Sekolah Yang Menyenagkan, Apakah Caranya?

Sumber Gambar : pixabay.com

Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) sedang gencar-gencarnya di gaungkan di dunia pendidikan.

Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) adalah gerakan ‘merdeka belajar’ untuk menciptakan budaya belajar yang kritis, kreatif, mandiri dan menyenangkan di sekolah.

Kiblat dari merdeka belajar adalah Ki Hadjar Dewantara, yang mana beliau memiliki konsep tentang pendidikan.

Konsep yang didasarkan pada asas kemerdekaan yang memiliki arti bahwa manusia diberi kebebasan  untuk mengatur kehidupannya, namun tetap sejalan dengan aturan yang ada di masyarakat. 

Dalam hal ini berarti siswa harus memiliki jiwa merdeka dalam artian merdeka secara lahir dan batin.

Jiwa yang merdeka sangat diperlukan sepanjang zaman agar bangsa Indonesia tidak didikte oleh negara lain. 

Pernyataan tentang tidak didikte oleh negara lain adalah bangsa Indonesia tidak dijajah selamanya, sehingga negara yang menjajah Indonesia saat itu tidak mengatur negera ini selamanya.

Namun, dalam artian semua anak berhak mendapatkan pendidikan atau merdeka belajar apapun yang mereka minati.

Melihat hal ini tentu peran sekolah sangat besar, dalam artian Guru.  Berpikir harus didahului oleh para guru sebelum  mengajar siswa (i).

Sebagai contoh, pemerintah telah menghapus ujian nasional (UN) dengan ujian assessment. 

Peran sekolah adalah memberikan keleluasaan kepada Guru untuk membuat soal sendiri dan mengukur kemampuan siswa melalui assessment.

Jika diingat kembali bahwa sebelum jargon Mentri pendidikan  diluncurkan, ujian nasional ditentukan oleh pusat. 

Segala sesuatu diatur oleh pusat, walau sebenarnya mengalami sedikit perubahan bahwa kelulusan juga di tentukan dari nilai raport dan sebagainya, namun tentu hal tersebut tetap tidak memerdekakan siswa seutuhnya. 

Cara Menjadi Sekolah Yang Menyenagkan

1. Hal ini dimulai dari pimpinan sekolah dengan mengakomodasi semua hal yang dibutuhkan oleh sekolah, mulai dari guru, fasilitas, pengajaran dan lain-lain.

Guru yang profesional dan didukung dengan fasilitas yang dibutuhkan seperti komputer, wifi adalah hal utama, khususnya saat Pandemi.

2. Guru diberikan kenyamanan tentu akan berimbas di ruang kelas, walau tidak sepenuhnya juga demikian, karena ada juga Guru yang memiliki prinsip mengutamakan siswa (i), walau menggunakan fasilitas seadanya.

3. Lingkungan yang nyaman, asri tentu akan membuat siswa nyaman untuk selalu berada si sekolah, bahkan sekolah yang nyaman akan selalu dirindukan oleh lulusaan.

4. Lingkungan yang kondusif juga mempengaruhi kenyamanan siswa. Prilaku harmonis antara sesama Guru dan pimpinan, Guru dan siswa  akan memberikan efek di dalam ruang kelas.

5. Disiplin sekolah yang tidak terlalu berlebihan juga penting. Satu peraturan sekolah yang cukup kontroversial dikalangan siswa dan Orangtua siswa dan selalu memunculkan masalah adalah ukuran panjang rambut siswa hanya 2 cm saja.

Banyak siswa yang meminta agar panjang rambut siswa minimal 3 atau 4 cm dengan alasan aturan 2 cm terlalu berlebihan.

6. Brand sebuah sekolah adalah kegiatan ekstrakurikuler. Dimana hal ini sering diperlombakan untuk melihat talenta siswa yang lain. 

Kegiatan ini selalu disambut gembira oleh siswa, khususnya permainan sepak bola, futsal, bola basket dan lomba karoke.

Jika ada perlombaan ini, tak jarang siswa (i) lupa belajar di kelas, saking inginnya mengikuti kegiatan extrakulikuler. 

Mengharapkan sekolah yang seutuhnya menyenagkan tentu tidak bisa, walau semua upaya telah dilakukan oleh semua pihak sekolah.

Mengapa demikian? ya kembali lagi, bahwa karekteristik siswa (i) berbeda-beda.

Baca Juga : 

  1. Jika tidak ada siswa bermasalah di sekolah, lalu bagaimana cara Guru meningkatkan mutu sekolah

Jangan lupa kunjungi Del Channel Ok untuk melihat penjelasan materi bahasa Inggris.