya untuk kuliah. Saya bangga akan hal itu, karen memang saya selalu mengingatkan siswa (i) saya sejak awal-awal saya menjadi Guru untuk melanjutkan pendidikan suatu saat nanti jika sudah mendapatkan upah yang cukup untuk membiayai hidup dan membiayai uang kuliah.

Dari keinginannya, dia mendapat sedikit permasalahan, karena keinginanya tidak sepenuhnya didukung oleh keluarganya, dengan alasan pekerjaannya tidak akan maksimal jika dia kuliah dan bekerja.

Selain itu, dikawatirkan, beberapa proyek tidak akan terkoordinir baik, karena pemikirannya akan terbagi dua.

Dia berkata “mam, saya dilema ini” awalnya saya merasa sedikit lucu mendengar kata “dilema”, tetapi setelah mendengar penjelasannya saya berfikir bahwa kemungkinan besar, saya pun akan demikian jika saya berada di posisinya.

Bekerja adalah tahap yang diimpikan oleh hampir semua orang, khususnya bagi mereka yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan SMA/SMK Sederajat dan Perguruan Tinggi.

Bagi mereka yang berfikir masa depan dan kemandirian adalah hal penting, tentu akan memikirkan sesuatu yang mungkin orang anggap salah, karena keluar dari zona aman.

Zona dimana seseorang sudah merasa nyaman dengan keadaan yang sedang dirasakan, tanpa memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa mendatang.

Sejujurnya, saya sangat setuju jika, katakanlah “anak alumni” tersebut bekerja sambil kuliah.

Bisa dilihat seperti Pandemi saat ini. Tak sedikit orang gulung tikar, kehilangan pekerjaan karena tidak bisa eksis atau bertahan di masa Pandemi.

Atau dengan kata lain, tersingkir, karena Pandemi tidak mengizinkan pekerjaan atau usaha tersebut terus berjalan.

Hal ini bisa dibuktikan dengan keadaan sekarang.

Saya tidak enak untuk mengatakan sebaiknya pilih keduanya, namun dari penjelasan saya mungkin dia akan faham jika saya condong jika dia memilih kuliah sambil bekerja.

Tak apa jika kuliah sambil bekerja, namun akan mendapatkan upah yang minim dari upah sebelumnya, karena setelah kuliah, upah akan naik lagi, asal  tetap giat bekerja.

Bercermin dari para profesi pegawai negeri, tak sedikit dari pegawai yang meneruskan pendidikan mereka.

Dengan melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, pegawai berharap agar mendapatkan ilmu yang lebih untuk diaplikasikan dalam pekerjaan.

Begitu juga dengan para pegawai kantoran, pegawai bank, dan masih banyak lagi para pekerja yang berfikir untuk terus belajar demi mengasah ilmu.

Lalu bagaimana dengan mereka yang hanya lulusan SMA/SMK Sederajat?.

Jika memiliki kesempatan, peluang, mengapa tidak melakukannya?.

Mungkin ada yang berfikir. Apakah dengan melanjutkan pendidikan ketingkat berikutnya akan memperbaiki nasib?.

Nah, ini masalah jika hanya berfikir tanpa tindakan.

“Apakah orang bisa meraih impian tanpa kerja keras?”

“Apakah orang bisa mendapatkan sesuatu yang diinginkan tanpa usaha?”

Sama halnya dengan pendidikan.

Memang tak ada jaminan bahwa dengan melanjutkan pendidikan seseorang bisa sukses.

Semua kembali lagi pada pribadi orang.

Namun yang perlu diingat bahwa dengan melanjutkan pendidikan atau memiliki pendidikan yang lebih tinggi, seseorang sudah memiliki bibit untuk sukses.

Mengapa demikian?, karena pada saat kuliah mereka sudah terbiasa bekerja keras menyelesaikan tugas.

Mereka sudah mendapatkan ilmu untuk digunakan sebagai ancang-ancang melihat peluang.

Mereka sudah memiliki pemahaman yang lebih akan sebuah kasus atau masalah, karena sudah terbiasa belajar

Mereka memiliki pola fikir yang beda dari orang biasa.

Tetapi perlu diingat bahwa orang yang tidak memiliki pendidikan tinggi pun banyak yang sukses, mengapa?, karena mereka tidak berhenti belajar dan terus berusaha.

Baca Juga :

Jangan lupa kunjungi Del Channel Ok untuk melihat penjelasan materi bahasa Inggris.