Kategori
Guru, Siswa dan Orangtua Siswa

Stop Jadikan Anak Seperti Katak Dalam Tempurung

Sumber Gambar : pixabay.com

Pendaftaran siswa baru untuk tahun ajaran 2020/2021 sedang berlangsung. Pendaftaran siswa baru kali ini cukup berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana rata-rata pendaftaran dilakukan secara online.

Tidak sedikit para Orangtua siswa berbondong-bondong mencari sekolah favourite untuk menyekolahkan anak-anak mereka dengan tujuan, agar kelak mereka menjadi kebanggaan keluarga bahkan negara.

Setiap melangkah ke tahap berikutnya, khususnya tentang memilih sekolah dan jurusan, selalu ada konflik kecil antara anak dan orangtua, dimana kadang keinginan anak tidak sinkron dengan keinginan orangtua yang kadang mengakibatkan percekcokan yang tidak wajar.

Semua orangtua pasti menginginkan yang paling terbaik untuk anak mereka, tetapi tidak jarang orangtua hanya melihat keinginan mereka, tanpa memikirkan passion anak. Sebaliknya, anak hanya ingin memilih sekolah atau jurusan yang mereka inginkan karena ikut-ikutan pilihan teman tanpa memikirkan talenta atau keterampilan dan citi-cita mereka sendiri.

Tidak sedikit siswa (i) yang malas belajar, tidak pergi sekolah karena mereka bersekolah di tempat dimana hati mereka tidak berada di sana. Ini sering terjadi, sehingga  tidak sedikit diantara mereka tidak naik kelas.

Ada juga siswa yang terpaksa mengikuti kemauan orangtua karena takut dipukul, takut tidak disekolahkan dan sebagainya yang akibatnya anak tumbuh dengan luka yang mendalam, sehingga menimbulkan traumatik yang walau dalam keadaan senang sekalipun, luka itu masih tersisa dan kerap muncul jika dihadapkan dengan situasi yang mirip seperti demikian.

Di lain sisi, ada juga siswa  menjadi malas belajar dan mendapatkan nilai dibawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM), karena pada akhirnya anak tersebut sadar bahwa bukan sekolah atau jurusan yang sedang diambil yang menjadi keinginan utamanya. Karena sudah salah memilih sekolah atau jurusan, akhirnya tidak serius dalam mengikuti pelajaran.

Dari kedua hal ini, yang paling sering terjadi adalah pilihan orangtua, karena orangtua lebih memiliki power daripada anak. Orangtua kadang tidak menempatkan posisinya sebagai sahabat, malah menyamakan dengan pengalaman hidup yang dulunya yang sering diatur oleh orangtua. Sebaiknya orangtua harus nyadari akan perbedaan zaman dulu dan zaman sekarang.

Otoriter. Ya, inilah yang dinamakan orangtua yang otoriter. Selalu mengambil keputusan termasuk menentukan pilihan sekolah atau jurusan sesuai kemauan sendiri tanpa ada diskusi, pemberian pandangan dan kepercayaan kepada anak.

Ada efek yang perlu disadari orangtua yang seakan-akan membuat anak bagaikan katak dalam tempurung, yaitu :

  1. Pemikiran Tertutup. Istilah bagai katak dalam tempurung adalah anak yang dibatasi. Anak tidak bisa menentukan pilihannya, walaupun anak memilih, orangtua yang memegang kendali atau memegang ekor, agar tidak jauh dari pantauan. Atau dengan kata lain, orangtua  ingin menentukan apa yang boleh dilakukan oleh anak. Hal ini dapat membuat batasan tertentu dalam pemikiran anak yang akibatnya anak bisa tertutup.
  2. Memiliki Rasa Traumatik. Anak yang dibatasi akan memberi efek buruk bagi dirinya. Terlebih lagi jika orangtua mengambil tindakan seperti memukul, mengancam tidak membiayai sekolah anak,  jika tidak patuh perintah orangtua. Anak seperti ini kerap merasa sedih. Jika hal seperti ini dibiarkan berlarut-larut terjadi, maka ada konsekuensi yang akan disesali oleh orangtua suatu saat nanti.
  3. Menjadi Penakut. Hal lain yang tak kalah sedihnya adalah karena anak dibatasi membuat anak menjadi penakut, takut mengambil keputusan hingga menjadi close minded. Tidak bisa melihat dunia luar. Kalaupun melihat hal lain atau hal baru, anak akan menjadi ragu, pesimis, sehingga salah dalam mengambil keputusan.

Setiap orangtua pasti ingin anak mereka berhasil, tumbuh menjadi generasi yang hebat. Hal demikian juga disampaikan oleh Sri Mulyani dihadapan para calon penerima beasiswa LPDP bahwa beliau tidak ingin generasi muda saat ini tumbuh sebagai generasi yang wawasannya kurang luas, bodoh, picik. Menurutnya orang seperti ini penglihatannya tidak luas, luasnya bagaikan luas tempurung.

 

 

 

 

Kategori
Guru

Tantangan Guru Di Era New Normal

Sumber Gambar: pixabay.com

Istilah “New Normal” sedang digembar-gemborkan selama hampir satu bulan ini. Bagaimana tidak, korban terus bertambah, pada hal Pemerintah sudah melakukan berbagai upaya secara optimal untuk menghentikan penyebaran Covid-19, tetapi penyebarannya tetap saja meningkat.

Dengan melihat faktor kemanusiaan, dimana banyak pekerja diberhentikan atau Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan faktor perekonomian, dimana keuangan negara mengalami defisit, maka Pemerintah berani mengambil keputusan tersebut. Hal ini mendorong pemerintah untuk terus berupaya dengan mengambil kebijakan agar masyarakat tetap bekerja dan menghasilkan, namun tetap melaksanakan protokol pencegaha Covid-19.

Sejak di keluarkan kebijakan tersebut, beberapa perusahaan-perusahaan, kantor-kantor kembali menggulung lengan baju untuk mengais rezeki dengan melakukan beberapa hal baru yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Sebagai contoh, pegawai biasanya bertransaksi secara lansung dengan konsumen, namun sekarang lebih banyak menggunakan pelindung diri sambil menjaga jarak.

Hal demikian juga berlaku bagi para Guru, dimana banyak hal yang harus diubah, baik dari metode mengajar, alat atau media mengajar, hingga perangkat mengajar, dalam hal ini RPP juga mengalami perubahan.

Sebelum Pandemi, beberapa peran Guru adalah  berada di ruang kelas atau di sekolah untuk menjelaskan materi dengan bertatap langsung dengan siswa, namun sekarang akan banyak perubahan dimana Guru tidak harus selalu bertatap langsung dengan siswa (i).

Proses Pembelajaran menjadi gagap sejak munculnya Covid-19. Dimana Guru dan siswa tidak mempunyai persiapan yang matang untuk mengajar dan belajar dari rumah. Hanya menggunakan kemampuan seadanya seperti mayoritas Guru menggunakan aplikasi Whatsapp dan demikian juga dengan siswa (i), namun juga masih terkendala masalah paket data.

Hal tersebut menjadi crusial, karena Guru mendapatkan sorotan tentang cara penilaian siswa (i) dan cara mengajar yang dianggap tidak terlalu efektif, belum lagi tentang masalah pembayaran uang SPP yang harus dibayarkan full.

“Maju kena, mundur kena”. Jika New Normal diberlakukan, Guru akan mengajar di sekolah, Para Orangtua siswa (i) kwatir jika anak mereka tertular Covid-19 yang bersumber dari teman-teman mereka atau bahkan dari Guru-guru, namun jika mereka belajar dari rumah, alasan tentang tidak adanya fasilitas anak akan muncul, sehingga membuat Guru binggung untuk menentukan tindakan berikutnya.

Adapun hal-hal yang bisa dilakukan dalam menghadapi tantangan Guru di era New Normal, yaitu:

  1. Guru Dituntut Ubah Konsep. Guru adalah mereka yang memfasilitasi transisi dari pengetahuan dari sumber belajar ke peserta didik, hal ini diungkapkan oleh Husnul Chotimah. Dalam keadaan yang tidak biasa ini, Guru harus tetap mampu memfasilitasi siswa (i) dari berbagai sumber pengetahuan. Guru bisa menggunakan cara atau metode berbeda seperti biasanya agar kiranya perubahan konsep mengajar tetap kena sasaran dengan baik.
  2. Kreatifitas Baru di Masa New Normal. Menitiberatkan bagaimana siswa (i) tetap merasa seperti belajar di dalam kelas adalah PR bagi Guru untuk membuat bahan ajar berupa video, atau membuat dalam bentuk Microsoft Word atau apapun yang seyogyanya mudah diakses oleh siswa (i). Tantangan bagaimana menyelesaikan solusi agar Guru tetap mengajar secara profesional adalah dengan menigkatkan kreativitas dalam menggunakan teknologi yang mudah diakses siswa (i), sehingga mereka juga bisa menyiapkan diri untuk tetap eksis dalam belajar, namun tetap mematuhi aturan.

Sebaiknya Pandemi dijadikan sebagai momentum untuk melakukan beberapa perubahan. Sebagai contoh, Guru yang sebelumnya tidak bisa menggunakan Laptop/PC, sekaranglah waktunya untuk meluangkan waktu mempelajari hal yang dibutuhkan saja, agar kiranya pembelajaran dari rumah tetap bisa terlaksana.

Guru adalah payung utama siswa, agar mereka tetap belajar, maka saatnya untuk merapatkan barisan mempersiapkan diri menghadapi cara mengajar baru di era New Normal.

 

 

Kategori
Ceritaku Siswa

Cubitan Guru Untuk Masa Depan Kalian

Sumber Gambar : pixabay.com

Tadi pagi secara tidak sengaja, saya berjumpa dengan sekelompok anak-anak muda yang awalnya saya tidak kenal, di depan sebuah kios. Mereka tersenyum dengan wajah yang ceria dan saya membalasnya dengan senyuman dan salam “selamat pagi” yang sebenarnya saya merasa kwatir saat itu.

Rasa kwatir, karena hati saya terus bertanya-tanya ‘ini siapa yah? kok senyam-senyum kepada saya?’ Namun dalam keadaan seperti itu saya terus berjalan masuk ke dalam kios dan membeli beberapa keperluan.

Pada saat saya di kasir, seorang diantara mereka berkata “bu, nanti saya yang bayar” serius, saya tambah merasa aneh. “tidak usah” ujar saya. “tidak apa-apa bu kebetulan uang sisa belanjaan saya masih ada” sahut anak muda tersebut, tetapi saya tetap kekeh ingin membayar belanjaan saya sendiri dan akhirnya saya berhasil meyakinkan anak muda tersebut.

Setelah saya selesai bertransaksi, saya bergegas keluar dari kios dan hendak menaiki motor yang saya tumpangi, namun seorang dari antara mereka mendekati saya dan berkata “mam, mam su sombong, sampe?” serius saya shock. Lalu saya fokus memperhatikan mata anak muda tersebut yang pada akhirnya saya turun dari motor dan mendekatinya.

“Astaga, ternyata kamu? Maaf, mam lupa nama, tapi mam ingat kamu” anak muda itu menjawab “trus mam tra kenal dorang ini?” saya perhatikan dengan baik dan ternyata mereka adalah lulusan dari sekolah dimana saya bertugas saat ini. “Ampun eee, ini kalian sekarang?, maaf mam sudah tidak begitu mengenal kalian, penampilan kalian sudah berbeda” “ah tra apa-apa, mam. Itu biasa” sahut salah seorang dari mereka.

“Lalu bagaimana kalian bisa ada disini” saya bertanya, “kitong bosan di rumah terus mam, mau pergi ke pantai, tapi tenang kitong akan jaga jarak dengan orang disana”. “ trus mam masih di tempat mengajar dulu?” Dia lanjut bertanya “iya” “kalian macam su hilang ditelan bumi kah, tidak pernah ada kabar” saya lanjut bertanya. “Maaf mam, kitong baru lulus kuliah tahun lalu dan sekarang su kerja di salah satu perusahaan di PNG” “Asli, kalian mantap, harus tetap semangat yah!”. “pasti mam” sahut beberapa dari antara mereka.

“Mam, terima kasih dulu su sering cubit kitong kalau malas belajar, berkata tidak baik ke teman dan berkelahi, mam pu cubitan itu yang bikin kitong begini” lanjut anak tersebut. “iya, sama-sama, itu sudah tugas kami Guru-Guru, mam juga berterima kasih, karena walaupun dulu kalian suka bikin gerakan tambahan, kalian masih bisa kontrol diri untuk mendengarkan teguran mam dan teguran Guru-guru lain di sekolah”.

Setelah hampir sekitar 20 menit kami bercakap-cakap dibawah pohon yang sedikit rindang,  kami meninggalkan tempat tersebut dengan rasa sedikit sedih, sedih karena kami tidak bisa saling bersalaman, tidak bisa leluasa berbicara. Semua itu kami lakukan untuk pencegahan Covid-19.

Saya merasa bangga kepada mereka, karena sejujurnya dulu, pada saat masih sekolah,  ada dua diantara mereka memiliki sifat nakal bahkan jarang ikut belajar di kelas, kegiatannya hanya bermain bola di lapangan, namun sekarang dia berhasil mengapai salah satu cita-citanya.

Ada sedikit pelajaran yang bisa diambil dari pertemuan tersebut, yaitu :

  1. Tak Ada yang Tau Masa Depan Seseorang. Siswa yang selalu taat saat ini, belum tentu sukses di masa mendatang dan sebaliknya. Semuanya berasal dari diri sendiri, Bagaimana seseorang mau memantaskan dirinya agar layak di mata keluarga dan masyarakat. Maka dari itu hendaknya selalu fokus akan cita-cita di masa depan, agar apapun yang dilakukan saat ini, tujuan masa depan tetap diutamakan.
  2. Ada Masa kalian Akan Terlihat Cantik atau Tampan. Anak-anak sekolahan yang memiliki sifat minder, karena tidak bisa memiliki baju, tas, sepatu yang bagus atau bahkan membeli bedak juga susah, karena tidak punya uang. Tahan, setelah lulus sekolah atau kuliah, bekerjalah maka kalaian akan melihat perubahan pada diri kalian. Trust me.
  3. Amarah Guru Mayoritas Untuk Kebaikan Kalian.  Siswa (i) yang kerap protes Guru karena sering marah, sebaiknya introfeksi diri. “ada asap, ada api” begitulah pribahasanya. Tidak mungkin Guru akan memarahi, mencubit, menegur kalian, jika tidak ada alasannya.

Demikianlah cerita saya hari ini, semoga bermanfaat untuk kita semua.

Kategori
Ceritaku Orangtua Siswa

Mentalitas Pemenang: Sulit, Tetapi Bisa

Sumber Gambar : pixabay.com

Kemarin, tepatnya kamis, 25 Juni 2020, Siswa (i) dimana saya mengajar menerima raport untuk melihat hasil belajar mereka selama satu semester, dari bulan Januari 2020  hingga Juni 2020. 

Penerimaan hasil belajar kali ini, sangat berbeda dari penerimaan semester sebelumnya. Pada tahun sebelumnya siswa (i) didampingi oleh Orangtua dan penerimaan  dilakukan di sekolah, namun tahun ini, penerimaan hanya dilakukan secara virtual.

Ada beberapa wali kelas, bahkan beberapa sekolah tetap melakukan penerimaan hasil belajar siswa (i) di sekolah, namun suasananya tidak sesakral seperti tahun-tahun sebelumnya.

Pada penerimaan raport semester ini, tak ada wajah-wajah yang tegang untuk menunggu dan melihat hasil belajar, tak ada wajah-wajah ceria bahkan tak ada amarah dari Orangtua siswa setelah melihat hasil belajar anak-anak mereka, malah yang ada hanya ungkapan terima kasih dengan wajah sedih, was-was, bahkan takut.

Hal ini terjadi karena semua orang masih dalam suasana  antisipasi diri agar terhindar dari Covid-19 dan cemas akan hari esok dimana tidak sedikit dari Orangtua para siswa (i) kehilangan mata pencaharian utama mereka karena Pandemi.

Saya teringat perkataan dari orang yang saya tuakan berkata bahwa “kecemasan hanya akan memperburuk keadaan termasuk kesehatan”. Orang yang terlalu memikirkan sesuatu akan mempengaruhi fikirannya dan akan terpampang jelas di wajahnya dan cendrung mengalami kegagalan, gagal dalam berbagai hal.

Dengan melihat pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa seharusnya jika ada sesuatu yang menganjal hati dan fikiran sebaiknya jangan terlalu difikirkan, karena keuntungannya tidak ada. Bukankah kita hidup supaya memperoleh banyak keuntungan? Walaupun kesusahan sering dihadapkan kepada kita, mengapa kita tidak beradaptasi saja. Bukankah itu pilihan satu-satunya?

Menjadi kuat dalam keadaan susah adalah hal yang baik  untuk menghasilkan mental sebagai pemenang. Seorang pemenang bukan dinilai dari seberapa sukses dalam hal materi saja, tetapi seberapa hebat orang tersebut menang atas keadaan yang membuat diri merasa down.

Memiliki mentalitas pemenang memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi jika diupayakan pasti bisa.

Berikut beberapa hal yang perlu diketahui tentang mental seorang pemenang.

  1. Optimis. Mendoktrin diri sendiri untuk selalu berupaya memikirkan hal yang baik, walau dalam keadaan susah sekalipun adalah salah satu terapi yang baik, karena kemungkinan besar akan baik jika terus diupayakan dengan baik, sebaliknya, jika memikirkan sesuatu yang tidak baik maka hasilnya tidak baik. Pilih yang mana? Tetap optimis yah  buibu.
  2. Jatuh, Bangkit Lagi, Repeat. Well, semua manusia akan menghadapi masalah, termasuk masalah global yang sedang terjadi saat ini. Tetapi mari bercermin kepada orang yang sukses, tidak hanya sukses dalam hal materi, tetapi juga sukses dalam hal menghadapi setiap problema hidup. Rata-rata orang sukses bangkit setelah jatuh, lalu ulang lagi. Orang yang sukses saja atau istilah lain, orang yang sudah menuai masa keemasan tetap akan berhadapan pada masa dimana dia jatuh, namun apa yang rata-rata mereka lakukan? Bangkit. Terus dan terus seperti demikian.
  3. Selalu Mencari Peluang. Para moms and dads yang sedang pusing berat di masa Pandemi ini, terutama memikirkan pendapatan agar tetap menjadi Orangtua yang hebat bagi anak-anaknya, yuk cari peluang. Peluang halal yang menghasilkan uang tambahan. Berhenti membuat diri tertekan oleh karena keadaan. Apapun yang penting berkah. Mengapa tidak menggunakan peluang di masa ini seperti jualan online, menawarkan jasa, atau apapun yang menghasilkan.

Saya juga teringat dengan kalimat motivasi yang pernah saya dengar yaitu “tetaplah tersenyum karena tersenyum adalah obat lelah” jadi jika sedang lelah memikirkan masalah, tetaplah tersenyum sambil beradaptasi, sehingga menjadi pemenang yang selalu BISA, walau sesulit apapun keadaan itu.

 

 

Kategori
Orangtua Siswa Siswa

Betapa Pentingnya Kewirausahaan

Sumber Gambar : pixabay.com

Berwirausaha walau sudah menjadi Pegawai Negeri atau sudah menjadi seorang Karyawan merupakan sebuah tantangan yang patut untuk dilakukan, bagaimana tidak, jika diamati, rata-rata orang sukses (orang berada) adalah orang-orang yang berwirausaha.

Bagi para pekerja tetap biasanya mempercayakan bisnis dikelola orang lain agar pekerjaan bisa berjalan bersamaan adalah keputusan yang tepat. Tentu orang yang seperti ini adalah orang-orang yang selalu berfikir maju disertai jiwa optimis dalam berkerja atau berwirausaha.

Kegiatan ini tidak selamanya membutuhkan modal besar, beberapa orang justru berhasil karena berawalkan dengan modal kecil, diantaranya katering rumahan, desain grafis, jualan aneka minuman, makanan ringan atau dagangan kios, jasa cuci motor atau cuci mobil dan lain-lain.

Biasanya, awal pemasaran dilakukan kepada orang terdekat, apakah keluarga, tetangga atau rekan-rekan kerja. Beberapa orang memberikan layanan diskon untuk menarik peminat, namun langsung melebel diri dengan pelayanan prima agar peminat bisa semakin bertambah.

Mengingat betapa pentingnya berwirausaha, president Joko Widodo konsisten mendorong masyarakat untuk berwirausaha guna menciptakan lapangan pekerjaan baru. Hal ini sangat bermanfaat mengingat program seperti ini dapat mengurangi pengangguran di Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan memperkenalkan kewirausahaan di sekolah-sekolah.

Berwirausaha dapat diperkenalkan kepada anak usia dini, yang tujuannya agar anak tumbuh menjadi kreatif dan produktif. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk berkreasi serta memberikan contoh bagaimana menghasilkan sesuatu, lalu bisa dijual, seperti membuat kue, membuat anyaman, membuat rajutan, mendaur ulang, menawarkan jasa dan lain-lain.

Siswa Sekolah Menengah Atas dan siswa Sekolah Menengah Kejuruan sudah diajarkan pelajaran kewirausahaan,  yang tujuannya adalah agar siswa (i) memiliki jiwa berwirausaha yang  berkreasi kreatif di masa mendatang.

Siswa lulusan SMA/SMK sederajat tidak semua melanjutkan kuliah, sebagian ada yang mengikuti kursus atau pelatihan untuk bekerja di sebuah perusahaan, ada juga yang bekerja dengan gaji minim di sebuah toko, warung atau mall dan tidak sedikit dari antara mereka ada yang belum siap untuk melakukan apapun dan juga karena belum ada peluang untuk bekerja.

Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, namun karena sudah berbekal pelajaran wirausaha, dimana siswa (i) telah diajarkan membuat atau menciptakan  sesuatu atau karya, mengapa tidak mencoba mengimplentasikannya? Jika tidak merasa gengsi, tindakan ini bisa dijadikan penghasilan  sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan. Jika melihat orang disekeliling kita, Salah satu pekerjaan alternatif orang-orang sebelum mendapatkan pekerjaan tetap adalah berwirausaha. Kegiatan ini sangat membantu karena dapat menyokong kebutuhan hidup.

Ada istilah “yang muda yang berkarya” ini kesempatan besar bagi siswa yang telah lulus, namun belum mendapatkan pekerjaan atau sudah menjadi karyawan, namun ingin menjadi bos, yang minimal menjadi bos untuk diri sendiri.

Bagi anak sekolah yang baru saja lulus, namun tidak melakukan apapun atau yang sedang kuliah, tetapi kreatif, waktunya  mempersiapkan diri  berlabel pengusaha, jangan hanya menunggu menjadi Pegawai saja atau bersedia menjadi bawahan, tetapi membuka lapangan pekerjaan dengan semangat yang besar, sebenarnya tidak kalah hebatnya dengan mereka yang bekerja sebagai pegawai. Carilah atau ciptakanlah peluang, jangan hanya menjadi penonton saja.

Ciptakanlah sesuatu walau dimulai dengan modal kecil atau tanpa modal seperti usaha jasa. Pekerjaan jikalau ditekuni akan membuahkan hasil yang luar biasa, walau harus melalui proses panjang. Bercerminlah kepada orang yang sudah kaya, namun masih bekerja keras agar tetap eksis, lalu mengapa  kalian yang tidak seperti mereka hanya bermalas-malasan dan parahnya, malah menunggu menjadi bawahan saja?

Kategori
Guru

Guru Abad 21, Melek Teknologi.

Abad Teknologi. Yah ini adalah gambaran abad 21 dimana di hampir segala sektor di dunia ini didominasi oleh teknologi, sehingga informasi bisa diperoleh secara mudah.

Abad 21 adalah tahun kelahiran 2001 hingga 2100, setiap satu abad terdiri 100 tahun. Siswa (i) kelahiran 2001 adalah anak-anak yang dekat dengan teknologi, dimana mereka bisa belajar menggunakan komputer, laptop, smartphone, secara otodidak. Hal ini kita bisa perhatikan anak-anak di lingkungan kita yang begitu telaten mengoperasikan teknologi tanpa harus diajari secara perlahan-lahan.

Siswa (i) abad 21 adalah anak-anak yang cerdas dan memiliki karakteristik berbeda dari anak-anak abad sebelumnya. Siswa (i) abad 21 lebih produktif, berfikir kritis, berani berbicara, lebih kreatif dan inovatif. Hal ini mendorong guru untuk bisa beradaptasi dengan mereka agar terus belajar, karena tidak mungkin Guru berkemampuan abad 20 mengajar siswa abad 21.

Ada beberapa hal yang harus Guru diketahui, agar mampu menghadapi siswa (i) abad 21, yaitu:

  1. Peka Terhadap Perubahan. Guru adalah pembelajar yang terus mengupdate atau mengembangkan ilmunya. Sebagai contoh: Kurikulum selalu berubah, mengapa demikian? yap, hal ini terjadi karena pendidikan mengikuti perkembangan. Sangat tidak mungkin jika siswa (i) yang familiar dengan teknologi, namun selalu dibatasi ruang geraknya dalam menggunakan teknologi di sekolah dengan alasan Guru tidak bisa menggunakannya. Well, agar tidak tertinggal, Guru harus terus belajar agar tidak menjadi bahan tertawaan siswa(i) karena GAPTEK.
  2. Guru Kreatif dan Inovatif. Guru kreatif dan inovatif adalah Guru yang memiliki nilai tersendiri di mata siswa (i). Mereka memiliki rasa ingin tau yang besar, sehingga, Guru yang seperti demikian akan memberikan pengaruh besar bagi mereka, salah satunya adalah siswa (i) bisa menjadi kreatif dan inovatif, sehingga mereka bisa menjadi lulusan yang memiliki bekal untuk bersaing di dunia industri.  Salah satu contoh kegiatan pembelajaran yang kreatif adalah Guru meminta siswa merekam suara mereka sendiri  yang sedang bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris dengan partner yang sudah ditentukan, lalu mengirimkannya kepada Guru melalui aplikasi yang ditentukan.
  3. Guru Adalah Pengajar Sepanjang Masa. Guru adalah teladan yang takkan bisa tergantikan oleh teknologi. Secanggih apapun teknologi, Guru adalah manusia yang bisa memberikan teladan yang baik intuk siswa (i), oleh karena itu Guru harus terus berupaya, agar selalu menjadi pengajar yang minimal sama hebatnya dengan apapun. Ada banyak cara yang bisa dilakukan agar tidak tertinggal dari setiap perubahan, solusinya adalah terus belajar.
  4. Familiar Dengan Berbagai Aplikasi. Salah satu cara agar proses belajar berjalan dengan baik adalah mengajar dengan menggunakan alat dan media  ajar yang tepat, dimana pada saat mengajar Guru menggunakan aplikasi smartphone yang lazim digunakan oleh siswa (i). Contoh aplikasi JOOX, U-Dictionary, ZOOM dan lain-lain. Ini bukanlah hal yang terlalu rumit, karena mayoritas Guru aktif di dunia maya yang secara tidak langsung dapat melihat peluang untuk mengetahui banyak hal, sehingga Guru dapat memiliki referensi dalam mengajar dan mendidik siswa (i).
  5. Sikap Profesional Berkembang Secara Berkesinambungan. Profesional adalah salah satu kompetensi yang harus dimiliki Guru selain kompetensi Pedagogik, kompetensi Kepribadian, kompetensi Sosial. Ciri Guru profesional adalah Guru yang menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran dengan tujuan materi yang diajarkan mudah dimengerti oleh siswa (i). Dalam penggunaan teknologi seperti smartphone, tentu harus dilakukan pengawasan agar siswa (i) dapat menggunakannya dengan bijak.

Kategori
Ceritaku Orangtua Siswa Siswa

Hikmah Hadirnya Covid-19

Sumber Gambar : pixabay.com

Kemarin, tepatnya hari senin, 22 Juni 2020,  saya mengadakan meeting melalui aplikasi ZOOM dengan anak wali saya untuk memastikan mereka dalam keadaan  baik-baik saja dan sekaligus memberikan informasi penting seputaran kegiatan dan administrasi  sekolah.

Sebenarnya, kami sering berkomunikasi melalui grup Whatsapp dan telfonan secara individual,  bagi yang tidak memiliki paket data dan tidak memiliki smartphone, namun hari itu saya ingin sekali melihat langsung dan memberikan beberapa pertanyaan mengenai tugas online dari beberapa Guru mata pelajaran.

Dengan berjalannya waktu, saya memperhatikan mereka sangat gembira,  alasannya karena mereka bisa berkumpul lagi dengan teman kelas mereka dengan jumlah yang agak banyak, walau secara virtual.  Biasanya  hanya 3-4 siswa saja melalui aplikasi lain.

Pada saat saya menjelaskan, saya memperhatikan mereka begitu antusias bisa saling berinteraksi satu dengan lainnya. Mereka saling melepas rindu, karena sudah sekian lama, mereka tidak bisa berjumpa satu dengan yang lain.

Pandemi ini sangat mempengaruhi perkembangan mereka, bagaimana tidak, biasanya mereka memiliki hari libur hanya beberapa hari dan paling lama dua minggu saja, dan walaupun libur mereka masih bisa bertemu  di luar sekolah, namun sekarang, karena Pandemi, hampir 3 bulan mereka  tidak bersua sama sekali, sehingga menyisakan sedikit sedih di hati mereka.

Di usia mereka yang saat ini, yang  sedang mengalami masa pertumbuhan, dengan terpaksa, mereka  mematuhi peraturan untuk stay at home. Tindakan ini sangat tepat, dan keadaan yang mereka alami saat ini akan menjadi cerita  pada saat mereka berusia lanjut nanti.

Hal yang menggelitik hati saya adalah, ekspresi mereka. Kita bisa bayangkan jika lama tidak berjumpa dengan teman-teman yang selalu bersama-sama dengan kita dan tidak bisa  bergaul dengan teman baru juga, pasti akan terasa sedih. Yah. Sedih.

Sangat mengharukan, di masa pertumbuhan, mereka yang tidak bisa berinteraksi secara leluasa, tidak bisa mengenal teman baru bahkan jika diberlakukan New Normal, mereka juga harus tetap menjaga jarak.

Namun ada hikmah yang bisa diambil oleh Siswa (i)  dari kehadiran Covid-19 yaitu:

  1. Menyadari Arti Sebuah Pertemanan. Gurih-gurih sedap, kata orang begitu. Friend is life sometimes, tetapi juga teman-teman bisa menjadi bencana jika siswa tidak bisa mengontrol diri. pada saat merasa sedih, binggung biasanya siswa (i) bercerita kepada teman, jalan-jalan dengan teman, belajar bersama-sama, bercanda gurau,  namun semua itu berubah drastis. Kiranya dengan hadirnya Covid-19 yang telah merubah banyak hal akan membuat siswa semakin tau arti dari pertemanan.
  2. Betapa Pentingnya Menggunakan Waktu. Sebelum Pandemi, tidak sedikit siswa (i) suka bermalas-malasan dengan menunda-nunda waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas. Dengan adanya pencegahan penularan virus yang mengharuskan semua orang lebih banyak di rumah dan menjaga jarak, membuat siswa (i) merasa bahwa membuang waktu untuk tidak belajar dan memelihara sifat malas akan merugikan diri sendiri.
  3. Menyadari Akan Sebuah Pengorbanan. Mengikuti aturan untuk menjaga jarak akan membuat siswa (i) merasa sedikit merasa bersedih. Berkorban untuk kebaikan semua orang sangat penting dengan menskip moment tertentu di usia muda, seperti belajar bersama di sekolah, mengikuti kegiatan lain di luar sekolah, merayakan lebaran sendiri-sendiri, mengerjakan tugas secara mandiri selama 3 bulan yang biasanya kerja sama, dan terima raport tanpa bersua.

Demikianlah penjelasan beberapa hikmah dengan hadirnya Covid-19 di tengah-tengah masyarakat. Kiranya kejadian ini tidak membuat siapapun merasa menyerah dengan keadaan, akan tetapi dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian. Tetap semangat.

 

 

 

 

 

 

Kategori
Orangtua Siswa Siswa

Juara Kelas Tidak Menjamin Kesuksesan Di Masa Mendatang

Sumber Gambar : pixabay.com

Menjadi sang juara adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Berjuang bersusah payah dan akhirnya dihadiahi predikat juara akan membuat rasa lelah terbayarkan dengan setimpal.

Juara kelas adalah impian setiap siswa (i) dan dambaan setiap orangtua, dimana orangtua berharap kelak anak-anak mereka menjadi sukses dan menjadi kebanggaan keluarga.

Defenisi kesuksesan berbeda-beda, tetapi pada umumnya defenisi kesuksesan adalah situasi dimana seorang anak bisa mandiri, bisa membiayai hidup sendiri, bisa membeli sesuatu yang diinginkan walau mungkin harus dicicil, bisa membantu oranglain dari hasil kerja keras suatu saat nanti  dan sebagainya.

Masa depan adalah misteri, begitulah kata-kata orang bijak, tak ada yang tau, apakah suatu saat siswa yang sering juara kelas akan menjadi sukses dan siswa yang biasa-biasa saja tidak. Tak ada jaminan, namun para orang-orang  tua dulu sudah memberikan gambaran untuk melihat ciri-ciri calon orang yang sukses suatu saat nanti.

Siswa yang memiliki semangat belajar yang tak pernah putus, tekun dalam bekerja, sabar dan memiliki prinsip hidup adalah beberapa ciri-ciri siswa yang kemungkinan besar akan sukses. Tidak sedikit siswa yang berasal dari keluarga biasa, mendapatkan nilai standar di kelas pada saat masih sekolah, namun sukses pada saat dewasa, sebaliknya, pada saat masih sekolah, selalu mendapat juara kelas, kebanggan orangtuanya yang selalu dipuja-puja karena pintar, namun pada saat dewasa,  hanya menjadi bumerang untuk keluarga dan masyarakat.

Sebenarnya, apa alasannya sehingga juara kelas tidak menjamin kesuksesan di masa mendatang? Ini mungkin menjadi pertanyaan besar, dan berikut penjelasannya :

  1. Memiliki Sifat Manja. Pernakah anda melihat orangtua yang selalu mengagung-agungkan anaknya?, supaya dikatakan anak yang hebat orangtua rela melakukan apapun agar anaknya mendapatkan apapun yang anaknya inginkan, seperti masuk sekolah bergengsi, masuk universitas dan jurusan bergengsi dengan membayar bukan karena prestasi. Orangtua yang baik adalah orangtua yang memberikan kasih sayang untuk anak-anaknya, tetapi tidak sedikit orangtua yang sudah salah dalam mendidik anaknya hanya karena terlalu sayang kepada anak. Tidak sedikit anak yang manja gagal meraih cita-cita orangtua selalu mengikuti kemauan anak yang mengakibatkan anak menjadi malas, malas berfikir, malas berusaha bahkan malas bekerja.
  2. Terlalu Percaya Diri. Siswayang pintar pada umumnya memiliki rasa percaya diri yang tinggi, dan hal ini sangat baik, namun apa akibatnya jika siswa (i) yang sudah pintar, rajin, namun memiliki sifat yang terlalu percaya diri. Biasanya siswa yang seperti ini cepat merasa down pada saat menemui kegagalan.
  3. Pergaulan yang Salah. Mungkin siswa (i) sering dinasehati untuk tidak sembarangan bergaul. Ini  tidak salah, namun tidak sepenuhnya benar. Bergaul dengan siapa saja boleh, tetapi harus bisa mengontrol diri, membatasi diri agar tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak baik. Banyak bergaul akan membawa banyak peluang. Peluang tidak hanya berasal dari orang pintar, keluarga kaya, akan tetapi bergaul dengan siapa saja yang menurut diri nyaman. Banyak teman akan membukakan banyak kesempatan.

Siswa bisa menciptakan masa depan dengan berusaha di masa kini. Tak perlu minder karena mungkin berasal dari keluarga miskin, broken home, bekerja sebagai pembantu untuk membiayai sekolah, sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk belajar dan tidak memiliki fasilitas yang cukup untuk belajar, namun yang terpenting adalah tetap belajar, berusaha memiliki keterampilan dan kerja keras agar tidak menjadi orang susah sepanjang hayat.

Bagi siswa (i) yang selalu juara kelas, tetaplah berusaha, jangan berhenti belajar. Ingat diluar sana, ada banyak pesaing. Pesaing tidak hanya orang yang pernah juara kelas, tetapi pesaing yang memiliki banyak kesempatan untuk sukses, bahkan ada juga pesaing sukses karena faktor keberuntungan. Belajar tidak hanya dari materi Guru, tetapi segala sesuatu yang ada di sekitar kita adalah Guru kita, jadi tetap giat belajar.

Kategori
Guru

Penilaian Tingkat Keberhasilan Guru

Menjadi seorang Guru harus melewati tahap-tahap yang tidak mudah, selain harus memiliki izasah strata satu (S1), juga harus memiliki sertifikat pendidik yang semua itu membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Belum lagi, jika ingin lulus sertifikasi sebagai Guru profesional untuk mendapatkan tunjangan profesi, Guru harus mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) selama hampir satu bulan dan Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk guru honor berlangsung selama satu tahun, itupun jika memenuhi kriteria untuk lulus, jika tidak, maka Guru harus mengulanginya kembali.

Pada saat sudah menjadi Guru, Guru akan berupaya untuk menjadi profesional, dimana Guru profesional adalah Guru yang memiliki kemampuan tinggi dalam memahami dan mengelabobasikan materi serta bertanggung jawab penuh atas tugas sebagai seorang pendidik.

Tugas Guru adalah mendidik, melatih dan mengajar. Mendidik siswa (i) untuk menanamkan  norma-norma kehidupan sekaligus menjadi role model dan motivator, sehingga mereka memiliki bekal hidup. Melatih siswa (i) adalah untuk membantu siswa mempersiapkan diri agar memiliki keterampilan. Mengajar siswa (i) adalah membimbing siswa untuk memahami materi yang diajarkan. Hal serupa juga tertuang dalam  Permenpan dan RB no.16 tugas pokok Guru adalah menyusun program pembelajaran, melaksanakan program pembelajaran, melaksanakan evaluasi pembelajaran dan melakukan analisis dan tindak lanjut hasil pembelajaran,

Setelah Guru melaksanakan tugas dengan baik, maka akan ada penilaian, penilaian untuk mengukur seberapa profesionalnya seorang Guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. Ada banyak tolak ukur untuk menentukan keberhasilan seorang Guru, yaitu berdasarkan sikap dan perilaku anak-anak siswa (i), berdasarkan rancangan pembelajaran yang tertuang dalam Perangkat Pengajaran, berdasarkan cara mengimplementasikan hasil rancanagan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), dan berdasarkan pelaksanaan penilaian.

Namun, ada juga tolak ukur untuk menentukan penilaian tingkat  keberhasilan seorang Guru, yaitu:

  1. Seberapa Banyak Siswa Bisa Memahami Materi yang Diajarkan. Sangat tidak asing pernyataan siswa demikian “bapak/ibu itu pintar, selalu juara, lulusan magister dan sukses dalam usahanya, namun saya tidak mengerti jika dia menjelaskan materi” Banyak orang bisa menjadi Guru, tetapi sedikit orang yang memiliki keterampilan mengajar dengan baik. Memperoleh banyak ilmu dari berbagai sumber, bukan berarti sudah memiliki keterampilan mengajar. Guru yang berhasil adalah Guru yang mampu membuat mayoritas siswa (i) mengerti pada saat materi diajarkan.
  2. Seberapa Banyak Siswa yang Mendapatkan Nilai Diatas Standar. Tingkat keberhasilan Guru dapat dilihat dari seberapa banyak siswa yang mendapatkan nilai diatas standar. Jika lebih banyak yang tidak lulus atau tidak mencapai kriteria ketuntasan minimum (KKM) berarti Guru tidak berhasil.
  3. Seberapa Besarnya Kesabaran Guru Membimbing Siswa (i) yang Bermasalah. Tidak sedikit Guru mengeluhkan tentang kenakalan siswa (i), ada siswa yang malas mengikuti pelajaran karena faktor lingkungan atau faktor keluarga, ada siswa yang selalu menggangu temannya pada saat sedang belajar, ada siswa yang suka mengabaikan penjelasan Guru, dan lain-lain. Guru yang berhasil adalah Guru yang mampu membuat siswa (i) bermasalah menjadi pribadi yang lebih baik, sehingga kebiasaan buruknya bisa sedikit demi sedikit berubah. Mengharapkan siswa (i) cepat berubah memang sukar, karena karakter memang tidak mudah dirubah secara instant, diperlukan waktu agar mereka bisa sadar, namun yang terpenting adalah mereka tetap mengikuti pelajaran walau hasilnya belum terlalu memuaskan. Perlu disadari bahwa siswa memang nakal jika tidak nakal berarti bukan siswa namanya, maka disitulah tugas Guru untuk membimbing, mendidik bukan hanya memberikan nilai kurang.  Jika guru sudah menemui jalan buntu  dan siswa bermasalah tidak bisa ditolerir, maka Guru bisa melakukan koordinasi agar siswa (i) tersebut ditindaklanjuti melalui prosedur sekolah.

Hal sama juga terjadi kepada para pekerja lainnya, jika pemasukan dalam sebuah kantor atau perusahaan minim atau menurun, berarti mereka kurang atau tidak berhasil sebagai pekerja yang profesional, begitupun dengan Guru, jika banyak siswa tidak naik kelas, maka Guru dan wali kelas gagal, jika banyak siswa yang tidak lulus sekolah berarti sekolah (Guru-Guru dan Pimpinan) dianggap tidak berhasil.

Kategori
Orangtua Siswa Siswa

Alasan SPP Harus Tetap Dibayar Selama Masa Pandemi.

Sumber Gambar : suretindomu.com

SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) adalah dana yang harus dibayar oleh Orangtua siswa atau Orangtua  mahasiswa sebagai bentuk kewajiban. Di sekolah atau kampus, siswa atau mahasiswa mendapatkan hak untuk belajar dan mengali ilmu dari tenaga pengajar, oleh karena itu Orangtua harus membayar kewajiban  untuk mendukung  kegiatan sekolah atau kampus.

Biaya kegiatan sekolah bermacam-macam, ada biaya untuk Guru honor, biaya untuk petugas kebersihan dan keamanan sekolah,  biaya untuk kegiatan OSIS, biaya untuk kegiatan Kepramukaan, biaya konsumsi untuk rapat dinas, biaya pengandaan dan lain-lain. Selama Pandemi kegiatan OSIS dan Kepramukaan sama sekali ditiadakan, tetapi kegiatan yang lain masih berjalan dan membutuhkan dana.

Ada yang bertanya tentang dana BOS yang jumlahnya besar, diapakan saja? Nah ini yang harus dipahami bahwa untuk penggunaan dana BOS tidak sembarangan, karena ada alokasi penggunaanya tersendiri dan jika digunakan diluar dari ketentuan, maka hal demikian akan diaggap sebagai penyelewengan dana. Untuk diketahui bahwa setiap sekolah selalu diaudit oleh tim khusus dari dinas dan pusat untuk mengawasi penggunaan dananya. Contoh penggunaan dana BOS adalah biaya untuk renovasi sekolah, biaya perbaikan ruang kelas, bangku, meja, alat praktek, biaya listrik, biaya air, dan lain-lain.

Lalu, ada juga Orangtua siswa bertanya “apakah meja, kursi, alat praktek, ruang kelas selalu diperbaiki atau selalu rusak?” Sebaiknya Bapak/Ibu bisa menjawab sendiri. Apakah meja dan kursi di rumah akan mudah rusak jika digunakan lebih dari 20 anak? Apakah permainan anak Bapak/Ibu di rumah selalu awet, apalagi jika digunakan oleh banyak anak?.

Anggapan miring juga terus bermunculan selama Pandemi, siswa belajar dari rumah sehingga mau tidak mau Orangtua berperan untuk mengambil alih sebagian besar tanggung jawab Guru untuk mendidik  siswa (i), sehingga beranggapan bahwa karena siswa lebih banyak dibimbing oleh Orangtua dari pada Guru, maka SPP seharusnya dikurangi atau dihapuskan. Isu ini cepat berkembang dikalangan para Orangtua yang mendorong mentri pendidikan memberikan klarifikasi bahwa SPP tetap harus dibayar.

Agar  Para Orangtua siswa (i) lebih memahami mengapa SPP tetap harus dibayar selama pandemi, maka berikut pemaparannya :

  1. Kegiatan Proses Belajar Mengajar Tetap Berlangsung. Study from home untuk siswa dan work from home untuk Guru. Dari kalimat ini sudah jelas bahwa kegiatan masih sama seperti kegiatan sebelum Pandemi, berarti hak siswa masih diberikan. Begitu juga dengan pengambilan penilaian yang masih bagian dari KBM, selama KBM  masih berlangsung, penilaian juga tetap ada, walau Guru mengalami sedikit kesulitan karena pengambilan nilai karakter melalui online, tetapi Guru menggunakan referensi penilaian karakter siswa sebelum belajar di rumah. Hal ini jelas bahwa yang menentukan nilai siswa (i) dan diakui di raport adalah nilai dari Guru bukan nilai dari Orangtua siswa (i).
  2. Segala Bentuk Administrasi dari Tata Usaha Tetap Berjalan. Penulisan dan penerbitan raport dan Izasah tetap ada, baik legalisir izasah, kegiatan surat menyurat, maupun urusan keperluan Guru-Guru. Untuk kelangsungan kegiatan sekolah juga tetap ada, berarti urusan kewajiban administratif siswa (i) juga harus tetap ada, karena semua kegiatan di sekolah membutuhkan dana, baik dari dana biaya operasi sekolah maupun dari dana sumbangan pembiayaan pendidikan.

Perlu disadari bahwa tujuan kegiatan belajar dari rumah adalah untuk melakukan pencegahan penyebaran virus Covid-19, oleh karena itu,  pihak sekolah melalui Guru-Guru mata pelajaran dan wali kelas tetap melakukan pemantauan agar siswa (i) tetap belajar seperti biasa, walau secara virtual. Ini berarti pemberian hak untuk siswa (i) tetap ada, berati Orangtua  harus tetap melaksanakan kewajiban.